-->

Header Menu

Nahdlatul Film Jilid 2 Wajib Bangkit, Rebut Jagad Perfilman yang Diambil Alih Kubu Radikal

author photo 22.9.19
Publik figur Sineas Nahdliyin jaman dulu. Foto: Istimewa.

Oleh M Zafan

Warta Sunda - Santri itu multi talenta. Kecuali fokus bertafaqquh fiddin (belajar ilmu-ilmu agama), santri juga tidak jarang yang memperdalam seni dan budaya selaku bagian dari tekad bulat menyebarkan Islam melalui instrumen seni dan budaya.

Semenjak dahulu kala, kalangan santri telah tidak asing dengan bermacam instrumen musik, seni suara, maupun film sebagal kanal dakwah Islam rahmatan lil alamin. Menyebut saja Para Sineas andal di kalangan santri seperti Asrul Sani, Usmar Ismail, dan Djamaluddin Malik.

H Usmar Ismail, sang sutradara sekaligus produser. Dia ialah mahaguru perfilman Indonesia yang juga dikenal selaku figur publik Nahdlatul Ulama (NU). H Usmar Ismail dijuluki Bapak Perfilman Indonesia, sedangkan H Djamaludin Malik dikenal selaku Publik figur Film Nasional. Usmar Ismail, Asrul Sani, dan Djamaluddin Malik Adalah 3 serangkai seniman yang kebetulan semuanya berasal dari Sumatera Barat dan menonjol di zamannya. Usmar dan Asrul aktif dan di Lesbumi NU, sedangkan Djamaluddin aktif selaku bagian Ketua PBNU semenjak NU jadi partai politik kala itu.

Pada 28 Maret 1962, Usmar Ismail, Asrul Sani dan Djamaludin Malik mendirikan Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) yang beranggotakan artis, pelukis, aktor film, aktor panggung, sastrawan dan ulama yang mempunyai back-ground seni.

Waktu itu NU merajai jagad perfilman tanah air. Publik figur-tokoh perfilman NU dihormati baik oleh kawan maupun lawan. Publik figur-tokoh sineas nahdliyin seperti H Djamaludin Malik, H Asrul Sani dan H Djamaludin Malik membikin gebrakan perfilman nasional sehingga ratusan bahkan ribuan judul film tidak lepas dari kreatifitas tangan-tangan beliau.

Tapi puluhan tahun belakangan ini, perfilman dikuasai oleh kelompok-kelompok yang notabene anti NU. Sehingga tidak jarang pesan yang disisipkan film-filmnya senantiasa mendiskreditkan NU. Mereka mempergunakan film selaku alat mendoktrinkan alirannya. Akibatnya telah berapa banyak ummat Islam bahwan penduduk NU yang tercekoki paham radikalnya. Melalui film mereka menyusun power kelompoknya yang ujung-ujungnya untuk menghancur-leburkan NU.

Mereka, kubu radikal yang anti NU, seakan menemukan Peluang Baik, menemukan alat yang jitu untuk mendoktrin ajarannya, mengumpulkan milyaran keuntungan yang grand designnya untuk mengobrak-abrik power penduduk Nahdliyin dan keutuhan republik ini. Tidak cuma produsen film layar lebar saja yang disetirnya tapi juga lewat pemuda, maha siswa bahkan siswa SMK ditargetkan supaya memproduksi film pendek dan film dokumenter. Contoh saja untuk kampanye cadar, celana di atas mata kaki, jenggot bahkan khilafah dikemas lewat film-film pendek dan film dokumenter. Lihat saja film produksi anak SMK ini, maha siswa itu, yang isinya mengemban doktrin ajaran radikalisme. Tapi anehnya banyak kalangan muda bahkan anak kecil NU berduyun-duyun menontonnya.

The Santri dengan segala pro dan kontranya sudah memberikan hikmah sekaligus membuka cakrawala peta perfilman yang ternyata dunia sineas dibuat rebutan antara kelompik radikal dan moderat.

Wahai penduduk NU, pemuda NU, santri NU, pelajar NU, maha siswa NU, cendekiawan NU dan aktivis NU, rebut kembali jagad perfilman yang sudah diambil alih mereka kubu radikal garis keras. Ingat dunia perfilman ialah milik kita. Para tokoh-tokoh NU sudah susah payah membenahi konstruksi bangunan perfilman. H Usmar Ismail, H Asrul Sani, H Djamaludin Malik bahkan Gus Dur yang pernah jadi Ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) dan artis-artis NU, sudah membikin blue print perfilman nasional. Jangan sampai jerih payah usaha mereka dipetik hasilnya, dipanen oleh mereka yang nota bene anti NU.

Bangkitlah lewat perfilman, Nahdlatul Film jilid 2 wajib cepat bangkit. Sebab media seni dan budaya amat efektif untuk dijadikan media dakwah. Para Walisongo berdakwah lewat seni budaya (tembang, gamelan, gending, syiir, dll) ternyata terbukti efektif dalam penyebaran agenda dakwah. Lewat film kita sebar Islam rahmatan lil alamin, kita semai Islam moderat sehingga menjelang 1 abad, NU sungguh-sungguh menginternasional sebagaimana simbolnya, tali jagad. [Warta Sunda/pin]













Source link

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement