Polemik Nasab di Indonesia Sudah Masuk Ruang Negara dan Kesadaran Nasional
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah diskusi bersama host Yusuf Mars yang membahas perkembangan polemik nasab dan dampaknya terhadap dinamika sosial-politik di Indonesia.
Dalam diskusi itu, Yusuf Mars menyinggung teori negara modern yang menempatkan stabilitas sosial sebagai salah satu fungsi utama negara. Ia mempertanyakan apakah polemik nasab kini mulai dibaca negara sebagai isu yang berpotensi memunculkan fragmentasi sosial dan konflik horizontal.
Perubahan sosial pascareformasi
Menanggapi hal itu, Gus Rocky mengatakan fenomena tersebut perlu dilihat dalam konteks perubahan sosial pascareformasi. Ia mengutip tulisan ilmuwan politik I. Douglas Wilson mengenai konsep “democratization of violence” atau “privatization of violence” yang menggambarkan pergeseran praktik kekerasan dari negara ke kelompok-kelompok masyarakat setelah era Orde Baru.
Menurutnya, pascareformasi muncul berbagai organisasi massa dan kelompok dengan basis identitas tertentu yang ikut membangun pengaruh sosial maupun politik di ruang publik.
Ia juga menyinggung sosok Habib Rizieq Shihab dan Front Pembela Islam (FPI) dalam konteks perubahan otoritas keagamaan di Indonesia. Gus Rocky menilai sebelum munculnya polemik nasab, otoritas dibangun melalui narasi kepemimpinan umat, sementara setelah polemik berkembang, konstruksi legitimasi tersebut mulai diperdebatkan kembali.
“Diskursusnya sekarang sudah bukan sekadar asli atau tidak asli nasab itu, tetapi sudah masuk ke persoalan sejarah, otoritas, dan konstruksi sosial keagamaan,” ujarnya.
Dekolonisasi pengetahuan dan sejarah Islam
Dalam paparannya, Gus Rocky menyebut polemik nasab sebagai bagian dari proyek dekolonisasi pengetahuan dan sejarah Islam di negara-negara dunia ketiga. Ia mengaitkan isu tersebut dengan semangat anti-kolonialisme yang menurutnya pernah dibawa Presiden Soekarno dan kini muncul kembali dalam retorika anti-neokolonialisme Presiden Prabowo Subianto.
Ia menilai ada upaya untuk membaca ulang sejarah Islam di Indonesia, termasuk narasi mengenai peran kelompok-kelompok tertentu dalam perjalanan sejarah bangsa.
Gus Rocky juga menyinggung penelitian dan kajian yang dilakukan oleh Kiai Imaduddin terkait persoalan nasab. Menurutnya, isu tersebut kini berkembang menjadi diskursus yang lebih luas tentang historiografi, aristokrasi agama, hingga pola legitimasi otoritas keagamaan.
Ia menyebut bahwa selama ini sebagian legitimasi keagamaan di masyarakat cenderung berbasis genealogis dan simbolik. Namun, menurutnya, perkembangan kajian nasab telah mendorong munculnya tuntutan terhadap meritokrasi berbasis kapasitas intelektual dan argumentasi ilmiah.
“Perdebatannya sudah bergerak ke arah meritokrasi dalam agama, bukan hanya simbol keturunan,” kata Gus Rocky.
Dalam diskusi itu, ia juga menyoroti fenomena meningkatnya popularitas figur-figur habib di media sejak awal 2000-an. Ia merujuk pada catatan akademik Kazuo Morimoto yang menyebut fenomena habaib mulai menjadi komoditas media sejak terbitnya majalah tertentu pada 2003.
Menurutnya, media turut membentuk persepsi publik mengenai representasi otoritas Islam di Indonesia.
Polemik nasab berkembang menjadi “kesadaran nasional”
Selain itu, Gus Rocky menilai polemik nasab saat ini telah berkembang menjadi “kesadaran nasional” untuk membaca ulang sejarah Indonesia, termasuk sejarah Islam Nusantara.
Ia mengatakan masyarakat mulai mendiskusikan kembali hubungan antara sejarah kolonialisme, aristokrasi agama, dan konstruksi identitas keagamaan di Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Yusuf Mars menilai polemik nasab tidak lagi berhenti pada persoalan silsilah keluarga, tetapi juga memperlihatkan perubahan pola legitimasi otoritas keagamaan di Indonesia.
Menurutnya, masyarakat mulai menuntut keterbukaan publik, argumentasi ilmiah, serta kapasitas intelektual dalam melihat otoritas keagamaan.
Diskusi tersebut juga menyinggung pentingnya penulisan ulang sejarah nasional Indonesia yang saat ini disebut tengah menjadi perhatian pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan.
Polemik nasab dan perdebatan mengenai otoritas keagamaan belakangan memang menjadi salah satu topik yang ramai diperbincangkan di media sosial maupun forum-forum diskusi publik di Indonesia.
Simak Videonya di YouTube:

