PASAL KE-3:
KH Imadudin AlBantani: MENJAWAB KLAIM PENGAKUAN DAN KESAKSIAN PARA ULAMA TERHADAP KEABSAHAN NASAB SADAH BA’ALWI
Manuskrip Hasan al-‘Allal (460 H.)[1]

حدثنا اتٟسن بن محمد العلال قال حدثناجدي أبو
اتٟسن علي بن محمد بن أتٛد بن عيسى العلال العلوي بالبصرة قال حدثنا عمي عبد الله
بن أتٛد الأبح بن عيسى العلوي نزيل اليمن قال حدثنا اتٟستُ بن محمد بن عبيد بن
العسكري ببغداد قال حدثنا ابو جعفر محمد بن اتٟستُ الدقاق قال انبأنً القاسم بن
بشر قال انبأنً الوليد بن مسلم قال حدثنا الاوزعي قال حدثتٍ عبد الرتٛن بن القاسم
قال وحدثتٍ القاسم بن محمد عن عائشة
Inilah penampakan manuskrip yang ditampilkan Hanif dkk.
Sanad itu menyebut nama Abdullah ―bin‖ Ahmad bin Isa (ayah Alwi) yang katanya mendapat hadits dari Al-Husain bin Muhammad bin Ubaid bin al-Askari. Manuskrip ini jelas ―manuskrip lucu-lucuan‖; ia manuskrip ―bodong‖ tanpa identitas. Dalam footnot-nya Hanif dkk. menyatakan rangkaian sanad ini berasal dari kitab Musnad Hasan bin Muhammad al-Allal yang masih manuskrip. Siapa orang yang bisa membawa kitab Musnad Hasan bin Muhammad al-‗Allal? Tidak ada. ia kitab yang dihikayatkan oleh Syekh yasin Padang dari sebuah kutipan, lalu orang-orang masa kini melakukan cocokologi dengan keturunan Ahmad bin Isa yang bernama Hasan al-Dallal yang dicatat dalam kitab Al-Majdi.
Maksudnya begini: dalam kitab
nasab Al-Majdi (abad ke5 H.) dicatat Ahmad bin Isa dan seorang anaknya bernama
Muhammad. Muhammad ini mempunyai cicit bernama Hasan al-Dallal. Lalu Ba‘alwi
menemukan sebuah nama Muhaddits yang namanya mirip yaitu Hasan al-allal (nama
ini dikutip di antaranya oleh Syekh Yasin Padang). Lalu disebutlah bahwa nama
sebenarnya dari Hasan al-Dallal adalah Hasan al-Allal yang seorang muhaddits,
lalu dibuatlah khayalan bahwa ia mempunyai sanad yang menyebut Abdullah bin
Ahmad bin Isa sebagai pamannya. padahal semua itu hanya khayalan belaka.
Menurut penulis kitab Musnad Hasan
al-Allal adalah kitab palsu yang ditulis tahun 1960-an Masehi oleh Salim bin
Jindan. Mengenai alasan tuduhan kepada Salim bin Jindan akan penulis jelaskan
sebentar lagi.
Kepalsuan sebuah rangkaian sanad
mudah dibuktikan dengan meneliti nama-nama perawi yang ada dalam rangkaian
sanad itu. para perawi hadits telah dicatat rapih oleh para ahli hadits.
Setelah diteliti rangkaian sanad itu adalah sanad cangkokan dari sanad asli
yang terdapat dalam kitab Tarikh Bagdad.
Perhatikan sanad asli di bawah ini:
أخْبَ رنًَ علي بن تُ٤مَّد بن اتٟسن ات١الكي قال أنبأنً اتْٟسَتُْ بنُ تُ٤مَّدِ بنِ عُبَ يْدٍ العَسْكَريُّ، قالَ نبأنً ت٤مّد بن اتٟستُ الدّقاق
نبأنً القاسم بن بشر قال نبأنً أبو العَباسِ
الوَليدُ بنُ مُسْلمٍ قالَ تَِٝعْتُ الأوزاعي
يقول حدّثتٍ عبد الرتٛن بن القَاسِمِ قالَ حَدَّثتٍِ القَاسِمُ بنُ تُ٤مَّدٍ عَنْ عَائشَةَ زوجِ النبِيّ صَلى
الَّلَُّ عَليْوِ وَسَلمَ قالتْ: «إذا جَ اوَزَ اتْ٠تانُ اتْ٠تانَ؛ فَ قَدْ وجَبَ
الغسْلُ » فَ عَلْتوُ أنًَ وَالنبيُّ صَلى الَّلَُّ عليو وسلم وَسَلمَ
فاغْتسَلْنا.
Sanad ini sanad asli terdapat
dalam kitab yang menjadi rujukan ahli hadits yaitu Tarikh Bagdad (Juz III h. 18). Lalu perhatikan sanad cangkokan Gus
Rumail di bawah ini:
حدثنا اتٟسن بن محمد العلال قال حدثناجدي أبو
اتٟسن علي بن محمد بن أتٛد بن عيسى العلال العلوي بالبصرة قال حدثنا عمي عبد الله
بن أتٛد الأبح بن عيسى العلوي نزيل اليمن قال
حدثنا اتٟستُ بن محمد بن عبيد بن العسكري
ببغداد قال حدثنا ابو جعفر محمد بن اتٟستُ
الدقاق قال انبأنً القاسم بن بشر قال انبأنً الوليد
بن مسلم قال حدثنا الاوزعي قال حدثتٍ عبد الرتٛن بن
القاسم
قال وحدثتٍ القاسم بن محمد عن عائشة
Dalam sanad asli yang terdapat dalam kitab Tarikh Bagdad,
Ibnu al-Askari mempunyai murid Ali bin Muhammad bin
Hasan alMaliki; dalam manuskrip Rumail, Ibnu al-Askari mempunyai murid
Abdullah (Ubaidillah) bin Ahmad ―bin‖ Isa. Mari kita
uji secara Ittisal al-Riwayat
(ketersambungan riwayat), yaitu dengan melihat kitabkitab Tarikh al-Ruwat (sejarah perawi) yang menyebut seorang tokoh perawi
berikut guru dan muridnya. Apakah Ali bin Muhammad bin
Hasan al-Maliki dan Abdullah (Ubaidillah) ―bin‖ Ahmad
bin Isa terbukti keduanya sebagai murid Ibnu al-Askari?
Mari kita lihat kitab Tarikh Bagdad tentang sosok Al-Husan bin
Muhammad bin al-Askari.
اتْٟسَتُْ بن تُ٤مَّدِ بنِ عبيد بن أَتَْٛدَ بنِ
ت٥لد بن أبان أبو عَبْدِ الَّلَِّ الدَّقاق ات١عروف بابن العسكري …حَدَّثَ نا عنو
أَبو القَاسِمِ الأزىري، وأبو تُ٤مَّد اتٞوىري، واتٟسن بن تُ٤مَّدٍ اتْ٠لالُ،
وأتٛد بن تُ٤مَّد العتيقي، وأبو الفرج بن برىان، والقاضي أبو العلاء الواسطي، وعبد
العزيز بن عَليّ الأزجي، وعلي بن تُ٤مَّدِ بنِ
اتْٟسَن ات١الكي، والقاضي أبو عَبْدِ
الَّلَِّ البيضاوي، وأتٛد بن عمَرَ بن روح النهرواني، وأبو القَاسِ م التنوخي.
)تًريخ بغداد: جزء ٛ
ص .ٜ٘ٙ(
Dalam kitab Tarikh Bagdad karya al-Khatib al-Bagdadi itu, disebutkan bahwa
murid-murib Ibnul Askari adalah: Abul Qosim alAzhari, Abu Muhammad al-Jauhari,
Al-Hasan bin Muhammad al-
Khollal, Ahmad bin Muhammad al-Atiqi, Abul faraj bin
Burhan, AlQodi Abul Ala al-Wasiti, Abdul Aziz bin Ali al-Azji, Ali bin
Muhammad bin al-hasan al-Maliki, Al-Qodi Abu Abdillah
al-
Baidowi, Ahmad bin Umar al-Nahrawani, dan Abul Qosim
al-
Tanukhi.[2]
Setelah kita verifikasi maka Ali
bin Muhammad bin al-Hasan al-Maliki terbukti sebagai murid Ibnu al-Askari,
sedangkan Abdullah tidak terbukti. Maka rangkaian sanad Rumail itu terbukti
sanad cangkokan atau sanad palsu.
Jelas sekali rangkaian sanad itu
sengaja diciptakan bukan untuk kepentingan periwayatan sebuah hadits, tetapi
lebih untuk kepentingan disebutnya nama Abdullah, untuk dijadikan bukti palsu
bahwa sosoknya betul-betul ada, bahkan meriwayatkan sebuah hadits.
Sayangnya creator sanad itu lupa, bahwa Ilmu Hadits
lebih ketat dari ilmu nasab, nama-nama perawi sudah terkodifikasi rapih ditulis
dalam kitab-kitab Tarikh Ruwat
(Sejarah Para Perawi). Untuk mengkonfirmasi seorang perawi, apakah ia merupakan
sosok historis atau bukan (jangan-jangan ia sekedar nama yang sengaja
disematkan tanpa ada sosoknya) bisa dilihat dalam kitab-kitab Tarikh Ruwat yang sudah ditulis sejak
abad ke tiga Hijriah.
Perhatikan wafat Abdullah, ia
disebut wafat tahun 383 Hijriah, jika ia benar-benar seorang perawi, maka
namanya akan dikenal oleh para ahli ilmu di masanya, tempatnya akan banyak
didatangi para pencari hadits dari berbagai penjuru dunia, dengan itu
seharusnya namanya telah dicatat oleh kitab yang mencatat para perawi yang
semasa dengannya atau yang mendekatinya, semacam Ibnu Syahin yang wafat tahun
385 Hijriah, dua tahun setelah wafatnya Abdullah, atau kitab Al-Dzahabi yang
wafat tahun 748 Hijriah. Dan tentu namanya pula akan dicatat oleh kitab nasab
pada masanya seperti AlUbaidili (w. 437 H.), tapi, nama Abdullah ini tidak
dicatat dimanapun: tidak di kitab nasab, tidak pula di kitab para perawi.
Sanad Abul Qasim al-Naffath (490 H.)
Hanif dkk. pula menampilkan sebuah rangkaian sanad hadits palsu yang diatribusikan kepada
Abul Qasim al-Naffath seperti berikut ini:حدثنا ابو اتٟسن على بن جعفر الاشقر العلوى قال
حدثنا ابو القاسم محمد بن اتٟسن بن محمد بن على بن اتٛد بن عيسى النقيب بن محمد بن
على العريضي بن جعفر العلوى اتٟسيتٍ العراقي النقاط مشافهة فى منزلو
بالبصرة سنة قال حدثتٍ أبي ات١سند الامام
النسابة النقيب المحدث ابو محٔمد اٗتٟسن بن محمدٜ بن على العلال العلوى البصرى قرأة
عليو وانً اتٝع بالبصرة سنة قال حدثنا
الشريف ات١سند عبد الله بن بصرى بن عبيد الله ب٘نٗ اتٛد بن عيسى بن محمد الازرق
العلوى قال حدثتٍ ابي وعمى جديد وعلوى ابنا عبيد الله بن اتٛد ات١هاجر بن عيسى
الرومي العلوى
اجازة.72
Kali ini Hanif dkk. tidak berani
menyebut nama kitab di mana rangkaian sanad ini diambil. Rangkaian sanad bodong
ini jelas rangkaian sanad palsu. Bagaimana Ali bin Ja‘far al-Asyqar bisa
mendapatkan hadits dari Al-Naffat tahun 461 H. sedangkan ia telah wafat tahun
327 H.
Di bawah ini manuskrip milik
keluarga Ali al-Asyqar yang menunjukan ia wafat tahun 327 H.75
JeIas sanad yang ditampilkan oleh
Hanif dkk. itu diciptakan bukan untuk kepentingan Ilmu Hadits tetapi untuk
kepentingan disebutnya nama-nama keluarga Ba‘alwi. modusnya sama yaitu dengan
berpatokan kepada telah disebutkannya nama Abul Qasim alNaffat oleh Syekh yasin
Padang bahwa ia mempunyai kitab Musnad, lalu kitabnya ini diciptakan hari ini
dan kemudian dibuat khayalan bahwa Abul Qasim al-Naffath menyebut nama
ubaidllah yang disebut sebagai anak Ahmad bin Isa.
74 Hanif dkk…h.28
75 https://alsada-alashraaf-samarah.blogspot.com/2016/05/blogpost.html
Pertanyaanya, mengapa demi
mempertahankan nasab, berani berdusta begitu detail? Sayangnya, sedetail apapun
kedustaan, kebenaran akan mampu untuk membongkarnya, karena sedetail apapun
sebuah kedustaan ia tidak akan pernah sempurna. Abraham Lincoln berkata: ―You can fool all the people some of the
time, and some of the people all the time, but you cannot fool all the people
all the time‖ (Kamu bisa membohongi semua orang beberapa waktu dan beberapa
orang setiap waktu, tetapi kamu tidak bisa membohongi semua orang sepanjang
waktu).
Manuskrip Hasan bin Rasyid (638 H.)
Hanif Alatas dkk. menampilkan sebuah sanad milik
Hasan bin Rasyid sebagai berikut:[3]
فقد قرأ على الفقيو الأجل السيد الولي ...
المحبوب في الله تعالى محمد بن علي بن محمد بن أتٛد بن جديد الشريف اتٟسيتٍ أحسن
حالو وت٘م مالو "جامع أبي عيسى التًمذي "- الله - تْق روايتي لو قراءة
على والده الشيخ الإمام العالم، أبيٕ اتٟستُ علي بن محمد بن أتٛد بن جديد الشريف
اتٟسيتٍ)ت: ٕٙٓ ه(
Sampai di sini apa yang disajikan
Hanif dkk. masih benar. Ijajah kitab Turmudzi dari Hasan bin Rasyid kepada
Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Jadid itu memang ada, penulis pun
mempunyai microfilm manuskripnya. Tapi di sana sama sekali tidak disebut
Ubaidillah bin Ahmad bin Isa. kedustaan mulai dilakukan ketika Hanif dkk. menampilkan
sebuah sanad Umar bin Ali al-Tiba‘I yang di sana menyebut silsilah Syarif Abul
Jadid sampai nama Ubaidillah, di sini mulai berdusta, silahkan perhatikan:
اربعينية بوحده مسنده بالسند ات١تقدم الا
الاوزري عن والده عن محمد بن عمر عن والده مظفر الدين عمر بن على التباعى بروايتو
لو عن ات١ؤلف الشريف اتٟافظ ابي اتٟسن على بن محمد بن اتٛد بن جديد بن على بن محمد
بن جديد بن عبيد الله بن اتٛد بن عيسى بن محمد بن على بن جعفر الصادق بن محمد بن
على بن اتٟستُ بن على بن ابي طالب كرم الله وجهو قال نقلت ىذه النسبة من خط بن
جديد.
Katanya, sanad ini diambil dari kitab tsabat (sanad) kitab
Al-
Arba‘un karya Syarif Abul Hasan Ali bin Jadid yang
ditulis oleh Umar bin Ali al-Tiba‘i. Katanya silsilah nasab Ali bin Jadid itu
sampai Ubaidillah bin Ahmad bin Isa itu ditulis oleh Abul Jadid sendiri, dari
sini mulai dusta. Kitab Al-Arbaun milik Syarif Abul Jadid itu sudah mafqud
(hilang). Jika kemudian hari ditemukan ada dengan tambahan silsilah nasabnya
sampai Ubaidillah bin Ahmad bin Isa maka jelas itu manuskrip yang sengaja diciptakan.
Ubaidillah atau Abdulah bukan anak Ahmad bin Isa. itu sudah jelas disebut dalam
Al-Syajarah alMubarakah (597 H.) bahwa anak Ahmad bin Isa hanya tiga: Muhammad,
Ali dan Husain, tidak ada nama Ubaidillah atau Abdullah apalagi Ubaid.
Perhatikan buku
Hanif dkk. itu, dari mana ia mendapatkan sanad Abul Jadid itu, dikatakan dalam
footnotnya itu koleksi pribadi. Dalam ilmu nasab sebuah kitab yang ditulis atau
dimiliki oleh seseorang yang punya kepentingan tidak bisa dijadikan hujjah. Abdul Majid al-Qaraja dalam kitabnya Al-kafi al-Muntkhab: ات١صلحة فان ظهرت مصلحة عند ات١ثبت او النافي
يتًك قولو-5 غالبا ، وقد يعمل بنقيض مصلحتو في حالات ت٥صصة،
ولا يؤخذ بقولو
الا اذا وجد ما يعضده عند غتَه ت٦ن ليست ت٢م مصلحة ولم
ينقلوا عن من لو مصلحة،"
Terjemah:
―Yang kelima adanya al-maslahat (kepentingan). Maka
jika dari seorang yang meng-itsbat dan menafikan (nasab) jelas ada kepentingan
maka biasanya pendapatnya ditinggalkan. Kadang dalam hal-hal tertentu
pendapatnya dapat digunakan jika bertentangan dengan kepentingannya. Dan tidak
dapat diambil pendapatnya kecuali dikuatkan oleh ulama lainnya yang tidak
berkepentingan. Para ulama nasab tidak mengutip dari orang yang punya
kepentingan.‖[4]
Para peneliti Yaman sudah
menyatakan kitab-kitab sanad hadits yang menyebut keluarga Ba‘alwi seperti Alwi
dan Bashri itu hanya khayalan.
Manuskrip Umar bin Sa’ad al-Din al-Dzifari
Kata Hanif dkk. ini adalah
manuskrip Umar ibn Sa'd Al-Din AlDzafari (w. 667 H.), katanya ia menulis kitab
berjudul: Al-Arba'un, yang memuat 40
hadits yang ia terima dari Faqih Muqoddam. Mantap sekali Faqih Muqoddam yang
namanya tidak pernah disebut ulama bisa meriwayatkan 40 hadits. Faqih Muqoddam,
sejak ia wafat tahun 653 H. namanya tidak pernah disebutkan ulama sebagai
seorang ulama apalagi sebagai muhaddits. Pertama kali disebutkan oleh
kitabkitab keluarga Ba‘alwi di abad sembilan terutama Al-Burqat alMusyiqat
karya Ali al-Sakran.
Dari secarik kertas yang katanya
manuskrip bodong kitab AlArba‘un di atas kita masih sulit menganalisa. Tetapi dalam
diskusi di Rabitah Alwiyah (7/9/2024) Rumail Abbas menampilkan salah satu dari
lembaran manuskrip Al-dzifari tersebut, dari sana penulis mengetahui bahwa
manuskrip itu adalah karya Salim bin Jindan Jakarta (w.1969 M.)
Di bawah ini salah satu manuskrip
Rumail yang ditayangkan dalam presentasi diskusi di Rabitah Alwiyah Jakarta
(7/9/2024), naskah itu memuat sanad hadits Umar ibn Sa‘d al-din al-Dzifari
yang, menurut Rumail, ia dapatkan dari Muhammad Faqih Muqoddam, dan Faqih
Muqoddam mendapatkannya dari Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Jadid.
Dalam manuskrip itu disebut bahwa Umar bin
Sa‘d mendapatkan hadits dari Muhammad bin Ali Faqih Muqoddam, dan Faqih
Muqoddam mendapatkannya dari Abul Hasan Ali bin
Muhammad bin Jadid. Sanad ini jelas sanad palsu,
karena Abul Hasan Ali bin Jadid tidak mempunyai murid bernama Muhammad bin Ali
Faqih Muqoddam. Dalam kitab Al-Suluk fi Thabaqat al-Ulama Wa alMuluk, Al-janadi (w.732 H.)
menyebut nama murid-murid Abul
Hasan Ali bin Muhammad bin Jadid, tetapi tidak ada
yang bernama Muhammad bin Ali Faqih Muqoddam. Adapun nama-nama murid Ali bin
Jadid yang disebut Al-Suluk adalah:
Muhammad bin Mas‘ud alSufali, Ibnu Nashir al-Himyari, Ahmad bin Muhammad
al-Junaid,
Hasan bin Rasyid, Muhammad bin Ibrahim al-Fasyali,
Umar bin Ali
Sahibu Baiti Husain. (Al-Suluk, juz 2, h. 136). Dalam
kitab Banu al-
Mu‟allim
al-jaba‟iyyun wa Banu al-Jadid al-Alawiyyun, Abu Umar menyebutkan sembilan
nama dari murid Ali bin Jadid, namun tidak juga disebutkan ia mempunyai murid
yang bernama Muhammad bin Ali Faqih Muqoddam (lihat h. 6). Jelas sekali
manuskrip yang memuat sanad-sanad Faqih Muqoddam di atas adalah sanad palsu.
Rumail menyebutkan bahwa tahun
penulisan manuskrip itu tahun 667 Hijriyah. Dilihat dari bentuk manuskripnya,
ia sangat tidak meyakinkan. Tinta biru seperti itu tidak lazim digunakan pada
abad ke-7 Hijriah; kertas yang bergaris-garis semacam itu diproduksi sekitar
tahun 1960 M. Selain dilihat dari isinya, dilihat dari media yang digunakan
pun, manuskrip ini jelas manuskrip palsu. Bentuk tulisan manuskrip ini sangat
identic dengan manuskrip kitab hadits tulisan Salim bin Jindan (w. 1969 H.).
Perhatikan potongan manuskrip yang terdapat dalam media online ―Jaringan
Santri‖
(https://jaringansantri.com/manuskrip-ilmu-hadis-habib-salim-binjindan/)
yang memuat sebuah manuskrip kitab hadits karya Salim bin Jindan yang diberi
judul Riwayah bi al-Fi‟li di bawah
ini:
Dilihat dari bentuk tulisan dan
jenis kertas yang bergaris-garis yang biasa digunakan oleh Salim bin Jindan,
antara naskah Rumail dan naskah Salim bin Jindan identic. Naskah Rumail itu 99%
adalah tulisan tangan Salim bin Jindan yang wafat di Jakarta tahun 1969 M.
Lalu bagaimana pendapat ulama Yaman
tentang Salim bin Jindan? Doktor Muhammad Badzib dalam Akun Media Sosial
Saluran Telegram nya yang diposkan tanggal 16 Mei 2024 menyebutkan bahwa
kitab-kitab Syekh Salim bin Jindan “la
yuhtajju biha wala yu‟tamadu alaiha” (tidak dapat dijadikan dalil dan tidak
dapat dijadikan pegangan). Doktor Badzib mengutip pendapat Abdullah Alhabsyi
dalam kitabnya “Mashadir al fikri al
Islami fi al Yaman” bahwa kitab-kitab Salim bin Jindan adalah kitab yang
diambil dari
―ruang hampa‖.
Abdullah Muhammad Al-Habsyi menyebut
bahwa kitab-kitab Syekh Salim bin Jindan tidak baerfaidah dan dalam kitab-kitab
itu ada
“Mujazafah” (ucapan
kacau dan tanpa referensi); didalamnya pula ada “al-khaltu” (ucapan rusak dan igauan orang yang tidak sadar) (h.
558).
Selain Abdullah Al-Habsyi, menurut
Badzib, Sagaf Ali al-Kaf pun berpendapat yang sama, bahwa kitab-kitab Syekh
Salim bin Jindan dalam ilmu nasab penuh dengan “akadzibu la yu‟tamadu alaiha” (kedustaan dan tidak dapat dijadikan
pegangan).
Selain kedua ulama itu, masih
banyak ulama lain yang menilai kitab-kitab Syekh Salim bin Jindan dalam nasab
sebagai kitab-kitab yang tidak bermutu. Badzib menyebut juga seorang ulama yang
bernama Masyhur bin Hafidz yang menyatakan bahwa Syekh Salim bin Jindan adalah
seorang “hatibu lailin” (orang yang
berbicara dengan semua yang terlintas dalam benaknya). Dan seorang peneliti
bernama Ziyad al-Taklah dan Doktor Sa‘id Tulah keduanya mempunyai tulisan
tentang Salim bin Jindan dan khyalan-khayalannya dalam menciptakan sanad-sanad
hadis yang tidak berdasar.
Menurut Badzib, seorang professor
dan pengacara, Fu‘ad Tarabulsi, menceritakan kepadanya, bahwa nama-nama yang
disebut oleh Ibnu jindan dalam kitabnya-kitabnya banyak nama-nama fiktif “la wujuda laha” (tidak ada wujudnya).
Badzib menyebutkan contoh: Syekh Salim bin Jindan menyebut bahwa sebagian dari
guru-gurunya adalah seseorang yang disebut sebagai anak Al-Allamah Jamaluddin
al-Qasimi al-Dimisyqi. Orang ini sama sekali tidak pernah ada yang tahu sebagai
bagian dari keluarga Al-Qasimi. Keluarga Al Qasimi sendiri tidak
mengenalnya.
Syekh Salim bin Jindan pula,
menurut Badzib, memperlihatkan adanya kitab-kitab musnad keluarga Ba‘alwi dan
mengatakan bahwa kitab musnad itu manuskripnya terdapat di perpustakaan “Arif
Hikmat”.
Kitab-kitab musnad itu, menurut Ba‘dzib adalah kitab musnad palsu dan tanpa
dasar. Di perpustakaan “Arif Hikmat”
yang ia sebutkan itupun tidak ada. Bahkan, di seluruh perpustakaan yang ada di
atas muka bumi ini pun tidak ada, kecuali di rumah Salim bin Jindan, Kata
Badzib. Sepertinya, yang dimaksud oleh Badzib itu adalah kitab Musnad Faqih Muqoddam yang katanya
ditulis Umar bin Sa‘d al-Dzifari tersebut, yang manuskripnya ditampilkan Rumail
Abbas di Rabitah Alwiyah itu.
Yang dilakukan Syekh Salim bin
Jindan Itu, menurut Badzib, dijelaskan oleh teks langka yang terdapat dalam
surat pribadi Alwi bin
Taher al-Haddad kepada muridnya Profesor Ali Ba‘bud
yang menyatakan, bahwa Ibnu Jindan mengidap penyakit Malecholia: ia membayangkan hal-hal yang tidak ada, lalu menduga
keberadaannya, kemudian menulis imajinasi itu. Masyarakat yang tidak mengetahui
kondisi kesehatannya menerimanya begitu saja sebagai informasi yang dapat
dipercaya.
Sayangnya, menurut Badzib,
orang-orang yang mengutipnya tidak berusaha untuk mengkonfirmasi dari mana
sumber-sumber Syekh Salim bin Jindan ketika menulis kitabnya itu. Jika mereka
melihat lebih dekat, mereka akan menemukan bahwa dia mengutip dari
dokumen-dokumen palsu yang baru ditulis, yang ditulis orangorang fiktif.
Dalam akun Telegramnya itu pula,
Badzib memperlihatkan tulisan Aiman Al Habsyi tentang Salim Bin Jindan dengan
judul: Attahdir Min Ansab Ibni Jindan (peringatan
tenang nasab-nasab Ibni Jindan). Dalam tulisannya itu, Aiman diantaranya
menyatakan bahwa ia bertanya kepada pamannya, Abu Bakar bin Ali al-Masyhur,
tentang kitab-kitab Ibnu Jindan, lalu pamannya menyatakan bahwa ia bertanya
kepada Abdul Qadir Ahmad al-Saqaf, maka ia berkata: ―Salim bin Jindan orang
baik, tetapi pendapatnya dalam nasab dan sejarah tidak boleh menjadi pegangan‖.
Aiman al-Habsyi pada mulanya
hendak men-tahqiq kitab karya Syekh Salim bin Jindan yang berjudul “Al-Dur al-Yaqut”, ketika melihat di
dalamnya penuh dengan ―musibah besar‖, maka ia mengurungkan niyatnya. Bahkan,
menurut Aiman, dalam kitabnya tersebut nasab-nasab Ba‘alwi pun banyak ―musibah
besar‖. Berikut ini screenshot dari pernyataan Badzib:
Dua sanad hadits lainnya yang
ditampilkan dalam buku Hanif dkk. juga adalah sanad palsu yang didapat dari
kitab Salim bin Jindan
tersebut. Dua sanad itu adalah:
حدثنا محمد بن على الفقيو قال حدثنا ابو اتٟسن
على بن محمد بن جديد وابو عبد الله سالم بن بصرى بن عبد الله العلويَن قرأة على
الاول وتٝاعاً من الثاني قالا حدثنا ابو عبد الله محمد بن عبد الله ات٢روى قال
الاول اجازة شافهتٍ بها تٔكة قال الثاني مكاتبة من ترنً قال حدثنا ات١بارك بن على
بن الطباخ الكريتى قرأة عليو وان اتٝع حدثنا ابو بكر محمد بن عبد الباقى ات٠زرجى
الانصارى قال حدثنا محمد بن أبي اتٟسن على الساحلى اجازة قال حدثنا عبيد الله
القاسم ات٢مداني قال ابو عيسى العروضي قال حدثنا ابو عبد الرتٛن اتٛد بن شعيب بن
يحر النسائي اتٟافظ قال حدثنا ابو عمار اتٟستُ بن حريث ات١روزي قال حدثنا الفضيل
عن منصور عن أبي حازم عن أبي ىريرة قال قال رسول الله صلى الله عليو وآلو وسلم من
حج ىذا البيت فلم يرفث ولم يفسق رجع كما ولدتو امو.[5]
حدثنا الشريف محمد بن على العلوى التًيدي قال
حدثنا الامام المحدث الفقيو العابد سالم بن بصرى بن عبد الله ابن يصرى بن عبيد
الله بن اتٛد ات١هاجر بن عيسى النقيب بن محمد الازرق العلوى قرأة عليو في منزلو
تٔدينة ترنً ات١باركة سنة ىجرية بقرأة
القاضي محمد بن اتٛد بن عبد الله بن ابى اتٟبٙ اٚلق٘رشى قال حدثنا الشريف
المحدث الامام ابو محمد تٛزة بن محمد بن عبد إلكرنً اتٟستٌ اليماني قرأة عليو
وانً اتٝع تٔدينة تعز باليمن سنة ٕ٘ٙ قال حدثنا ابو الفضل جعفر بن على ات٢مداني
البغدادي قال حدثنا ابو الطاىر اتٛد بن محمد بن اتٛد السلفى الاصفهاني قال حدثنا
محمد بن اتٛد بن اتٝاعيل الطليطلي كتابة قال اخبرنً ابو
اتٛد جعفر بن عبد الله. ٜٚ
Usaha-usaha Klan Ba‘alwi untuk
bisa mensejarahkan namanama keluarganya yang ahistoris dengan membuat
sanad-sanad palsu itu bukan hanya apa yang ada dalam buku Hanif dkk. sebelumnya
Rumail Abbas telah berusaha mencari kitab-kitab sebelum abad ke-9 H. yang
memuat nama-nama keluarga Ba‘alwi. namun, usahanya gagal. Ada manuskrip asli
Syarif Abul Jadid dari abad ke-7 tetapi tidak memuat informasi apapun tentang
nasab keluarga Abdurrahman Assegaf, lalu ia menampilkan sanad-sanad dari
mansukrip bodong seperti dalam buku hanif dkk.
Berikut ini usaha-usaha Rumail dalam melacak nama-nama
Klan Ba‘alwi yang ahistoris.
Manuskrip Ijazah Kitab Sunan Turmudzi Tahun 589
H.
Rumail
menampilkan sebuah manuskrip ijazah kitab Sunan
Turmudzi, mungkin maksud Rumail dengan adanya bukti manuskrip tersebut,
tokoh-tokoh Ba‘alwi sudah terbukti sebagai sosok historis karena telah
tereportase secara ontologis eksistensinya pada abad ke-6 Hijriah. Pernyataan
ini mengada-ada, karena tidak ada hubungannya antara keluarga Jadid dan
keluarga Abdurrahman Assegaf (kemudian mengatribusikan diri menjadi Ba‘alwi).
Keduanya adalah dua keluarga yang berbeda. Pengakuan bahwa Jadid adalah kakak
dari Alwi bin Ubaid itu baru ada sejak abad sembilan, sebelumnya nihil. Tidak
ada satu kitab pun di masa di mana Jadid itu diasumsikan hidup yang menyatakan
ia bersaudara dengan Alwi.
79
Ibid h. 37
Syarif Abul
Hasan Ali, yang merupakan keturunan dari Jadid yang wafat tahun 620 Hijriah,
tereportase oleh kitab Al-Suluk
sebagai ulama hadits. Ia mempunyai istri anak dari Syekh Mudafi‘. Berbagai
macam kota tempat perpindahan Ali diceritakan oleh Al-Suluk, tetapi tidak pernah ia disebut pernah datang ke Tarim.
Seperti juga ia tidak disebutkan dilahirkan di Tarim atau mempunyai adik
bernama Alwi di sana. Rumail tidak bisa berhujjah dengan kesejarahan Abul Hasan
Ali untuk kesejarahan keluarga Abdurrahman Assegaf karena keduanya tidak ada
kaitan apapun.
Walau demikian
ada baiknya kita telaah manuskrip yang memuat ijazah kitab Sunan Turmudzi dari keluarga Jadid ini:

Menurut Abu Umar Mazin bin ‗Amir al-Ma‘syani al-Dzifari al-
‗Ummani yang merestorasi manuskrip
ini pada 2 Dzulqo‘dah 1444 H., manuskrip ini adalah manuskrip Jami‟ Imam turmudzi yang terdapat di
―Maktabah Ra‘is al-Kitab‖ di Turki nomor 154. Penyalinnya memulai dari bab La yaqbalullah Sholatan Bighairi Thuhurin”
dari bab Thaharah sampai akhir kitab Al-Thibb dalam 15 juz, ditulis tahun 589
H. oleh penyalin Qasim bin Ahmad bin Abdullah al-Mu‘allim alJuba‘I. kemudian
ada catatan tambahan ijazah dari Abu Muhammad Hasan bin Rasyid bin Salim bin
Rasyid bin Hasan al-Hadrami alSakuni al-Umani (w.638 H.) kepada Syarif Muhammad
bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Jadid (anak Abul Hasan Ali bin Jadid [w. 620
H.] dengan tulisan yang lemah hampir tidak terbaca (h.3). Tulisan tambahan itu
tanpa titimangsa kemungkinan besar ditulis setelah tahun 620 H. setelah
direstorasi kemudian dapat dibaca seperti berikut: بسم
الله الرحمن الرحيم، اتٟمد لله رب العات١تُ، وصلى الله على سيدنً
النبي الأمي، وعلى آلو وسلم، أما بعد: فقد قرأ على الفقيو الأجل السيد الولي ... المحبوب في الله
تعالى محمد بن علي
بن محمد بن أتٛد بن جديد الشريف اتٟسيتٍ أحسن
حالو وت٘م مالو "جامع أبي عيسى التًمذي "- الله - تْق روايتي لو قراءة
على والده الشيخ الإمام العالم، أبي اتٟستُ علي بن محمد بن أتٛد بن جديد الشريف
اتٟسيتٍ )ت: )( ى ، ( - أحسن الله جزاءه وجعل اتٞنة مأواه - تْق قراءٓتو عٙلىٜ
الشيخ الفقيو الإمام أبي عبد الله محمد بن عبد الله ات٢روي ]ت: )( ى (، عن الشيخ
الإمام اتٟافظ ات١بارك بن علي بن اتٟسٔتُ بن الطباخ )ت: )( ى (، عن الشيخ الأجل،
عبد ات١لك الكروخي ]ت ٘ٗٛ
ى٘جٚر٘ي٘ة( ، عن ات١شيخة
Manuskrip itu ditulis oleh Qosim
bin Ahmad bin Abdullah dengan titimangsa 589 H. jadi titimangsa itu bukan
titimangsa ‗catatan tambahan‘ berupa ijazah yang menyebut nama Muhammad bin
Ali. Angka tahun itu merupakan angka tahun selesainya penulisan naskah, bukan
pengijajahan kitab kepada Muhammad bin Ali. Lihat perbedaan cara penulisan
antara isi kitab dan ijazah tersebut.
Perlu diperhatikan pula, antara waktu
selesainya penulisan dengan waktu pengkajian bisa saja berbeda. Namun jika kita
merujuk pada Al-Janadi, di mana ayah Muhammad, yaitu Ali wafat pada tahun 620 H
(abad ke tujuh), dalam Syamsu al-Dzahirah
tahun 630 H, maka dengan metode Ibnu Khaldun, di mana dalam setiap satu
abad terdapat tiga generasi, maka dapat diperkirakan wafatnya Muhammad bin Ali
adalah pada tahun 653 H, dari situ kita bisa perkirakan juga Muhammad ini
mendapat ijazah kitab Sunan Tirmidzi
antara rentang tahun 620-653 H. Bila dibagi dua diperkirakan mendapat ijazah
pada tahun 636 H, tentu ini lebih muda dari Al-Syajarah
al-Mubarokah yang ditulis tahun 597 H.
Catatan tambahan‘ tersebut bisa
menjadi dalil untuk keluarga Jadid, bahwa mereka dalam tahun 636 H itu adalah
tokoh historis, dari mulai nama Muhammad (w. 653 H) dan ayahnya, yaitu Ali (w.
620 H), namun tidak bisa menjadi dalil nasab mereka terhadap Abdullah, karena
yang disebutkan hanya 5 generasi. Mujiz
(pemberi ijazah) itu hanya menyambungkan sampai ke Jadid Tsani, butuh 4
generasi lagi untuk sampai ke Abdullah seperti yang disebut oleh Al-Janadi.
Setelah itu, perlu pula sumber yang menyebut Abdullah sebagai anak Ahmad.
Sementara ini, Al-Janadi (732 H) -lah orang yang pertama menyambungkan nasab
Bani Jadid kepada Ahmad bin Isa yang bertentangan dengan kitab yang lebih tua
yaitu Al-Syajarah alMubarokah (597
H). diperlukan pula sumber yang menyebut bahwa Jadid betul-betul saudara dari
Alwi bin Ubaid.
Catatan tambahan‘ tersebut, ketika
begitu lemah menjadi saksi nasab Jadid kepada Ahmad bin Isa, tentu akan lebih
lemah lagi menjadi saksi untuk keluarga Abdurrahman Assegaf atau Ba Alawi
Ubaidillah.
Kitab Tuhfat al-Murid Wa Uns al-Mustafid
Kata Rumail, Muhammad ibn Ali
Bathahan (w. 630 H.) memproduksi kitab berjudul Tuhfat Al-Murid wa Uns Al-Mustafid fi Manaqib Al-Syaikh Sa'd Al-Din ibn
Ali Al-Dzafari. Kata Rumail lagi,
Kitab ini mengonfirmasi jaringan intelektual antara
Sa'd Al-Din AlDzafari dengan Muhammad ibn Ali Al-Alawi yang kelak, pada
deklarasi anaknya (Umar Al-'Abid ibn Sa'd Al-Din Al-Dzafari), ditulis sebagai
"Al-Faqih Al- Muqoddam".
Mungkin maksud Rumail dengan kalimat
―jaringan intelektual‖ itu, di dalam kitab itu disebutkan bahwa Faqih Muqoddam
menulis surat kepada Syaikh Sa‘d al-Din al-dzifari dan kemudian ia membalasnya,
sebagaimana informasi yang disebut literasi Ba‘alwi. Pertanyaannya: benarkah
Bathahan menulis kitab tersebut? Di mana kitabnya? Jika ada benarkah di
dalamnya ada surat menyurat antara
Faqih Muqoddam dan Syaikh Sa‘d? berita tentang kitab itu
hanya berasal dari pengakuan penulis-penulis Ba‘alwi seperti dalam kitab AlBurqat al-Musyiqat (h.99).
Salih al-Hamid Ba‘alwi (w.1386 H.) mengaku
pernah melihat manuskrip kitab itu (lihat Tarikh Hadrmaut juz II h. 824).
Menurut DR. Muhammad Yaslam Abd al-Nur, Salih al-Hamid mengaku pernah
melihatnya di Perpustakaan Husen bin Abdurrahman Bin Sahl, kemudian di bawa ke
Perpustakaan Al-Ahqaf Tarim, ditulis tahun 978 H. oleh Umar bin Ibrahim
Al-Hubani. Benarkah berita itu? DR. Muhamad Yaslam mengatakan, sekarang kitab
itu sudah hilang (lihat Footnote Tarikh
wa al-Muarrikhun al-Hadlarimah h.50).
Semua manuskrip penting eksternal
yang sezaman yang diklaim menyebut keluarga Ba‘alwi setelah dikutip kemudian
dinyatakan hilang. Bagi seorang peneliti ini adalah suatu pola yang
mencurigakan. Dan bagi penulis, kitab itu kemungkinan besar, jika pun pernah
ada, tidak pernah menyebut Faqih Muqaddam, itulah alasan kenapa manuskrip kitab
itu harus ―dilenyapkan‖.
Manuskrip Abul Qasim al-Naffath
Kata Rumail, Abu Al-Qasim
An-Naffath (w. <581 H.) memproduksi kitab yang mengompilasi 40 macam hadis
dalam musnad yang ia beri judul: Al-Arba'un.
Dalam beberapa riwayat, keduanya melewati Imam Ahmad Al-Muhajir yang disebut
sebagai Nazil Al-Yaman (pendatang
Yaman yang menetap) dan gelar Al-
Abah.‖
Benarkah klaim Rumail itu?
perhatikan manuskrip Rumail yang telah penulis tampilakan sebelumnya:
Ini adalah rangkaian sanad yang diduga kuat
ditulis oleh Salim bin Jindan. Di dalamnya disebut pula bahwa Ahmad al-Abah
adalah “Nazil al Yaman” (yang datang
menetap di Yaman). Agaknya, klaim Rumail tentang ditemukannya manuskrip Abul
Qasim al-Naffat juga berasal dari tulisan Salim bin Jindan. Dan sudah
dijelaskan sebelumnya bahwa ulama-ulama Yaman menganggap apa yang ditulis oleh
Salim bin Jindan tentang nasab dan sanad “La
yuhtajju biha wa la yu‟tamadu alaiha” (tidak bisa dijadikan hujjah dan
tidak dapat dijadikan pegangan).
Sanad Muhammad Aqilah dan Manuskrip Assegaf
Kata Rumail, dalam kitab Al-Silk al- Durar fi A‟yan al-Qarn alTsani
Asyar karya Muhammad Khalil al-Muradi bin Ali al-Muradi (w.1206 H.) juz
ke-4 halaman 30, terdapat biografi seorang ulama bernama Muhammad Aqilah
(w.1150 H.). dalam kitab tersebut disebutkan bahwa ia mendapatkan talqin dzikir dari Abdullah bin Ali
Bahusain al-Saqqaf. Selain talqin dzikir,
Abdullah al-Saqqaf juga mengijazahkan kitab karya Ali bin Abdullah al-Idrus
yang tinggal di Surat India.
Kata Rumail, karena Muhammad
Aqilah ini orang yang tsiqah (bisa
dipercaya), maka gurunya juga yaitu Abdullah bin Ali Bahusain adalah orang tsiqah, oleh karena itu ketika dalam
kitab yang lain, Abdullah bin Ali al-Saqqaf ini menulis sebuah riwayat maka
riwayatnya terhitung tsiqah.
Contohnya, ketika Abdullah bin Ali dalam sebuah sanad hadits musalsal menyebut bahwa ia menerima
hadits dari ayahnya Ali, dari Ayahnya Abdullah, dari ayahnya Ahmad, dari
ayahnya Ali al Naqi, terus sampai Faqih Muqoddam, maka ini membuktikan sisi
factual dan historis dari Faqih Muqoddam.
Bagi Rumail, disebutnya nama Faqih
Muqodaam di tahun 1150 Hijriyah setelah 500 tahun dari kematiannya dalam
rangkaian sebuah sanad, dapat diterima dan menunjukan ia sosok historis walau
tanpa menggunakan metodologi kritik hadits. Rumail belum memahami bagaimana
metode para ahli hadits dalam meneliti sebuah rangkaian sanad untuk menentukan
apakah sebuah sanad itu muttasil atau tidak; ada individu perawi yang pendusta,
fasik, fiktif, atau tidak.
Berikut ini manuskrip hadist musalsal yang ditampilkan Rumail yang di
dalamnya menyebut nama Faqih Muqoddam:
Pertanyaan yang menggelitik
penulis adalah: Rumail belajar Ilmu Hadits dari mana, sehingga ia menyatakan
jika muridnya tsiqah maka gurunya
juga harus dihukumi tsiqah? Ini does not make sense (tidak masuk akal).
Dalam Ilmu Hadits ada yang disebut Ilmu Al-Jarh
wa al-Ta‟dil, yaitu ilmu yang mempelajari tentang apakah para perawi ini
laik dipercaya atau tidak. Setiap perawi dari sebuah sanad itu diteliti satu
persatu dari mulai awal sampai akhir. Jika ada salah seorang diantara mereka
yang terbukti dalam sejarah sebagai pendusta maka hadits itu menjadi dla‟if bahkan divonis maudlu (palsu). Ketika Muhammad Aqilah
divonis tsiqah (terpercaya), maka
tidak serta merta gurunya yang bernama Abdullah bin Ali al-Saqqaf langsung
dinyatakan tsiqah, ia perlu
penelitian tersendiri begitu pula susunan perawi selanjutnya.
Ketika diadakan penelitian sanad
dari mulai Abdullah bin Ali al-Saqqaf, kita mengetahui bahwa susunan sanad itu
sama dengan susunan nasab mereka. Seperti pernah penulis nyatakan dalam kitab I‟anat al-Akhyar, bahwa riwayat dari
ulama Ba‘alwi terkait nasab dan sejarah mereka kedudukannya “muttaham bi al-kadzib” (patut diduga berdusta),
tidak dapat dipercaya, karena kontradiksi dengan kitabkitab sejarah dan
kitab-kitab nasab yang muktabar. Maka susunan sanad Abdullah bin Ali al-Saqqaf
sampai Faqih Muqoddam, berdasarkan susunan nasab mereka itu pun tidak dapat
dipercaya.
Rumail menyebut nama Muhammad
Aqilah itu hanya sebagai tangga untuk menyebut nama Abdullah bin Ali al-Saqqaf.
Sebenarnya Muhammad Aqilah tidak menyebut nama Faqih Muqoddam, yang menyebut
Faqih Muqoddam adalah Abdullah bin Ali al-Saqqaf. Nama Muhammad Aqilah sebagai
ulama yang terkenal disebut Rumail, agar nama Abdullah bin Ali al-Saqqaf itu
ikut terangkat.
Manuskrip Kitab Musnad Ubadillah al-Tamimi al-Iraqi
Kata Rumail, Ubaidillah ibn Thahir
Al-Tamimi (w. 488 H.) memproduksi kitab yang mengompilasi puluhan hadis dengan
judul Musnad Ubaidillah Al-Tamimi
Al-Iraqi. Kata Rumail lagi, di dalamnya terdapat sanad Hasan ibn Muhammad
Al-Allal. Hasan ibn Muhammad Al-Allal (w. <490 H.) memproduksi kitab musnad
berjudul Al-Arba'in yang berisi 40
macam hadis dari beragam isnad, dan
di antaranya disebutkan kekerabatan musnid
dengan kabilah Baalawi sebagai 'amm
(paman), ibn 'amm (sepupu), dan
setamsilnya.
Pernyataan Rumail ini pun sama
dengan sebelumnya, ingin mengaitkan sebuah nama terkenal dengan keluarga
Ba‘alwi. Ubaidillah al-Tamimi sama sekali tidak menyebut nama-nama keluarga
Ba‘alwi, yang ia sebut adalah Hasan bin Muhammad alAllal, cucu asli Ahmad bin
Isa. kemudian dibuatlah cerita bahwa Hasan al-Allal ini menyebut nama-nama
Ba‘alwi sebagai paman, sepupu atau semacamnya, agar nampak benar ada
kekerabatan antara
Hasan al-Allal dengan keluarga Ba‘alwi.
Pertanyaannya: mana manuskrip kitab Hasan al-Allal itu? benarkah ia ditulis
oleh Hasan alAllal? Atau ia hanya manuskrip palsu yang dibuat hari ini lalu
diatribusikan sebagai karya Hasan al-Allal? Jawabannya: ia adalah rangkaian
sanad yang diduga kuat ditulis oleh Salim bin Jindan bukan Hasan al-Allal.
Manuskrip Sanad Abdul Haq al-Isybili Ibnu al-Kharrath
Dalam komunitas youtube-nya Rumail
memuat beberapa sanad hadits yang menyebut nama Ubaidillah yang katanya
mendapat hadits dari bapaknya Ahmad al-Abah. Rangkaian sanad itu sebagai
berikut:
انبأنً عبد اتٟق بن عبد الرتٛن بن عبد الله بن
اتٟستُ بن سعيد ابو محمد الاشبلى قراءة عليو وانً اتٝع فى اخر المحرم سنة ٕ٘ٗ قال
حدثنا عبد العزيز بن … بن مديرة قراءة عليو ببغداد سٕنٗة قال حدثنا ابو العباس اتٛد بن دت٢ان ]…[ قراءة
عليو وانًٚ اٙتٗٝع قال حدثنا الامام ابو القاسم النفاط بن اتٟسن بن محمد بن على بن
محمد بن اتٛد الابح بن النقيب عيسى لقيتو تٔكة ات١كرمة بقرائتي عليو فى شوال سنة
قال حدثنا ابي ات١سند ابو محمد اتٟسن بن محمٔد العلال العلوٕىٕٔ قٗال حدثنا
ابي محمد بن على العلوى ]…[ حدثنا ابي وعمي عبيد الله ابنا اتٛد الابح بن عيسى
النقيب قالا حدثتٌ الامام الابح السيد اتٛد بن عيسى بن محمد العلوى البصرى فى
منزلنا بالبصرة فى ذى ]…[ قال حدثنا ابي وابو القاسم عبيد الله بن اتٛد بن محمد
الازرق العلوى قالا
Rangkaian sanad ini ditampilkan
Rumail hanya sepotong tanpa menyebut dari kitab apa ia mendapatkannya.
Sepertinya, Rumail kali ini tidak ingin seperti sebelumnya, di mana rangkaian
sanadnya dapat dilacak melalui nama-nama perawi popular. Perawi-perawi dalam
sanad ini tidak ada yang dikenal dan tidak disambungkan sampai sahabat Nabi, ia
berhenti kepada Ubaidillah bin Ahmad bin
Muhammad al-Azraq. Jelas sanad ini sanad
―jadi-jadian‖ yang tidak valid. Jika disambungkan sampai sahabat Nabi, ia dapat
terdeteksi ketersambungan atau tidaknya, karena nama para perawi hadits sejak
zaman sahabat sudah terkodifikasi dalam kitab-kitab Tarikh Ruwat.
Nampaknya, ia rangkaian sanad yang
didapatkan dari sumber yang sama dengan sanad palsu sebelumnya, yaitu dari
tulisan Salim bin Jindan. Dalam rangkaian sanad itu ada kalimat yang nampak
memaksakan yaitu disebutnya nama Ubaidillah sebagai paman dari Muhammad bin Ali
bin Ahmad bin Isa al-Abah. Sebagaimana diketahui bahwa nama Ali terkonfirmasi
dalam kitab Al-Syajarah alMubarakah
sebagai anak Ahmad bin Isa, nampaknya creator sanad itu ingin nama Ubaidillah
numpang tenar kepada Muhammad bin Ali.
Manuskrip Sanad Ali al-Syanini
قال الفقيو ابو اتٟسن على بن عبد الله الشنيتٍ
]…[ سنة قال المحدث الصوفى الفقيو عبد
الله بن محمد بن عبد الرتٛن بٔاعٙباٚد اتٟضرمى قال اخبرنً الشريف محمد بن على بن
محمد الفقيو ات١قدم العلوى قال حدثنا الامام اتٟافظ المحدث ابو اتٟسن على بن محمد
بن اتٛد بن جديد العريضى العلوى اجازة تّميع مسنده مكاتبة من ]…[ سنة قال حدثنا ابو عبد الله محمد بن عبد الرتٛن بن
مسعود بن أتٔٛدٙ بن اتٟستُ ات١سعودى الدمشقى قراءة عليو وانً اتٝع بدمشق فى ]…[
صفر سنة قال حدثنا ابو حفص عمر بن محمد بن
معمر بن طبرزد البغٛداٗدي٘…
Dalam sanad ini terdapat nama
Muhammad bin Ali Faqih Muqoddam yang katanya mendapat hadits dari Ali bin
Muhammad bin Ahmad bin Jadid. Jelas sanad ini palsu karena Ali bin Jadid
dicatat para ulama tidak mempunyai murid bernama Faqih Muqoddam. Selain ia
rangkaian sanad bodong yang tidak disebutkan dari manuskrip kitab apa, dari
sisi ilmu riwayat sudah terbukti ia palsu. Nampaknya seperti yang lain ia
diambil dari tulisan Salim bin Jindan.
Manuskrip Al-Thurfat al-Gharibat
Rumail menampilkan sebuah manuskrip karya Abul Abbas
Taqiyyuddin Ahmad bin Ali Al-Maqrizi (w.845 H.)
berjudul AlThurfat al-Gharibat Fi Akhbar
Wadi Hadramaut al-Ajibat. Menurut Rumail, naskah ini sebagai bukti bahwa
nama keluarga Ba‘alwi dikenal oleh ulama eksternal pada pertengahan abad ke-9
H. sebagai keturunan Nabi.
Sayang Rumail
tidak teliti, justru naskah ini malah memperkuat bahwa bahwa keluarga Ba‘alwi
pada sekitar tahun 845 H. itu masih dikenal sebagai ―Arab Hadramaut‖ bukan
sebagai sadat. Perhatikan salah satau
ibarat dalam naskah ini: واخبرني
الفقتَ ات١عتقد ابراىيم بن الشيخ عبد الرتٛن بن محمد ...العلوي من قبيلة يقال ت٢ا ابا علوي من عرب
حضرموت
―Telah menceritakan kepadaku Al-Faqir al-Mu‘taqid
Ibrahim bin Syekh Abdurrahman bin Muhammad al-Alawi dari kabilah yang disebut
Aba Alwi dari Arab Hadramaut…‖
Al-Maqrizi sebagai seorang
sejarawan, ketika mendapat pengakuan dari Ibrahim bin Abdurrahman Assegaf bahwa
ia adalah dari keluarga Aba Alwi, langsung mengetahui bahwa keluarga ini adalah
keluarga Arab Hadramaut, karena memang sejak abad ke-4 Hijriah telah dicatat
dalam kitab-kitab sejarah nama Bani Alwi sebagai keturunan Qahtan. Yang
demikian itu sebagaimana di tulis oleh AlHamadani (w.344 H.) dalam kitabnya Al-Iklil fi Akhbaril Yaman wa Ansabi Himyar
(kitab Al-Iklil memuat kisah-kisah Negara Yaman dan nasab Himyar) (h.36).
Penulis telah jelaskan dalam
beberapa tulisan bahwa pengakuan keluarga Abdurrahman Assegaf sebagaia bagian
Aba Alwi pun baru pada abad ke-9 H. Jelas sekali, keluarga Abdurrahman Assegaf
bukanlah keluarga Aba Alwi yang ditulis oleh kitab Al-Suluk (732 H.) ketika menjelaskan silsilah seorang ulama bernama
Syarif Abul Hasan Ali bin Jadid. Pada abad ke-9 Hijriah keluarga Abdurrahman
Assegaf mengokulasi diri ke dalam bagian keluarga Aba Alwi. hal demikian
diperkuat oleh hasil tes Y DNA keturunan Abdurrahman Assegaf hari ini yang
dikenal dengan nama keluarga Ba‘alwi bahwa haplogroup mereka adalah ―G‖ yang
menunjukan mereka bukan berasal dari Arab. Orang-orang Arab hari ini hasil tes
Y DNA mereka terkonfirmasi berhaplogroup J.
Demikianlah manuskrip-manuskrip
yang diklaim oleh Rumail sebagai jawaban atas tesis penulis bahwa nama-nama
keluarga Ba‘alwi tidak tercatat sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW dari mulai
abad ke-4 Hijriyah sampai ke-9 Hijriah, baik dalam kitab nasab maupun sejarah.
Sayang apa yang Rumail dapatkan ternyata hanya rangkaian sanad yang terbukti
palsu, baik dari sisi isi maupun media. Menurut penulis, melihat algoritma
historiografi yang tersebar di abad ke-8 dan ke-9 Hijriah, baik di Yaman maupun
wilayah lain yang terkait dengan Ahmad bin Isa, maka akan sangat sulit
menemukan bukti-bukti keterkaitan keluarga Ba‘alwi sebagai keturunan Nabi dari
jalur Ahmad bin Isa. kenapa? Karena memang keluarga Ba‘alwi bukanlah keturunan
Nabi Muhammad SAW.
Kita kembali kepada kitab-kitab
yang menjadi dalil dari buku Hanif Alatas dkk. dalam buku tersebut disebutkan
bahwa dalil nasab
Ba‘alwi Abdurrahman Assegaf adalah:
Al-Suluk Fi Thabaqat al-Ulama wa
al-Muluk karya Bahauddin al-janadi (w.732 H.)
Dalam diskursus nasab Ba‘alwi nama
Jadid sering muncul dalam pembahasan. Pasalnya, Ali al-Sakran (w.895 H.)
mengklaim bahwa Jadid merupakan saudara dari Alwi bin Ubaid (leluhur Ba‘alwi).
menurut Ali al-Sakran, Alwi mempunyai dua saudara lakilaki: Jadid dan Bashri.
Walau nama Alwi tidak disebut Al-Suluk, dengan disebutnya saudaranya berarti
kesejarahannya nyaris terdeteksi. Benarkah klaim tersebut? Tulisan sederhana
ini akan mengulasnya.
Syarif Abul Jadid bernama asli Ali. Kunyahnya adalah Abul
Hasan. Ia lebih dikenal dalam kitab-kitab Tabaqat
dengan nama AlSyarif Abul Jadid. Ia seorang ulama yang cukup terkenal di Yaman
terutama dalam bidang Hadits yang wafat tahun 620 H., Al-Janadi (w.732 H.)
adalah sejarawan pertama yang terdeteksi menyebut ketokohannya dalam kitabnya
Al-Suluk fi Thabaqat al-Ulama wa alMuluk. Sebelum Al-Janadi tidak ada ulama
yang mengangkat ketokohannya. Seluruh kitab-kitab yang menulis nama Syarif Abul
Jadid merujuk sumber utama dan pertama dari Al Janadi tersebut. AlJanadi
pulalah sejarawan yang mula-mula menyebut silsilahnya sampai kepada Nabi
Muhammad SAW melalui jalur Ahmad bin Isa.
Adapun teks lengkap sejarah Syarif
Abul Jadid yang ditulis Al-Janadi
adalah:[6]
وَقد انْ قَضى ذكر اىل تعز من فقهائها
واحببت ان اتْٟق بهم الذين وردوىا ودرسوا فيهَا وىم تٚاعة من الطبَ قَة الاولى
مِنْ هُم ابو اتْٟسن عَليّ بن تُ٤مَّد ابن أتْٛد بن حَدِيد بن عَليّ بن تُ٤مَّد بن
حَدِيد بن عبد الله بن أتْٛد بن عِيسَىبن تُ٤مَّد بن عَليّ ابن جَعْفَر ال صَّادِق
بن تُ٤مَّد الباقر بن عَليّ بن زين العابدين بن اتْٟسَتُْ بن عَليّ ابن ابي طالب
كرم الله وجهو وَيعرف بالشريف ابي اتْٟدِيد عِنْد أىل اليمن اصلو من حَضرمَوْت من
اشراف ىُنالك يعْرفونَ بَال ابي علوي بيت صَلَاح وَعبادَة على طريق التصوف
وَفيهِمْ فُ قَهَاء يََتِ ذكر من اتٖقق ان
شَاءَ الله تَ عَالَى مَعَ أىل ب لده قدم الى عدن فادرك القَاضِي ابراىيم ابن
اتْٛد القريظي فاخذ عَنوُ المُسْتصْفى كَمَا اخذه عَن مُصَنفو وَقدم مَعَ اخ لوُ
اتْٝو عبد الملك ثمَّ خرج عَن عدن عازمتُ على زيََرة الشَّيْخ مدافع ت١ا شهر بوِ
من الصّلاح واستفاض عَنوُ فقدما عَليْوِ الى قَ رْية الوحيز الَّاِتِ ضَبطهَا ان
شَاءَ الله تَ عَالَى فَ رحَّبَ بهما واقاما عِنْده ايَما وزوجهما بابنتتُ لوُ
فسكنا بذِي ىزنً قَ رْية تقَابل الوحيز وَي قَال كَانَ بيت الشريف ابي اتْٟدِيد ا
تْٟائط الَّذِي على بَاب المدرسَة النظامية فأخذ الناس عَن أبي اتْٟدِيد أخذا
كثتَا فمِمَّنْ أخذ عَنوُ تُ٤َمَّد بن مَسْعود السفالي وَابن نًَصِر اتْٟمْتََي
وَاتْٛدْ بن تُ٤َمَّد اتْٞنَ يد وحسن بن راشد وَتُ٤مّد بن ابراىيم الفشلي وكَانَ
مَتى ذكر عِنْده قالَ ابو حَدِيد رجل ثقَة كَانَ من اتْٟفاظ وَت٦َّنْ اخذ عَنوُ
الفَقِيو عمر بن عَليّ صَاحب بيت حُسَتُْ الَّاتِ ذكره واقام في اتْٞبل مُدَّة
طويلة وَصَارَ لوُ بها ذكر شَائع وقصده الناس من ات٨اء اليمن للاخذ عَنوُ فَ لمَّا
قبض ات١سعود بن الكَامِل على الشَّيْخ مدافع قبض عَليْوِ مَعَو فلبث تْصن تعز من
مستهل رمَضَان سنة سبع عشرة وسِتمِائة الى سلخ ربيع الاول من سنة تَٙاني عشرة
وستماية ثمَّ انزلا عدن وسفر بهما اتْ٢ِنْد فذكروا ان الريح عصفت تٔركبهم فدخل
ظفار فَ لمَّا علم اىلها بالشيخ واصلوه وزاروه وحبوه وَصَحبو تٚاعَة مِنْ هُم
وَقالوا ان اخْتَ رت أن تقف فَ قَالَ لَا أكون عبدا فرارا سأكون عندكُمْ مرارا
ثمَّ ت١ا اسْتَ وَى الريح سافرا
فِي المركب حَتَّى دخلا بلد الدينول فلبثا بها شَهْرين وَثلَاثة أيََّم ثمَّ خرجا
عَنْ هَا لثلاث خلون من رمَضَان سنة تَٙاني عشرة وستماية فدخلا ظفار ولبثا بها
تَٙانية عشر يَ وْمًا فتوفي الشَّيْخ وقبر بها على مَا سَيأتِ ثمَّ عَاد الشريف الى
اليمن فلم يطب في اتْٞبَال بل نزل تهامَة واقام بزبيد مُدَّة ثمَّ عزم الى ات١هجم
فسكن من اعمات٢ا بقرية تعرف بات١رجف فدرس مُدَّة في مَسْجِدىَا ثمَّ سَافر إلَى
مَكَّة ثمَّ عَاد وَُي قَال انو التزموُ الشَّيخ عمران بن رفيع القرابلي في ذَلك
فكَانَ لَا يبرح فيوِ حَيْثُ كَانَ فاكثر قعوده بها بتُ القريتتُ ثمَّ سَافر الى
مَكَّة فذكروا انو تو فّي ىُنالك تَ٨ْو سنة عشْرين وستماية وََكانَ حَافظ عصره لم
يكن لوُ اذ ذَاك في اليمن نظِتَ في معرفة اتٟدِيث .
Dari teks kitab Al-Suluk di atas dapat
disimpulkan beberapa point:
1. Nama
dan silsilah Syarif Abul Jadid adalah Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ahmad bin
Jadid bin Ali bin Muhammad bin Jadid bin Abdullah ―bin‖ Ahmad bin Isa bin
Muhammad bin Ali al-Uraidi bin Ja‘far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir
bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib KW.
Popular di Yaman dengan nama Syarif Abul Jadid.
2. Berasal
dari Hadramaut dari keluarga ―Asyraf‖ (para Syarif) yang popular dengan
keluarga Abu Alwi.
3. Ia
mempunyai adik bernama Abdul Malik.
4. Kota-kota
yang ia tempati adalah: Adn, Wahiz, India, Dzifar, Daynul, Tuhamah, Zabid,
Mahjam, Marjaf, dan Makkah.
5. Ia
mempunyai murid: Muhammad bin Mas‘ud al-Sufali, Ibnu Nashir al-Himyari, Ahmad
bin Muhammad al-Junaid, Hasan bin Rasyid, Muhammad bin Ibrahim al-Fasyali, Umar
bin Ali Sahibi Baitu Husain.
6. Ia
wafat di Makkah tahun 620 H.
Dari 6 point di atas kita bisa ulas satu persatu
sebagai berikut:
1. Silsilah
Syarif Abul Jadid yang melalui Abdullah bin Ahmad bin Isa itu batal dan
tertolak, karena Ahmad bin Isa tidak mempunyai anak bernama Abdullah. Anaknya
yang berketurunan hanya tiga: Muhammad, Ali dan Husain (AlSyajarah
al-Mubarakah, Imam Fakhruddin al-Razi, tahun 597 H.)
2. Syarif
Abul Jadid berasal dari keluarga Abi ‗Alwi dari ―Asyraf Hadramaut‖ (para syarif
Hadramaut). Tetapi dalam Al-Suluk tidak disebut ia berasal dari Tarim (tempat
keluarga Abdurrahman Assegaf). Yang pertama menyebut ia berasal dari Tarim
adalah Ali al-Sakran di akhir abad ke-9 H (895 H.). Hadramaut itu luas di
antara kota-kota Hadramaut adalah: Tarim, Syibam, Dau‘an, Barum Mifa‘, Tsamud,
Hijir,
Huraidlah, Al-Dais, Rakhiyah, Rimah, Siwun, Syihir,
AlDali‘ah, Al-Ibir, Al-mukalla dan lain-lain. Jadi ketika disebut dari
Hadramaut maka tidak bisa diasosiasikan kepada Tarim.
3. Al-Suluk
menyebut Syarif Abul Jadid (w. 620 H.) mempunyai adik bernama Abdul Malik.
Tidak ada nama lain dari saudara Syarif Abul Jadid yang disebutkan. Tetapi Ali
al-Sakran menyebut bahwa Syarif Abul Jadid mempunyai satu saudara yang tinggal
dan wafat di Tarim namanya Abdullah (AlBurqat, h. 81). Berita dari Ali al-Sakran
ini tidak dapat diterima karena tidak berdasar sumber apapun. Berita itu
diciptakan sebagai penguat klaim bahwa Syarif Abul Jadid merupakan bagian dari
keluarga Abdurrahman Assegaf di Tarim. Sebelumnya, Kakek Syarif Abul Jadid yang
bernama Jadid (sekitar 400 H.) diklaim oleh Ali al-Sakran juga mempunyai dua
adik di Tarim bernama Alwi dan Bashri (lihat Al-Burqat h. 78). Semua klaim Ali
al-Sakran itu tidak terbukti. Apakah Ali al Sakran sanggup mendatangkan bukti
dari abad ke tujuh dan delapan yang menyatakan bahwa Syarif Abdul jadid adalah
orang Tarim. Mana dalilnya? Mana kitabnya? Yang kedua mana bukti bahwa Syarif
Abul Jadid mempunyai adik bernama Abdullah di Tarim? Mana dalilnya? Mana
kitabnya? Ali al-Sakran juga tidak akan mampu membawa bukti mana dalil yang
menyatakan bahwa Jadid bin Abdullah adalah saudara dari Alwi dan Bashri. Mana
dalilnya? mana kitabnya dari abad ke 5-9 H. ? semua hanya klaim semata untuk
mengaitkan keluarganya dengan Jadid yang disebut dalam Al-Suluk (732 H.).
4. Kota-kota
yang pernah ditinggali oleh Syarif Abul jadid yang disebutkan oleh Al-Suluk
tidak ada yang bernama Tarim. Dan dari panjangnya kisah tentang Syarif Abul
Jadid, Al-Suluk tidak menyebut sekalipun tentang sebuah Kota bernama Tarim yang
terkait dengannya. Ini menunjukan bahwa Syarif Abul Jadid sama sekali tidak ada
kaitan dengan keluarga Abdurrahman Assegaf dan Tarim.
5. Al-Suluk
menyebut nama murid-murid dari Syarif Abdul jadid. Tetapi dari nama-nama itu
tidak disebutkan ada muridnya yang bernama Faqih Muqoddam seperti yang disebut
oleh literature Ba‘alwi.
Kitab-kitab abad kedelapan dan
sembilan yang menyebut Syarif Abul Jadid pun tidak ada yang mengaitkan Syarif
Abul jadid dengan keluarga Abdurrahman Assegaf seperti berikut ini:
Kitab Al-Athoya al-Saniyah karya Al-Malik
al-Abbas (w.778 H.)
Sama sekali dalam kitab ini tidak
disebutkan kaitan Syarif Abul jadid dengan keluarga Abdurrahman Assegaf dan
Kota Tarim. Berikut redaksi kitab Al-Athoya al-Saniyyah hal. 460.:
8٨٣ - أبو اتٟسن علي ابن محمد بن أتٛد بن حديد
بن علي بن محمد بن حديد بن عبد الله ابن أتٛد بن عيسى بن محمد بن علي بن جعفر
الصادق بن محمد الباقر بن علي زين العابدين بن اتٟستُ بن علي بن أبي طالب كرم الله
وجهو، ويعرف بالشريف أبي اتٟديد عند أىل اليمن، أصلو من حضرموت من أشراف ىنالك
،يعرفون بِل أبي . علوي بيت صلاح وعبادة على طريق التصوف ،وفيهم علماء قدم عدن
فأخذ فيها ات١ستصفى» عن القاضي إبراىيم القريظي عن مصنفو وقدم مع أخ لو اتٝو عبد
ات١لك إلى الشيخ مدافع إلى الوجيز من أعمال تعز بسبب الزيَرة ت١ا اشتهر عنو
الصلاح، فرحب بهما وأقاما عنده أيَماً وأزوجهما ( بابنتتُ لو، وسكنا بذي ىزنً،
وأخذ الناس عن ىذا الشريف أبي اتٟديد أخذاً كثتَاً، ت٦ن أخذ عنو محمد بن مسعود
السفالي، وابن نًصر اتٟمتَي، وأتٛد بن محمد اتٞنيد، وحسن بن راشد ومحمد بن إبراىيم
الفشلي، وكان متى ذكر عند الفشلي قال : أبو حديد رجل ثقة ،كان من اتٟفاظ، وأخذ عنو أيضاً الفقيو عمرو بن
علي صاحب بيت حستُ، وأقام الشريف باتٞبال مدة طويلة، وصار لو بها ذكر شائع، وقصده
الناس من تٚيع نواحي اليمن، وت١ا حصل من ات١سعود بن الكامل ما حصل على الشيخ مدافع
أشياء يطول ذكرىا ، أقام الشريف بزبيد وات١هجم، وسافر مكة وتوفي ىنالك سنة عشرين
وستمائة
Kitab Al-‘Iqd al-Fakhir karya
Al-Khozroji (w.812 H.)
Begitu pula, sama sekali dalam
kitab ini tidak disebutkan kaitan Syarif Abul jadid dengan keluarga Abdurrahman
Assegaf dan Tarim.
Perhatikan redaksi kitab ini h. 1486-1488:
772 أبو اتٟسن علي بن محمد بن أتٛد بن حديد بن علي
بن محمد بن حديد بن عبد الله ابن أتٛد بن عيسى بن محمد بن علي بن جعفر بن محمد بن
زين العابدين بن علي بناتٟستُ بن علي بن أبي طالب كرم الله وجهو وكان يعرف
عند أىل اليمن بالشريف أبي اتٟديد، وأصلو من حضرموت، من أشراف ىنالك يعرفون بِل
أبي علوي، بيت صلاح وعبادة على طريق التصرف، ومنهم فقهاء مذكورون في مواضعهم من
ىذا الكتاب. وكان ىذا أبو اتٟسن علي بن محمد، فقيهاً صاتٟاً، نًسكاً، ت٣تهداً،
ورعاً، قدم إلى عدن فأدرك القاضي إبراىيم بن أتٛد القريظي، )وأخذ( عنو ات١ستصفى
كما أخذه عن مصنفو، وقدم معو أخ لو اتٝو عبد ات١لك، ثم خرجا من عدن عازمتُ على
زيَرة الشيخ مدافع بن أتٛد - الْتِ ذكره إن شاء الله ت١ا شهر عنو من الصلاح ،فاستفاض عند ات٠اصة
والعامة؛ فقدما عليو إلى قرية الوحيز؛ وىي بوار مفتوحة وحاء مكسورة بعدىا مثناة من
تٖتها وآخر الاسم زاي، وىي قرية من تعز؛ قبالة القرية ات١عروفة بذي ىزنً من مدينة
تعز. فرحب الشيخ مدافع بهما، وأقاما عنده أيَماً، ثم أزوجهما على ابنتتُ لو، وسكنا
بذي ىزنً ويقال: كان بيت الشريف أبي اتٟديد، اتٟائط الذي على باب ات١درسة
النظامية، فأخذ الناس عن أبي اتٟديد( - ات١ذكور - أخذاً كثتًَا، وتٙن أخذ عنو:
محمد بن مسعود السفالي و أبو بكر بن نًصر اتٟمتَي، وأتٛد بن محمد اتٞنيد واتٟسن بن
راشد، ومحمد بن إبراىيم الفشلي، وكان محمد بن إبراىيم الفشلي إذا ذكر عنده أبو
حديد ىذا قال: ىو رجل ثقة كان من اتٟفاظ
وت٦ن أخذ عنو الفقيو )عمرو( بن علي التباعي صاحب بيت حستُ الْتِ ذكره إن شاء الله.
وأقام في اتٞبال مدة طويلة، وصار لو فيها
ذكر شائع، وقصده الناس من أت٨اء اليمن للأخذ عنو، فلما قبض السلطان ات١لك
ات١سعود على الشيخ مدافع - كما سيأتِ ذكره
إن شاء الله تعالى قبض عليو معو؛ فأقاما
في حصن تعز من غرة شهر رمضان سنة سبع عشرة وستمائة إلى سلخ شهر ربيع الأول من سنة
تٙاني عشرة وستمائة ،ثم أنزلا عدن في سفرتهما( إلى ات٢ند، فعصفت الريح تٔركبهم
،فدخلوا ظفار، فلما علم أىل ظفار بالشيخ مدافع وصلوه، وزاروه وأحبوه، وصحبو تٚاعة
منهم، وقالوا لو: إن اختًت أن تقف عندنً فقف، فقال: لا أكون عبداً قراراً. ثم ت١ا
)استون( الريح؛ سافروا في مركبهم حتى دخلوا بلد الرسول؛ فأقاما فيها شهرين وثلاثة
أيَم، ثم خرجا عنها الثلاث خلون من رمضان سنة تٙان عشرة ات١ذكورة ثم سافر إلى
ظفار، فلما دخلاىا فأقاما( فيها تٙانية عشر يوماً، وتوفي الشيخ مدافع، وفتَ بها
على ما سيأتِ ذكره، إن شاء الله تعالى ثم إن الشريف أبا اتٟديد عاد إلى اليمن،
فلما وصلها لم تطب لو اتٞبال فنزل ات٢امة وأقام في زبيد مدة، ثم تقدم إلى ات١هجم
فسكن في قرية يقال ت٢ا : ات١رجف من اعمال سردد ،فدرس مدة في مسجدىا، ثم سافر إلى مكة
ات١شرفة فتوفي بها سنة عشرين وستمائة تقريباً، وكان أبو حديد حافظ )عصره( لم يكن
في عصره لو نظتَ في اليمن في معرفة اتٟديث، والله أعلم.
Kitab Al-‘Iqd al-Tsamin karya
Muhammad bin Ahmad al-Fasi alMaki (w.832 H.)
Begitu pula, sama sekali dalam
kitab ini tidak disebutkan kaitan Syarif Abul jadid dengan keluarga Abdurrahman
Assegaf dan Tarim.
Perhatikan redaksi kitab ini juz 5 hal. 304:
4۱۱9 - علی بن محمد بن محمد بن حديد بن علي بن محمد بن
حديد اتٟسيتٍ اتٟضرمي اليمتٍ: كان يعرف عند أىل اليمن بالشريف أبي اتٟديد. أخذ عن
القاضي إبراىيم بن أتٛد :
القريطي وات١ستصفى العثماني، عن مؤلفو، واحد منو
تٚاعة ،منهم المحدث محمد بن إبراىيم الفضلي، وكان إذا ذكر عنده قال: أبو حديد رجل
ثقة من اتٟفاظ، وكان توجو إلى زيَرة الشيخ مدافع ،ت١ا اشتهر عنو من الصلاح، فلما
قبض ات١لك ات١سعود على الشيخ مدافع، قبض عليو معو، فلما مات الشيخ مدافع، توجو
الشريف أبو اتٟديد إلى مكة وذكر أنو مات بها في سنة عشرين وستمالة .ت٠صت ىذه
التًتٚة من تًريخ اتٞندى، وقال: كان إذ ذاك حافظ عصره، لم يكن لو إذا ذاك في اليمن
نظتَ في معرفة اتٟديث.
Kitab Al-Nafhah al-Anbariyah karya
Muhammad kadzim (w. 880
H.) Begitu pula, sama sekali dalam kitab ini
tidak disebutkan kaitan Syarif Abul jadid dengan keluarga Abdurrahman Assegaf
dan Tarim.
Perhatikan redaksi kitab ini hal. 52.
فهاجر الى الرس فأولد عيسى ومن ولد عيسى السيد
اتٛد ات١نتقل الى حضرموت. فمن ولده ىناك السيد ابي اتٞديد بفتح اتٞيم وكسر الدال
ات١هملة وسكون الياء ات١ثناة من تٖت وبعدىا دال القادم الى عدن في ايَم ات١سعود بن
طغتكتُ بفتح الطاء ات١هملة وسكون الغتُ ات١عجمة وفتح التاء ات١ثناة من فوق ونون
بعد الياء ات١ثناة من تٖت والكاف ات١كسورة ابن ايوب بن شاذي بفتح الشتُ وكسر الدال
ات١عجمتتُ سنة احدي عشرة وستمائة فتوحش ات١سعود منو الامرما فقبضو وجهزه الى ارض
ات٢ند ثم رجع الى حضرموت بعد وفاة ات١سعود. فمن ذريتو تٙة بنو ابي علوي وىو ابو
علوي بن أبي اتٞديد بن علي بن محمد بن اتٛد بن جديد بفتح اتٞيم وكسر الدال ات١هملة
وسكون الياء ات١ثناة من تٖت و دال اخرى بعدىا بن علي بن محمد بن جديد بن عبد الله
بن اتٛد بن
عيسى ات١تقدم الذكر
Kesimpulan:
Keluarga Abdurahman Assegaf (w.818
H.) merampas nama AlAbu Alwi milik keluarga Syarif Abul Jadid. Perampasan itu
secara formal ditulis oleh Ali bin Abubakar al-Sakran (w. 895 H.) dalam
kitabnya Al-Burqat al-Musyiqat. Cara yang ditempuh adalah: pertama mengklaim bahwa
Jadid bin Abdullah (sekitar 400 H.) yang ditulis kitab Al-Suluk (732 H.)
mempunyai adik bernama Alwi dan Bashri; yang kedua mengklaim bahwa Syarif Abul
Jadid (keturunan Jadid bin Abdullah, w.620 H.) mempunyai adik yang wafat di
Tarim bernama Abdullah. Semua klaim Ali al-Sakran itu tidak berdasar sumber
apapun yang bisa dijadikan sebagai rujukan ilmiyah dari sumber sebelumnya.
Nama-Nama Keluarga
Jadid Yang Disebut Al-Suluk Di Akui Keluarga Abdurrahman Assegaf.
Dalam kitab Al-Suluk karya
Al-Janadi (w.732 H.) disebut nama-nama ulama dari keluarga Alu Abi Alwi yaitu
keluarga dari Syarif Abul Jadid (w.620 H.). nama-nama ini kemudian diklaim oleh
Ali al-Sakran sebagai nama-nama keluarga Abdurrahman Assegaf
Ba‘alwi. adapaun teks lengkap dari Al-Suluk (j. 2 h.
463) sebagaimana berikut ini:
وَِمنْ هُم أَبو مَرْوَان لقبا واتْٝو عَليّ بن
أتْٛد بن سَالم بن تُ٤مَّد بن عَليّ كَانَ فقِيها ختَا كَبتَا عَنوُ انْ تشَر
العلم تْضرموت انتشارا موسعا لصلاح كَانَ وبركة في تدريسو وََكانَ صَاحب مصنفات
عديدة وَىُوَ أول من تصوف من بيت أبَا علوي اذ ىم أنما يعْرفونَ بالفقو وَت١ا بلغ
الفَقِيو ذَلك وَإن ىَذَا تصوف ىجره وَت٦نْ تفقو بِأبي مَرْوَان أبو زكََريََّ خرج
مقدشوه فنشر العلم بها وبنواحيها نشرا موسعا وَلم أتٖقق لأحد مِنْ هُم تًَريخا
وَمن بيت أبي علوي قد تقدم تَ٢ُم بعض ذكر مَعَ ذكر أبي جَدِيد مَعَ واردي تعز وىم
بَيت صَلَاح طرِيق وَنسب فيهم تٚاعة مِنْ هُم حسن بن تُ٤مَّد بن عَليّ باعلوي
كَانَ فقِيها يحفظ الوجِيز للغزالي غيبا وكَانَ لوُ عَم اتْٝو عبد الرتْٛن بن
عَليّ بن باعلوي وَمِنْ هُم عَليّ بن باعلوي كَانَ كثتَ العبادَة عَظِيم القدر لَا
يكَاد يفتً عَن الصَّلَاة ثمَّ مَتى تشهد قالَ السَّلَام عَلَيك ايها النبِي ويكرر
ذَلك فقيل لوُ فَ قَالَ لَا ازال افْ عَل حَتَّى ي رد النبي صلى الله عَليْوِ
وَسلم فكَانَ كثتَا مَا يكَرر ذَلك ولعلي ولد اتْٝو تُ٤مَّد ابن صَلَاح وَلو ابن
عَم اتْٝو عَليّ بن باعلوي بعضٕ تفاصيل ابا علوي اتْٛد بن تُ٤مَّد كَانَ فقِيها
فاضلا توفّي سنة تَ قْرِيبا وَعبد الله بن
علوي بَاقٍ الى ا لْْن حسن التَّ عَبد وسلوك التصوف
Dari redaksi itu kita dapatkan kesimpulan bahwa yang
termasuk keluarga Jadid atau Alu Abi Alwi adalah:
1. Abu
Marwan Ali bin Ahmad bin Salim bin Muhammad bin Ali. Ia adalah orang pertama
yang bertasawuf dari keluarga Aba Alwi. murid-murid Abu Marwan diantaranya: Abu
Zakariya yang pergi ke Magdisyu.
2. Hasan
bin Muhammad bin Ali Ba‘alwi
3. Abdurrahman
bin Ali Ba‘alwi (paman dari hasan bin Muhammad bin Ali Ba‘alwi)
4. Ali
bin Ba‘alwi; jika sholat ia selalu mengulang kalimat
―Assalamualaika ayyuhannabiy…‖
5. Muhammad
bin Ali (putra Ali bin Ba‘alwi point 4)
6. Ali
bin Ba‘alwi (sepupu Muhammad bin Ali point 5)
7. Ahmad
bin Muhammad yang wafat 724 H.
8. Abdullah
bin Alwi (masih hidup di tahun penulisan Al-Suluk sebelum tahun 732 H).
Tragedi Abu Marwan
Sebelum dilanjut, pembaca harus
mengingat bahwa Ba‘alwi berbeda dengan Abu Alwi. Ba‘alwi adalah keluarga
Abdurrahman Assegaf yang mengakui berita Al-Suluk tahun 732 H. itu yang
dimaksud adalah keluarga mereka. Sedangkan keluarga Abu Alwi adalah keluarga Jadid
yang disebut kitab Al-Suluk. Dari delapan nama di atas, yang diklaim sebagai
berasal dari keluarga Ba‘alwi Abdurrahman Assegaf ada 7, yaitu selain nomor
satu: Abu Marwan. Walaupun begitu tegas dikatakan Al-Suluk bahwa Abu Marwan
merupakan orang pertama yang bertasawuf dari keluarga Abu Alwi, namun menurut
literature keluarga Ba‘alwi, Abu Marwan bukanlah keluarga Aba Alwi, di sana ada
kesalahan penyalin Al-Suluk, yaitu adanya kalimat yang kurang dalam ibarat
Al-Suluk itu. kita akan melihat bahwa upaya singkronisasi sejarah keluarga
Abdurrahman Assegaf yang terdapat dalam Al-Suluk itu akan kacau balau. Abu
Marwan yang tegas disebut oleh Al-Suluk sebagai keluarga Abu Alwi harus
dieleminir dari daftar karena tidak ada dalam daftar kitab nasab keluarga
Abdurrahman Assegaf (Ba‘alwi) hari ini yaitu Syams alDzahirah. Jika, tidak
dieleminir maka pengakuan mereka sebagai Abu
Alwi yang kemudian menjadi Ba‘alwi
akan terbongkar. Perhatikan kalimat asli
kitab Al-Suluk:
وَمِنْ هُم أبو مَرْوَان لقبا واتْٝو عَليّ بن أ
تْٛد بن سَالم بن تُ٤مَّد بن عَليّ كَانَ فقِيها ختَا كَبتَا عَنوُ انْ تشَر العلم
تْضرموت انتشارا موسعا لصلاح كَانَ وبركة في تدريسو وكَانَ صَاحب مصنفات عديدة
وَىُوَ أول من تصوف من بيت أبَا علوي اذ ىم أنما يعْرفونَ بالفقو وَت١ا بلغ
الفَقِيو ذَلك وَ إن ىَذَا تصوف ىجره
―Sebagian dari mereka adalah orang yang ber-laqab (gelar) Abu Marwan, namanya Ali
bin Ahmad bin Salim bin Muhammad bin Ali. Ia adalah seorang “faqih” (ahli fiqih), orang yang besar
kebaikannya. Darinya ilmu menyebar luas di Hadramaut karena kecakapan dan
keberkahan dalam pengajarannya. Ia mempunyai karangan yang banyak. ia adalah
orang yang pertama bertasawwuf dari keluarga Abu Alwi. karena sebelumnya mereka
hanya dikenal dengan ilmu fikih. Dan ketika sampai kepada Al-Faqih (Abu Marwan)
tentang tasawuf dan bahwa inilah yang disebut tasawuf maka ia meninggalkan
fikih (Al-
Suluk, Juz 2, h. 463)‖.
Lalu bagaimana Ba‘alwi mengakali
teks Al-Suluk tersebut agar nama Abu Marwan hilang dari keluarga Abu Alwi.
perhatikan teks kitab Tuhfat al-Zaman karya Husain al-Ahdal (w.855 H.) yang
ditahqiq oleh Abdullah Muhammad Al-Habsyi. Kitab ini katanya adalah mukhtasar
(ringkasan dari kitab Al-Suluk):
وَمِنْ هُم أبو مَرْوَان عَليّ بن أتْٛد بن
سَالم كَانَ فقِيها كَبتَا انْ تشَر عَنوُ العلم تْضرموت انتشارا كبتَا لصلاحو وبركة تدريسو وكَانَ صَاحب مصنفات وبو تفقو محمد بن علي باعلوي وَىُوَ أول من
تصوف من بيت بَا علوي اذ ىم أنما يعْرفونَ بالفقو والشرف
وَت١ا بلغ الفَقِيو ابا مروان انو تصوف ىجره
―Sebagian dari mereka adalah Abu Marwan Ali bin Ahmad bin
Salim. Ia adalah seorang ―faqih‖ (ahli fiqih) yang
besar. Darinya ilmu menyebar luas di Hadramaut karena kecakapan dan keberkahan
dalam pengajarannya. Ia mempunyai karangan yang banyak. Muhammad bin Ali
belajar ilmu fikih kepadanya. ia adalah orang yang pertama bertasawwuf dari
keluarga Abu Alwi. karena sebelumnya mereka hanya dikenal dengan ilmu fikih dan
syaraf (keturunan Nabi). Dan ketika sampai kepada Al-Faqih (Abu Marwan) bahwa
Muhmamad bin Ali bertasawuf maka ia meninggalkannya.‖[7]
Kalimat yang bergarisbawah itu
adalah tambahan yang tidak ada dari naskah asli kitab Al-Suluk. Dalam tambahan
itu memasukan nama Muhammad bin Ali (Faqih Muqaddam) sebagai murid Abu Marwan
dan menjadikan Abu Marwan bukan sebagai bagian dari keluarga Abu Alwi. siapakah
yang memberi kalimat tambahan itu? apakah Husain al-Ahdal di abad ke-9 H. atau
pentahqiq Abdullah Muhammad Al-Habsy. Kedua-duanya mungkin. Husain al-Ahdal
walaupun bukan dari keluarga Ba‘alwi tetapi ia rupanya dekat dengan keluarga
Ba‘alwi bahkan dalam kitabnya ia menyatakan antara keluarga Ba‘alwi dan
Al-Ahdal adalah saudara sepupu. Tetapi penulis lebih cenderung menuduh
pentahqiq (Abdullah Muhammad AlHabsyi) sebagai pelakunya mengingat beberapa
tahqiqan dia banyak interpolasi dari naskah aslinya seperti ketika ia mentahqiq
kitab AlBaha fi Tarikh Hadramaut karya Ibnu Hisan (w.818 H.).
Hasan Bin Muhammad Bin
Ali Ba’alwi
Nama ini jelas bukan keluarga
Ba‘alwi Abdurrahman Assegaf. Tidak ada nama Muhammad bin Ali dari keluarga
Abdurrahman Assegaf yang hidup di masa Al-Suluk atau sebelumnya yang mempunyai
nama Hasan. Ada dua nama Muhammad bin Ali dari keluarga Abdurrahman Assegaf
yang hidup sebelum masa Al-Suluk yaitu Muhammad bin Ali Sahib Mirbat (w.556 H.)
dan Muhammad bin Ali Faqih Muqaddam (w.653 H.), kedua-duanya tidak mempunyai
anak bernama Hasan.[8]
Abdurrahman Bin Ali
Ba’alwi (d.)
Nama ini pula bukan keluarga Ba‘alwi
Abdurrahman Assegaf. Tidak ada nama Ali dari keluarga Ba‘alwi Abdurrahman
Assegaf yang hidup sebelum Al-Suluk yang mempunyai anak bernama
Abdurrahman.[9]
Ali Bin Ba’alwi
Pemberi Salam Kepada Rasulullah
Ali bin Ba‘alwi yang disebut
Al-Suluk sebagai bagian keluarga Abu Alwi yang selalu mengulang salam kepada Rasulullah
di dalam sholat. Keluarga Abu Alwi ini diklaim oleh Ali bin Abubakar alSakran
sebagai Ali Khali Qasam.[10]
Dalam Al-Suluk disebutkan bahwa Ali bin Ba‘alwi ini mempunyai anak paman
(sepupu) bernama Ali juga. Jelas ia bukan Ali Khali Qasam, karena Ali Khali
Qasam tidak punya paman. Kakeknya Ali Khali Qasam hanya mempunyai satu anak
yaitu Alwi (ayah dari Ali Khali Qasam) [lihat Al-Burqat h.70). Bagaimana orang
yang tidak punya paman bisa mempunyai sepupu (anak paman)? Jelas klaim bahwa
Ali yang disebut Al suluk ini sebagai Ali Khali Qasam adalah mengada-ada.
Ketika telah nyata bahwa Ali bin
Ba‘alwi ini tertolak untuk diasosiasikan kepada Ali Khali Qasam maka dalam buku
yang dikeluarkan Rabitah Alwiyah yang ditulis Hanif Alatas dkk.
Dikatakan bahwa Ali bin Ba‘alwi ini bukan Ali Khali
Qasam tetapi Ali bin Alwi bin faqih Muqaddam yang wafat tahun 699 H. (lihat
buku Keabsahan Nasab Ba‘alwi h. 38-37). Tafsir putar arah ini pun tertolak
karena Ali bin Alwi bin Faqih Muqaddam tidak mempunyai anak paman bernama Ali
juga. Paman-paman nya adalah Abdurrahman, Abdullah, Ali, dan Ahmad semuanya
tidak punya anak bernama Ali (lihat syams al-Dzahirat dan Al-ustadz al-A‘dzam
alFaqih al-Muqoddam karya Abubakar al-Adni bin Ali al-Masyhur h. 110).
Tafsir putar arah ini juga melawan
tafsir dari kitab-kitab Ba‘alwi di abad sembilan dan sepuluh Hijriah seperti
Ali al-Sakran dalam Al-Burqat (h.137), Al-khirid dalam Al-Gurar (h.169). kedua
kitab ini dengan tegas menafsiri Ali bin Ba‘alwi dalam Al-Suluk yang mengulang
salam kepada Rasulillah ini adalah Ali Khali Qosam. Lalu mana yang benar antara
kedua tafsir itu? jawabannya: keduanya tidak benar. Hanya klaim saja dan
cocokologi semata yang tertolak oleh data mereka sendiri.
Setelah kita mengetahui bahwa apa
yang terdapat dalam AlSuluk tidak ada kaitan dengan keluarga Abdurrahman
Assegaf (Ba‘alwi) lalu apakah nasab Syarif Abul Jadid sendiri sebagai keturunan
Ahmad bin Isa ini sahih? Mari kita ulas bersama.
Syarif Abul Jadid Bukan Keturunan
Ahmad Bin Isa
Kitab Al-Suluk fi Tabaqat al-Ulama
wa al-Muluk adalah kitab sejarah yang memuat tentang nama-nama ulama dan
penguasa Yaman. ia ditulis oleh sejarawan dari kota Janad yang bernama
Bahauddin alJanadi (w.732 H.). kitab ini mereportase seorang ulama yang bernama
Syarif Abul Jadid dari keluarga Abu Alwi dan adiknya
yang bernama Abdul Malik. Dari sinilah nanti di abad ke-9 H. keluarga
Abdurrahman Assegaf mengklaim Syarif Abul Jadid ini sebagai bagian keluarga
mereka.
Ketika mengurut silsilah nasab Syarif Abul
Jadid , Al-Janadi menyambungkannya sampai Ahmad bin Isa tanpa menyebutkan dasar
dan sumber otoritatif dari kitab-kitab nasab. silsilah lengkap Syarif Abul
Jadid yang terdapat dalam tiga versi manuskrip kitab Al Suluk adalah: Abul
Hasan Ali (Syarif Abul Jadid) bin Muhammad bin Ahmad bin Jadid bin Abdullah bin
Ahmad bin Isa dst.
Silsilah tersebut tertolak oleh
kitab-kitab nasab yang menulis anak keturunan Ahmad bin Isa. di mana dalam
kitab-kitab nasab ―alqadimah‖ (terdahulu) tidak pernah menyebutkan bahwa Ahmad
bin Isa mempunyai anak bernama Abdullah. Kitab Al-Syajarah alMubarakah (597 H.)
menyebutkan bahwa anak Ahmad bin Isa yang berketurunan adalah tiga orang:
Muhammad, Ali dan Husain. Tidak ada anak Ahmad bernama Abdullah.
Para ahli nasab menetapkan bahwa
kitab sejarah seperti kitab Al-Suluk ini, tidak bisa dijadikan tools untuk
mengitsbat nasab apalagi kitab sejarah itu bertentangan dengan kitab-kitab
nasab.
Dalam Kitab Ushulu ‗Ilmi al-Nasab
wa al-Mufadlalah Bain alAnsab karya Fuad bin Abduh bin Abil Gaits al Jaizani
halaman 76-77 dikatakan:
وعندما ت٨قق النسب فان ات١صادر التى يدكن ان
نستقي منها النسب يجب ان تكون من كتب الانساب القديدة التي كتبت فيما قبل العصر
اتٟديث حيث كان الناس اقرب الى معرفة اصوت٢م
―Dan ketika kita men-tahqiq nasab, maka
sumber-sumber yang memungkinkan kita mengambil darinya, wajib berupa kitabkitab
nasab terdahulu yang ditulis sebelum masa modern, yaitu ketika orang lebih
dekat mengetahui keturunan mereka‖
Perhatikan kalimat ―wajib berupa
kitab-kitab nasab terdahulu‖. Sedangkan Al-Suluk
bukanlah kitab nasab, maka Al-Suluk
tidak memenuhi syarat para ahli nasab untuk menetapkan nasab.
Syekh Al-Nassabah Khalil bin Ibrahim dalam kitabnya Muqaddimat fi „Ilm al ات١عتمدة-Ansab ومراجعوberkata: لا يؤخذ ىذ العلم الا من مصادره
―Ilmu ini (penetapan nasab) tidak bisa diambil kecuali dari
referensi ilmu nasab dan rujukan-rujukannya.‖[11]
Perhatikan kalimat ucapan ahli
nasab ini, bahwa penetapan nasab tidak bisa diambil dari kitab-kitab selain
rujukan penetapan nasab. sedangkan Al-Suluk adalah rujukan sejarawan bukan
rujukan ahli nasab.
Dr.
Abdurrahman bin Majid al-Qaraja dalam kitabnya Al-Kafi al- Muntakhob mengatakan: ولا يقدم تْال على ما يثبتو النسابة خصوصا ان
كانوا اقرب زمانً
او مكانً
―(Sejarawan)
tidak boleh didahulukan dari penetapan ahli nasab khususnya jika ahli nasab itu
lebih dekat masanya atau tempatnya‖[12]
Perhatikan ucapan seorang doktor
dan seorang nassabah (ahli nasab) ini, bahwa sejarawan tidak boleh didahulukan
sama sekali dari apa yang telah ditetapkan ahli nasab. Al-Janadi adalah seorang
sejarawan, ia mencatat nama Abdullah sebagai anak Ahmad bertentangan dengan apa
yang telah ditetapkan ahli nasab abad sebelumnya, maka apa yang telah ditulis
Al-Janadi itu sama sekali tidak bermakna apa-apa dalam penetapan nasab. apalagi
kebiasaan para sejarawan tentang pengakuan nasab itu hanya menulis informasi
yang ia terima tanpa memverifikasinya, karena bagi sejarawan pengakuan itupun
merupakan bagian dari sejarah itu sendiri. Mengenai benar atau tidaknya
pengakuan nasab itu hal lain yang akan dibuktikan kebenaran dan kedustaanya
oleh ahli nasab. Dalam kitab Al-„Ibar karya Ibnu Khaldun
dikatakan:
وكثتَا ما وقع للمؤرختُ وات١فسّرين وأئمّة النقل
من ات١غالط في اتٟكايَت والوقائع لاعتمادىم فيها على ت٣رد النّقل غثا أو تٝينا ولم
يعرضوىا على أصوت٢ا ولا قاسوىا بأشباىها ولا سبروىا تٔعيار اتٟكمة والوقوف على
طبائع الكائنات وتٖكيم النظر والبصتَة في الأخبار فضلّوا عن اتٟق وتًىوا في بيداء
الوىم والغلط
―Dan banyak para sejarawan, ahli tafsir dan para
imam-imam perawi terjadi kesalahan dalam hikayat-hikayat dan kejadiankejadian
karena mereka berpatokan dengan hanya mengutip tidak peduli yang rusak atau
yang baik. Mereka tidak memverifikasinya kepada sumbernya dan tidak mengukurnya
dengan serupanya dan tidak menelitinya dengan standar ilmu dan berdiri terhadap
kebiasaan alam semesta dan menguatkan pemikiran dan bashirah dalam
berita-berita maka mereka tersesat dari kebenaran dan bingung dalam lapangan
dugaan dan kesalahan.‖[13]
Jadi, kitab-kitab selain kitab nasab,
semacam kitab sejarah, tabaqat, sanad, tasawuf, semacam Al-Suluk, Al-Athoya,
Al-Iqd alFakhir, Tuhfat al-Zaman, Al-Jauhar al-Syafaf, Al-Burqat, dan
sebagainya tidak dapat digunakan sebagai pengitsbatan nasab. kitab semacam itu
bisa untuk menguji apakah nama-nama dalam objek kajian itu merupakan sosok
historis atau tidak tetapi tidak bisa digunakan untuk mengitsbat nasab.
pengitsbatan nasab hanya bisa dilakukan oleh kitab nasab yang ditulis memang
untuk mengitsbat nasab semacam kitab Al-Syajarah al-Mubarakah.
Kitab nasab pertama yang
mengitsbat Syarif Abul Jadid adalah kitab Al-Nafhah al-Anbariyah tahun 880 H.
tetapi sayang kitab itu bertentangan dengan kitab-kitab nasab sebelumnya.
Menurut para ahli nasab, sebuah kitab nasab bisa dijadikan tools untuk mengitsbat
nasab hanya jika isinya tidak bertentangan dengan kitab nasab sebelumnya.
Sedangkan, kitab Al-Nafhah ini bertentangan dengan kitab sebelumnya yang
menyatakan bahwa Ahmad bin Isa hanya mempunyai keturunan dari tiga anak yaitu:
Muhammad, Ali dan Husain tidak ada nama Abdullah atau Ubaidillah seperti yang
disebut oleh Al-Nafhah.
Nama Syarif Abul Jadid tidak
pernah sekalipun disebut dalam kitab-kitab nasab sebelum abad sembilan sebagai
keturunan Ahmad bin Isa. Dengan sangat lemahnya nasab Syarif Abul Jadid ini,
keluarga Abdurrahman Assegaf mencangkoknya untuk menautkan diri dengan Ahmad
bin Isa. jika yang dicangkoknya saja tidak sah, maka yang mencangkoknya lebih
tidak sah lagi.
Tuhfat al-Zaman karya Husain
al-Ahdal (w.855 H.)
Kitab sejarah ini, Tuhfat al-Zaman,
adalah kitab ringkasan dari Al-Suluk. Kitab ini disebutkan Hanif dkk. dalam
bukunya itu sebagai dalil nasab Ba‘alwi. sebagaimana telah penulis sebutkan
dalil-dalil para ulama nasab bahwa kitab sejarah tidak bisa dijadikan tools
dalam itsbat nasab. tetapi ada baiknya juga kita bahas kredibilitas kitab ini
apakah ia pantas menjadi referensi atau tidak. Kitab versi cetak yang
diterbitkan oleh Abdullah Muhammad Al-Habsyi ini patut diduga banyak
diinterpolasi, minimal bisa kita katakan kitab ini berusaha menggiring pembaca
untuk memahami kitab Al-Suluk untuk menuju pemahaman tertentu terutama
menyangkut keluarga Ba‘alwi. menurut ahli nasab, sebuah kitab yang ditulis,
ditahqiq, atau dimiliki oleh orang yang berkepentingan nilai hujjahnya hilang. Abdul
Majid al-Qaraja dalam kitabnya Al-kafi
al-Muntkhab: ات١صلحة فان ظهرت مصلحة عند ات١ثبت او النافي
يتًك قولو-5- غالبا ، وقد يعمل بنقيض مصلحتو في حالات ت٥صصة،
ولا يؤخذ بقولو
الا اذا وجد ما يعضده عند غتَه ت٦ن ليست ت٢م مصلحة ولم
ينقلوا عن من لو مصلحة،"
Terjemah:
―Yang kelima adanya al-maslahat (kepentingan). Maka
jika dari seorang yang meng-itsbat dan menafikan (nasab) jelas ada kepentingan
maka biasanya pendapatnya ditinggalkan. Kadang dalam hal-hal tertentu
pendapatnya dapat digunakan jika bertentangan dengan kepentingannya. Dan tidak
dapat diambil pendapatnya kecuali dikuatkan oleh ulama lainnya yang tidak
berkepentingan. Para ulama nasab tidak mengutip dari orang yang punya
kepentingan.‖[14]
Kitab ini sebagaimana telah
penulis sampaikan sebelumnya di tahqiq oleh keluarga Ba‘alwi yaitu Abdullah
Muhammad Al-Habsyi. Dan isinya telah banyak mengalami perubahan dari kitab
asalnya yaitu Al-Suluk. Contohnya ketika menyebut tentang Abu Marwan:
وَمِنْ هُم أبو مَرْوَان عَليّ بن أتْٛد بن
سَالم كَانَ فقِيها كَب تَا انْ تشَر عَنوُ العلم تْضرموت انتشارا كبتَا لصلاحو
وبركة تدريسو وكَانَ صَاحب مصنفات وبو تفقو محمد
بن علي باعلوي وَىُوَ أول من تصوف من بيت بَا علوي اذ ىم أنما يعْرفونَ بالفقو
والشرف وَت١ا بلغ الفَقِيو ابا مروان انو تصوف ىجره
―Sebagian dari mereka adalah Abu Marwan Ali bin Ahmad bin
Salim. Ia adalah seorang ―faqih‖ (ahli fiqih) yang
besar. Darinya ilmu menyebar luas di Hadramaut karena kecakapan dan keberkahan
dalam pengajarannya. Ia mempunyai karangan yang banyak. Muhammad bin Ali
belajar ilmu fikih kepadanya. ia adalah orang yang pertama bertasawwuf dari
keluarga Abu Alwi. karena sebelumnya mereka hanya dikenal dengan ilmu fikih dan
syaraf (keturunan Nabi). Dan ketika sampai kepada Al-Faqih (Abu Marwan) bahwa
Muhmamad bin Ali bertasawuf maka ia meninggalkannya.‖[15]
Teks di atas adalah teks kitab
Tuhfat al-Zaman yang diambil dari kitab Al-Suluk. Dalam teks itu ada tambahan
yang memasukan nama Muhammad bin Ali (Faqih Muqoddam). Perhatikan teks kitab
asli Al-Suluk di bawah ini:
ومِنْ هُم أبو مَرْوَان لقبا واتْٝو عَليّ بن
أتْٛد بن سَالم بن تُ٤َمَّد بن عَليّ كَانَ فقِيها ختَا كَبتَا عَنوُ انْ تشَر
العلم تْضرموت انتشارا موسعا لصلاح كَانَ وبركة في تدريسو وكَانَ صَاحب مصنفات
عديدة وَىُوَ أول من تصوف من بيت أبَا علوي اذ ىم أنما يعْرفونَ بالفقو وَت١ا بلغ
الفَقِيو ذَلك وَإن ىَذَا تصوف ىجره.
Kalimat yang bergarisbawah itu
adalah tambahan yang tidak ada dari naskah asli kitab Al-Suluk. Dalam tambahan
itu memasukan nama Muhammad bin Ali (Faqih Muqaddam) sebagai murid Abu Marwan
dan menjadikan Abu Marwan bukan sebagai bagian dari keluarga Abu Alwi tetapi
hanya sebagai guru Faqih Muqoddam.
Siapakah yang memberi kalimat
tambahan itu? apakah Husain al-Ahdal di abad ke-9 H. atau pentahqiq Abdullah
Muhammad Al-
Habsy. Kedua-duanya mungkin. Husain al-Ahdal walaupun
bukan dari keluarga Ba‘alwi tetapi ia rupanya dekat dengan keluarga Ba‘alwi
bahkan dalam kitabnya ia menyatakan antara keluarga Ba‘alwi dan Al-Ahdal adalah
saudara sepupu. Tetapi penulis lebih cenderung menuduh pentahqiq (Abdullah
Muhammad Al-Habsyi) sebagai pelakunya mengingat beberapa tahqiqan dia banyak
interpolasi dari naskah aslinya seperti ketika ia mentahqiq kitab Al-Baha fi
Tarikh Hadramaut karya Ibnu Hisan (w.818 H.).
Tabaqat al-Khawash al-Syarji
al-Zabidi (w.893 H.)
Salah satu kitab yang ditampilkan
Hanif Alatas dkk. adalah kitab Thabaqat al-Khawash. Kitab versi cetak ini
ditahqiq oleh Abdullah Muhammad al-Habsyi. Kitab versi cetak itu juga telah
mengalami interpolasi atau penambahan-penambahan yang mencederai kehujjahan
kitab itu.
Perhatikan salah satu contoh yang
akan penulis sampaikan mengenai interpolasi kitab versi cetak ini.
Dalam versi cetak dikatakan bahwa
kesepupuan antara Ba‘alwi dan Al-Ahdal bukan sepupu dekat (satu kakek), tetapi
sepupu jauh bertemu di Ja‘far al-Shadiq. Perhatikan redaksi kitab Tabaqat alkhawas versi cetak (h.195)
tersebut di bawah ini:
قدم جده محمد ات١ذكور من العراق ىو وابنا عم لو
على قدم التصوف. فسكن بناحية الوادي سهام، وذىب أحد ابتٍ عمو إلى نًحية الوادي
سردد. وىو جد ات١شايخ بتٍ القديدي، وذىب الثالث الى حضرموت، وىو جد ات١شايخ آل
باعلوي ىنالك ،ونسبو ونسب بتٍ عمو يرجع إلى اتٟستُ بن علي بن أبي طالب رضي الله
عنه، ذكر ذلك الفقيو حستُ الأعدل في تًريخو، وذكر
الفقيو محمد ات١دىجن القرشي في كتابو جواىر
التيجان في أنساب عدنًن وقحطان، ان الاشراف
بتٍ القديدي وبتٍ البحر وبتٍ ات١بحصي وبتٍ
الاحجن وبتٍ قعيش - يرجعون في النسب الى الاشراف اتٟسينيتُ بالتصغتَ، وىم أولاد واحد. وان الاشراف بتٍ الأىدل وآل باعلوي يجتمعون في جعفر الصادق، وىذا ىو الأصح
انتهى وكان الشيخ علي صاحب التًتٚة...
Perhatikan
kalimat yang yang bergaris bawah itu tidak terdapat dalam versi manuskrip tahun
1070 H. seperti di bawah ini:

Di bawah ini
halaman terakhir dari manuskrip Tabaqat alkhawas yang menunjukan tahun 1070
H.
Di bawah ini
halaman pertama manuskrip kitab Tabaqat alKhawas:
Halaman
tersebut menunjukan bahwa manuskrip tersebut disalin oleh Abdul Hadi bin
Abdullah bin Dawud al-Zabidi tahun 1070 H. terdapat di King Saud University
dapat diakses melalui: https://makhtota.ksu.edu.sa/makhtota/2992/4 .
Dari perbedaan versi cetak dan versi
manuskrip itu kita bisa jelaskan bahwa dalam versi manuskrip antara Ba‘alwi dan
Al-Ahdal hanya disebutkan sama-sama keturunan Husain. Sedangkan dalam versi
cetak yang diterbitkan oleh Al-Dar al-Yamaniyah tahun 1986 M. ditambahi
keterangan bahwa keduanya bertemu di kakek bersama yaitu Ja‘far al-Shadiq.
Penambahan atau interpolasi bahwa keduanya bertemu di kakek bersama Ja‘far ini
adalah upaya mensinkronkan jalur silsilah Ba‘alwi yang berubah dari Musa
al-kadzim bin Ja‘far alShadiq kepada Ali al-Uraidi bin Ja‘far al-Shadiq. Karena
jika tidak ada penambahan itu, maka perubahan jalur silsilah itu terlihat lucu.
Di mana, dua saudara sepupu (satu kakek) kemudian silsilahnya berbeda.
Dengan penambahan itu, maka dikesankan bahwa kalimat ―ibnu
al ‗am‖ (sepupu) itu, maksudnya bukan sepupu dekat (satu kakek) tetapi sepupu
jauh. Lalu siapa yang menambahi manuskrip itu? tentu ia yang berkepentingan.
Klaim bahwa
―ibnu ‗am‖ (sepupu) yang dimaksud adalah sepupu jauh tertolak oleh adanya
ibarat Husen al-Ahdal (w.855 H.) sebagaimana di bawah ini:
وحكي لنا عن بعضهم ان محمد ات١ذكور خرج ىو واخ
لو وابن عم فعمد اخوه وابن عمو الى الشرق فذريتو ال با علوي في
حضرموت
Terjemah:
―Diceritakan kepada kami dari sebagian orang, bahwa
Muhammad (bin Sulaiman) tersebut keluar (berhijrah) bersama saudara laki-laki
dan saudara sepupunya. Kemudian saudara laki-laki dan saudara sepupunya itu
menuju timur. Maka keturunan dari saudara sepupunya itu adalah keluarga Ba‘alwi
di Hadramaut‖[16]
Kalimat “Akhun lahu wabnu „ammin” (saudara laki-laki miliknya dan anak
paman) terdapat kalimat yang menghalangi ―ibnu ‗am‖ dimaknai sepupu jauh, yaitu
kalimat ―akhun lahu‖ (saudara lakilaki miliknya). Lafad ―lahu‖ (miliknya) walau
tidak diulang pada kalimat ―ibnu ‗am‖, tetapi dianggap diulang karena adanya
huruf athaf (penyambung) sebelum lafad ―ibnu ‗am‖. Apalagi jika kita melihat
adanya nama-nama yang sama antara keluarga Ba‘alwi dan Al-Ahdal yaitu
nama-nama: Ubaid, Isa, Muhammad dan Alwi, nama-nama itu walau kemudian susunan
urutannya berubah, tetapi mengindikasikan bahwa susunan yang ada hari ini
berasal dari sumber yang sama. Betapapun usaha yang rumit seperti di atas telah
dilakukan tetapi kedua keluarga ini tidak bisa untuk menyambungkan nasab mereka
kepada Nabi Muhammad SAW, karena ketiadaan sumber-sumber kitab-kitab nasab yang
mengkonfirmasi kesahihan nasab mereka. Kitab-kitab nasab yang berjejer dari
abad ke empat sampai sembilan tidak mengkonfirmasi nasab mereka. Susunan nasab
kedua keluarga ini hanya bisa mulai dikonfirmasi pada abad ke-9 dengan berbagai
ketidaksinkronan yang sulit untuk diterima.
Kitab lain
yang ditampilkan Hanif dkk. dalam buku Keabsahan Nasab Ba‘alwi tersebut adalah
kitab Mir‘atul Jinan. Kitab tersebut sama sekali tidak menyebut nama-nama
Abdurrahman Assegaf seperti Faqih Muqoddam, Sahib Mirbath dlsb. Ia hanya
menyebut nama Aba Alwi. sebagaimana dijelaskan bahwa Aba Alwi adalah nama keluarga
milik Syarif Abul Jadid yang tidak ada kaitannya dengan keluarga Abdurrahman
Assegaf.
Kitab lainnya
adalah kitab Al-Athaya al-Saniyah karya Malik al-Abbas (W. 778 H.), kitab
al-Iqd al-fakhir karya Al-khazraji (w. 812 H.), kedua kitab ini menyebut Syarif
Abul Jadid tetapi sama sekali tidak mengaitkannya dengan keluarga Abdurrahman
Assegaf. Ini menguatkan bahwa sebenarnya Syarif Abul Jadid dari keluarga Alu
Abi Alwi ini tidak ada kaitannya dengan keluarga Abdurrahman Assegaf yang nanti
di abad ke-9 mengaku sebagai Ba‘alwi.
Kitab lain nya yang banyak disebut
oleh Hanif dalam buku tersebut adalah kitab-kitab sejarah mulai abad 10 H.
sampai hari ini. semuanya tidak bisa dijadikan referensi dalam penetapan nasab.
sesuai yang dikatakan oleh para pakar nasab:
Dr. Abdurrahman bin Majid al-Qaraja dalam
kitabnya Al-Kafi al- Muntakhob
mengatakan: ولا
يقدم تْال على ما يثبتو النسابة خصوصا ان كانوا اقرب زمانً او مكانً
―(Sejarawan) tidak boleh didahulukan dari penetapan
ahli nasab khususnya jika ahli nasab itu lebih dekat masanya atau tempatnya.‖[17]
Banyak sekali nama kitab-kitab
yang disajikan Hanif dkk. untuk membuktikan keabsahan nasab Ba‘alwi, tetapi
sayang semua kitab itu di atas abad ke 9 H. dan semuanya akan bermuara kepada
satu kitab Ba‘alwi di abad ke-9 H. yaitu Al-Burqat al-Musyiqah. Maka, menurut
pakar nasab, ratusan buku tersebut dihitung hanya satu sumber saja karena hanya
berasal dari satu sumber referensi.
Seorang pakar nasab Khalil bin Ibrahim mengatakan:
لا يحتج بكثرة ات١صادر اذا كانت تنقل من اصل واحد
Terjemah:
―Banyaknya kitab-kitab referensi tidak bisa dijadikan
hujjah jika diambil dari satu sumber.‖[18]
[1]
Hanif dkk…h.27
[2]
lihat
Al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Bagdad juz delapan halaman 569.
[3]
Hanif Alatas dkk….h.30
[4]
Abdul Majid al-Qaraja, Al-Kafi al-Muntkhab, 49
[5]
Hanif dkk…h. 36
[6]
Al-Janadi,
juz 2 h.135-140
[7] Husain al-Ahdal, Tuhfat al-Zaman,
juz 2 h.428
[8]
Lihat
Abdurrahman Al-Masyhur, kitab Syam
al-Dzahirat h.78
[9] Lihat Ibid
[10]
lihat
Al-Burqat h. 137. Dan Al-Anmudaj al-Lathif, h. 209 [dicetak
bersama AlBurqat] ).
[11]
Khalil
bin Ibrahim…h. 86
[12]
Abdurrahman
Qaraja…h.71
[13]
Ibnu
Khaldun, Al-Ibar.. juz 1 h. 13
[14]
Abdul Majid al-Qaraja, Al-Kafi al-Muntkhab, 49
[15]
Husain
Al-Ahdal, Tuhfat al-Zaman, juz 2,
h.428.
[16] Al-Husain bin Abdurrahman
bin Muhammad al-Ahdal, Tuhfat al-Zaman fi
Tarikh Sadat al-Yaman (Maktabah al-Irsyad, San‟a, 1433 H.) juz 2 h. 238
[17] Abdurrahman Qaraja…h.71
[18]
Khalil Ibrahim…h.85

This post have 0 comments
Terima kasih kunjungannya, silahkan beri komentar ...
EmoticonEmoticon