KH Imaduddin Menjelaskan Pertemuan dengan Jenderal Dudung dan Surat ke Presiden Prabowo

KH Imaduddin Al-Bantani Waktum organisasi Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWILS) menjelaskan agenda pertemuannya dengan Jenderal
Warta Batavia - KH Imaduddin Al-Bantani Waktum organisasi Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWILS) menjelaskan agenda pertemuannya dengan Jenderal Purnawirawan Dudung Abdurachman yang saat ini menjabat sebagai Kepala Kantor Staf Presiden (KSP). Dalam keterangannya, ia menyebut pertemuan tersebut berbeda dengan surat laporan yang dikirimkan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Ia mengatakan pertemuan dengan Dudung Abdurachman dilakukan dalam rangka membahas urusan organisasi dan kebangsaan terkait PWILS. Dalam struktur organisasi tersebut, Dudung disebut sebagai pembina organisasi, sementara dirinya menjabat sebagai wakil ketua umum.

KH Imaduddin Al-Bantani Waktum organisasi Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWILS) menjelaskan agenda pertemuannya dengan Jenderal Purnawirawan Dudung Abdurachman

Menurut keterangannya, sejumlah agenda organisasi sedang dijalankan oleh PWILS, termasuk kegiatan pembaretan di wilayah Jawa Timur serta pelantikan tingkat kelurahan dan kecamatan di berbagai daerah di Pulau Jawa.

Soal Makam Palsu di Area Makam Sunan Bonang

Selain agenda organisasi, PWILS juga disebut tengah melakukan pelaporan terkait dugaan makam palsu di wilayah Tuban. Ia menyebut laporan tersebut berkaitan dengan makam baru di sekitar area Makam Sunan Bonang yang melibatkan seseorang bernama Husein Ba'agil.

Dalam penjelasannya, ia mengatakan perkara tersebut dijadwalkan memasuki tahap gelar perkara oleh Polres Tuban pada 18 Mei mendatang.

Ia menegaskan bahwa pertemuannya dengan Dudung lebih berfokus pada penguatan organisasi dan pembahasan nilai-nilai kebangsaan yang diusung PWILS. Menurutnya, pertemuan di kantor KSP dilakukan karena keterbatasan waktu yang dimiliki Dudung sebagai Kepala KSP.

PWILS Jelaskan Agenda Organisasi dan Laporan Penelitian Nasab

Di sisi lain, ia juga menyampaikan bahwa dirinya telah lama berinisiatif mengirimkan surat laporan kepada Presiden Prabowo terkait hasil penelitian yang disebutnya telah mencapai kesimpulan mengenai nasab kelompok habaib Ba’alawi.

Dalam keterangannya, ia menyatakan penelitian tersebut menyimpulkan bahwa habaib Ba’alawi bukan keturunan Nabi Muhammad SAW. Ia mengatakan laporan itu disampaikan kepada Presiden karena menurutnya isu tersebut berkaitan dengan persoalan kebangsaan, nilai Pancasila, serta kehidupan sosial di masyarakat.

Ia juga menyebut bahwa hasil penelitiannya didasarkan pada kajian historiografi, sumber primer genealogi, serta analisis DNA yang menurutnya dapat digunakan untuk menguji klaim keturunan.

Rizieq Shihab, Luthfi bin Yahya, Taufik Segaf, dan Bahar Smith

Beberapa nama tokoh disebut dalam keterangannya, di antaranya Rizieq Shihab, Luthfi bin Yahya, Taufik Segaf, dan Bahar Smith. Ia menyatakan pihak-pihak tersebut dapat membuktikan klaim keturunan melalui pengujian DNA di laboratorium.

Selain itu, ia juga menyinggung diskursus mengenai nasab Ba’alawi yang disebut berkembang di Yaman, termasuk pembahasan dari akademisi dan aktivis setempat.

Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa laporan kepada Presiden Prabowo bertujuan menyampaikan hasil penelitian yang menurutnya penting untuk diketahui pemerintah. (Qodrat Arispati)

Tonton videonya di YouTube: 


LihatTutupKomentar