Polisi Tuban Usut Dugaan Makam Palsu di Area Makam Sunan Bonang, Nama Habib Husain Ba’agil Jadi Sorotan
Aliansi masyarakat yang menamakan diri Aliansi Umat Peduli Mbah Sunan Bonang menggelar aksi damai di depan Polres Tuban. Mereka terdiri dari berbagai organisasi, mulai dari PWILS, FKPP, Jaringan Umat Peduli Cagar Budaya, Pemuda Anti Korupsi Tuban, hingga sejumlah yayasan pendidikan Islam dan komunitas masyarakat lainnya.
Dalam aksi tersebut, mereka menyampaikan tuntutan agar aparat penegak hukum mengusut tuntas dugaan perusakan situs budaya dan dugaan pemalsuan makam di kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat ziarah wali terbesar di Indonesia.
Polemik Makam Palsu Sunan Bonang Viral di Media Sosial
Kasus ini mulai ramai diperbincangkan setelah muncul video dan pernyataan di media sosial TikTok yang menyinggung soal makam palsu di area kompleks Makam Sunan Bonang. Dalam pernyataan yang beredar, disebutkan adanya tantangan dan klaim mengenai keberadaan makam yang dianggap tidak autentik.
Sejumlah tokoh masyarakat dan pegiat budaya kemudian menanggapi pernyataan tersebut. Mereka menilai isu tersebut memicu keresahan masyarakat, khususnya warga Tuban dan para peziarah yang selama ini menghormati situs Sunan Bonang sebagai bagian penting sejarah Islam Nusantara.
Menurut perwakilan massa aksi, polemik ini sebenarnya telah dipendam selama bertahun-tahun. Mereka mengaku mulai curiga sejak terjadi perubahan pada area kompleks makam, termasuk pergantian nisan lama yang dianggap memiliki nilai sejarah tinggi.
“Kami bertanya-tanya siapa yang merusak cagar budaya di kompleks Mbah Sunan Bonang. Siapa yang mengganti nisan lama,” ujar salah satu orator dalam aksi damai tersebut.
Dugaan Perusakan Cagar Budaya Jadi Sorotan
Selain persoalan dugaan makam palsu, massa aksi juga menyoroti perubahan fisik di area makam yang dinilai merusak unsur cagar budaya. Mereka menyebut sejumlah nisan kuno berbahan batu andesit disebut hilang atau dipindahkan, lalu diganti dengan bentuk baru yang dianggap tidak sesuai dengan sejarah asli situs.
Masyarakat mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk memberikan perlindungan penuh terhadap kawasan Makam Sunan Bonang sebagai warisan budaya nasional sekaligus pusat ziarah penting di Indonesia.
Dalam pernyataan sikapnya, mereka menilai dugaan perusakan situs budaya bisa melanggar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Mereka juga meminta agar penanganan kasus dilakukan secara transparan dan profesional tanpa tebang pilih.
“Cagar budaya adalah identitas sejarah bangsa. Kalau situs seperti ini dirusak atau diubah sembarangan, maka generasi mendatang bisa kehilangan jejak sejarah asli,” kata salah satu peserta aksi.
Nama Habib Husain Ba’agil Dilaporkan ke Polisi
Dalam aksi tersebut, massa menyebut nama Habib Husain Ba’agil sebagai pihak yang dilaporkan ke kepolisian. Mereka menuding adanya dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) terkait penyebaran informasi yang dianggap menimbulkan kegaduhan publik.
Mereka juga menyoroti pernyataan yang beredar di media sosial mengenai keterlibatan dalam pembongkaran dan pemakaman di area kompleks Sunan Bonang. Pernyataan itu kemudian memicu reaksi luas di berbagai daerah.
Aliansi masyarakat mengaku khawatir polemik tersebut memicu konflik horizontal dan perpecahan antarwarga. Mereka menyebut kegaduhan serupa bahkan mulai menjalar ke daerah lain di Jawa Timur.
Karena itu, mereka meminta aparat kepolisian segera mengambil langkah hukum agar situasi tetap kondusif dan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Polisi Tuban Diminta Bertindak Tegas
Dalam tuntutannya, massa aksi meminta Polres Tuban dan aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap siapa pun yang terlibat apabila terbukti melanggar hukum. Mereka menekankan pentingnya penegakan hukum yang adil tanpa intervensi pihak tertentu.
Selain itu, massa juga meminta agar pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap perlindungan situs-situs makam wali dan ulama di Indonesia. Mereka menilai makam para wali songo merupakan bagian penting dari sejarah penyebaran Islam di Nusantara.
Beberapa perwakilan massa bahkan menyampaikan permohonan dukungan kepada Presiden Republik Indonesia agar kasus ini mendapat perhatian serius dan diselesaikan secara objektif.
Makam Sunan Bonang dan Nilai Sejarahnya
Makam Sunan Bonang di Tuban merupakan salah satu destinasi ziarah religi paling terkenal di Indonesia. Sunan Bonang dikenal sebagai salah satu anggota Wali Songo yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.
Setiap tahun, ribuan peziarah dari berbagai daerah datang ke Tuban untuk berziarah ke makam Sunan Bonang. Kawasan tersebut bukan hanya menjadi pusat spiritual, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
Karena itu, isu dugaan makam palsu dan perubahan situs budaya di kawasan tersebut memicu perhatian luas masyarakat. Banyak pihak khawatir polemik ini dapat merusak keharmonisan sosial sekaligus mengaburkan sejarah asli Wali Songo.
Masyarakat Minta Situs Budaya Dilindungi
Aliansi masyarakat menegaskan bahwa aksi yang mereka lakukan bertujuan menjaga keutuhan NKRI dan melindungi situs budaya bangsa. Mereka berharap kasus ini menjadi pelajaran penting agar situs makam wali dan tokoh bangsa lainnya tidak mengalami perubahan yang dianggap merusak nilai sejarah.
Mereka juga meminta semua pihak menahan diri dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
“Kami ingin hukum ditegakkan secara adil dan situs budaya tetap terjaga,” ujar salah satu peserta aksi.
Hingga kini, kasus dugaan makam palsu di area Makam Sunan Bonang masih menjadi perhatian publik. Masyarakat menunggu langkah lanjutan dari aparat kepolisian dalam mengusut laporan yang telah disampaikan berbagai elemen masyarakat tersebut.
Dengan besarnya perhatian publik terhadap kasus ini, penanganan yang transparan dan profesional dinilai penting agar polemik tidak semakin meluas. Selain menyangkut aspek hukum, persoalan ini juga berkaitan erat dengan pelestarian sejarah, budaya, dan harmoni sosial masyarakat Indonesia. (Qodrat Arispati)
Simak videonya di YouTube:


