Polemik Nasab Dinilai Jadi Pertarungan Epistemologis dan Perebutan Narasi Sejarah Islam Indonesia

Polemik nasab yang belakangan ramai diperbincangkan di ruang publik dinilai bukan sekadar persoalan garis keturunan, tetapi juga menyentuh pertarungan
Warta Batavia - Polemik nasab yang belakangan ramai diperbincangkan di ruang publik dinilai bukan sekadar persoalan garis keturunan, tetapi juga menyentuh pertarungan epistemologis, otoritas pengetahuan, hingga perebutan narasi sejarah Islam Indonesia.

Polemik Nasab Dinilai Jadi Pertarungan Epistemologis dan Perebutan Narasi Sejarah Islam Indonesia

Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi yang dipandu oleh Yusuf Mars bersama sejumlah narasumber, di antaranya Dr. Sholeh Basyari, Gus Rocky, serta Kiai Imaduddin Utsman Al-Bantani.

Polemik Nasab Dinilai Bukan Sekadar Soal Keturunan

Dalam pembukaan diskusi, Yusuf Mars menegaskan bahwa polemik nasab harus dibaca lebih luas sebagai pertarungan antara sejarah yang dipahami secara simbolik dengan sejarah sebagai objek penelitian ilmiah.

Menurutnya, yang sedang diperdebatkan bukan hanya mengenai siapa keturunan siapa, tetapi juga menyangkut otoritas pengetahuan dan validitas sebuah klaim sejarah.

“Apakah sebuah klaim sejarah harus diterima begitu saja karena faktor tradisi dan penghormatan sosial atau tetap tunduk pada proses verifikasi akademik,” ujar Yusuf Mars.

Ia menilai sejarah merupakan aset intelektual bangsa yang tidak dapat dipahami secara sederhana. Polemik nasab, kata dia, memperlihatkan adanya benturan antara tradisi sosial, legitimasi simbolik, dan pendekatan akademik modern dalam membaca sejarah Islam Indonesia.

Dr. Sholeh Basyari: Riset Kiai Imad Masuk Pendekatan Oksidentalisme

Menanggapi isu tersebut, Dr. Sholeh Basyari menyebut riset yang dilakukan Kiai Imaduddin Utsman Al-Bantani dapat diposisikan sebagai bagian dari pendekatan oksidentalisme, yakni kritik epistemik terhadap orientalisme.

Menurut Sholeh, selama ini orientalisme dinilai membentuk cara pandang tertentu terhadap dunia Timur, termasuk dalam penulisan sejarah dan konstruksi sosial masyarakat Muslim.

“Risetnya Kiai Imad itu adalah koreksi atas hasil riset orientalisme. Kalau orientalisme melihat Timur dari sudut pandang Barat, maka oksidentalisme melihat Barat dari sudut pandang Timur,” kata Sholeh Basyari.

Ia juga menekankan pentingnya sejarah sebagai historia vitae magistra atau guru kehidupan. Menurutnya, perubahan narasi sejarah dapat memengaruhi identitas kolektif suatu bangsa.

Sholeh mencontohkan bagaimana sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya, Kesultanan Demak, hingga Wali Songo dinilai mengalami perubahan narasi pada masa kolonial.

“Kalau sejarah diubah, maka generasi setelahnya bisa mengalami amnesia historis dan kehilangan visi sebagai bangsa,” ujarnya.

Perbandingan Pendekatan Kolonial Inggris dan Belanda

Dalam penjelasannya, Sholeh Basyari juga menyinggung perbedaan pendekatan kolonial Inggris dan Belanda terhadap sejarah Nusantara.

Ia menyebut Thomas Stamford Raffles melakukan eksplorasi dan restorasi sejumlah peninggalan sejarah seperti Candi Borobudur dan situs peninggalan Majapahit saat masa kolonial Inggris di Jawa.

Menurutnya, pendekatan kolonial terhadap sejarah memiliki dampak besar terhadap cara masyarakat Indonesia memahami identitas dan masa lalunya hingga hari ini.

Gus Rocky Kaitkan Polemik Nasab dengan Teori Michel Foucault

Sementara itu, Gus Rocky mengaitkan polemik nasab dengan teori relasi pengetahuan dan kekuasaan dari Michel Foucault.

Menurutnya, pihak yang menguasai narasi sejarah berpotensi memperoleh legitimasi sosial dan pengaruh simbolik di tengah masyarakat.

“Siapa yang menguasai narasi sejarah, ia berpotensi menguasai legitimasi sosial,” kata Gus Rocky.

Ia menilai polemik sejarah dan nasab menjadi sensitif karena yang dipertaruhkan bukan hanya masa lalu, tetapi juga posisi sosial, otoritas moral, dan pengaruh di masa kini.

Gus Rocky juga menyinggung konsep “arkeologi pengetahuan” dari Michel Foucault yang dinilai relevan untuk membaca dinamika diskursus sejarah Islam Indonesia saat ini.

Usulan Penulisan Ulang Sejarah Islam Indonesia

Dalam forum tersebut, Gus Rocky mendorong pemerintah untuk merespons surat dan gagasan Kiai Imaduddin secara strategis melalui proyek penulisan ulang sejarah Islam Indonesia.

Ia bahkan mengusulkan gagasan bertajuk “Prabowo’s Project on Renarrating Indonesian Islamic History” atau proyek penarasian ulang sejarah Islam Indonesia.

Menurutnya, pemahaman masyarakat tentang Islam Indonesia saat ini merupakan hasil dari dinamika sejarah panjang yang diwariskan para pendakwah awal Nusantara.

Gus Rocky juga mengutip sejumlah literatur terkait diaspora Hadramaut dan struktur sosial masyarakat Arab yang dinilai memiliki pengaruh terhadap konstruksi sosial keagamaan di Indonesia.

Sejarah Dinilai Harus Jadi Aset Akademik Bangsa

Menjelang penutupan diskusi, Yusuf Mars menegaskan bahwa sejarah seharusnya diposisikan sebagai aset akademik dan aset intelektual bangsa, bukan sekadar alat legitimasi sosial maupun instrumen mobilisasi politik.

“Kekuatan sebuah peradaban tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau politiknya, tetapi juga oleh keberanian intelektualnya dalam membaca ulang sejarah secara kritis dan ilmiah,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan rencana untuk mengundang Kiai Imaduddin dalam forum akademik bersama para calon doktor sejarah peradaban Islam.

Sementara itu, Kiai Imaduddin Utsman Al-Bantani menegaskan pentingnya sejarah sebagai modal membangun masa depan bangsa.

“Sejarah adalah komunikasi tiada henti antara masa lalu, hari ini, dan esok hari. Sejarah bukan hanya kenangan, tetapi modal membangun masa depan,” kata Kiai Imaduddin.

Ia menambahkan bahwa bangsa yang kehilangan sejarah berisiko kehilangan arah dan identitasnya sendiri. (Qodrat Arispati)

Simak videonya di YouTube: 



LihatTutupKomentar