-->

Header Menu

Kesedihan yang Dialami Oleh Santri Tatkala Wafatnya Mbah Umar

author photo 17.9.19
barisan kiai dan santri nahdliyin
Barisan kyai dan santri nahdliyin. Foto: istimewa
Oleh Muhammad Ishom

Warta Sunda - Pagi itu menjelang pukul 04.00 dini hari, Kamis 11 Ramadhan 1400 H, bersesuaian 24 Juli 1980 M, saya dibangunkan seorang santri senior sekaligus guru yang mengajariku Bahasa Arab di pondok. Waktu itu saya tengah nyenyak tidur di bagian kamar lantai bawah Pondok Lor yang sekarang jadi Ruang Guru Madrasah Aliyah Al-Muayyad. Guru itu bernama Pak Toha Abu Amar asal Gemolong Sragen (Allahu yarhamhu). Seraya mengguncang-guncangkan punggungku, Pak Toha memberi tahukan Mbah Umar baru saja wafat.

“Pak Kyai Umar sedo! Pak Kyai Umar sedo!”

Saya terkejut dan cepat bangun menguping suara itu. Kulihat Pak Toha bersimpuh menangis senggugukan. Akupun sedih dan bingung menguping berita itu karena sebelumnya tidak ada berita serius Soal Mbah Umar. Tetapi saya tidak sanggup meneteskan air mata sebagaimana Pak Toha. Air mataku beku menguping Mbah Umar wafat. Kepergian Mbah Umar untuk selamanya begitu mengguncangkan jiwaku. Saya teringat “hutangku” pada Mbah Umar. Saya teringat sebuah mushaf Al-Quran kecil pojok bersampul merah yang diberikan Mbah Umar kepadaku tidak lama sesudah saya khatam Juz Amma pada tahun 1973. Dalam mushaf itu di halaman depan tercantum namaku dalam huruf Arab yang ditulis tangan sendiri oleh Mbah Umar, pada tanggal 11 Muharram 1393 H.

Dalam kondisi galau di pagi dini hari itu, saya mencoba mengambil sepeda milik Pak Toha. Saya bermaksud menyampaikan berita wafatnya Mbah Umar ke Bulik Umi Kultsum di Jenengan Jayengan Serengan. Saya gayuh sepeda itu meninggalkan Pondok Lor. Baru sampai di jalan sebelah timur Pondok Putri, saya terhenti oleh beberapa masyarakat di kisaran pondok yang keluar dari rumah masing-masing. Mereka berlari-lari kecil ke sumber suara tangis yang mendengung. Mereka mendapati dengung tangis itu berasal dari pondok.

Baca: Cerita Mbah Moen Menebak Marga Habaib yang Bertamu

Betul. Itu ialah paduan tangis ratusan santri Mbah Umar, putra dan putri, semunya menangis serentak. Mereka amat bersedih hati sudah kehilangan Mbah Umar yang mereka cintai dan hormati. Suara tangis itu terdengar dari luar pondok sampai radius puluhan atau bahkan ratusan meter.

“Ini ada apa. Ada apa ini di pondok?” Penduduk kisaran pondok itu menanyakan 1 sama lain.

Saya mencoba menerangkan Mbah Umar baru saja wafat. Mereka pun kaget mendegar berita itu dan menanyakan Mbah Umar sakit apa. Saya tidak dapat menerangkan sebab setahuku Mbah Umar baik-baik saja. Para Jiran itu akhirnya memaklumi mengapa para santri menangis pilu dalam waktu yang sama. Cepat sesudah itu, saya meneruskan perjalananku ke rumah Bulik Umi. Ternyata Bulik Umi sudah menerima berita itu sebelumnya. Saya langsung kembali ke pondok untuk melakukan shalat Shubuh.

Tatkala hari mulai jelas, banyak orang Hadir ke pondok untuk mengkonfirmasi wafatnya Mbah Umar sekaligus meminta info mengenai hal hal-hal yang berhubungan dengan pemakaman beliau. Misalnya, dimana beliau akan dimakamkan dan jam berapa upacara pemakamannya. Saya sendiri tidak ikut terlibat dalam perbincangan penting itu. Saya masih kecil pada waktu itu. Saya baru duduk di bangku kelas 1 (1) Madrasah Aliyah Al-Muayyad.

Tetapi begitu, sesudah ada keputuskan Mbah Umar akan dimakamkan pada hari itu juga ba’da Dzuhur di sebelah barat masjid, sesuai dengan isyarat beliau waktu masih sugeng, saya memperoleh tugas menyampaikan berita duka itu ke Pakde Adnan di Pundung Tegalgondo Klaten. Pakde Adnan ialah salah seorang adik ipar Mbah Umar yang nikah dengan adik beliau bernama Bude Djawahiroh. Dengan naik Colt (semacam angkot) jurusan Delanggu, saya ke Tegalgondo untuk lantas naik dokar ke rumah Pakde Adnan.

Ditugaskanya saya menyampaikan berita itu ke beliau sebab saya dipandang cukup tahu alamat tersebut. Apalagi beberapa waktu sebelumya saya sudah ditugaskan ke sana untuk menyampaikan berita wafatnya Mbah Nyai Muslihah, istri ketiga Mbah Kyai Abdul Mannan. Wafatnya Mbah Nyai Muslihah itu sendiri kebetulan juga tidak lama sesudah meninggalnya adikku bernama Ma’muroh dalam usia 3 tahun.

Sebelum saya memohon diri ke Pakde Adnan untuk cepat kembali ke Solo, Pakde Adnan sempat menceritakan bahwa dapat saja sesudah wafatya Mbah Umar akan ada saudara yang meninggal dunia. Betapa terkejutnya saya waktu kira-kira 40 hari sesudah wafatnya Mbah Umar, saya menguping berita Pakde Adnan wafat. Innalillahi wa inna iliahi rajiun.

Kejadian kematian beruntun dalam lingkaran kerabat dekat itu Memperingatkan saya pada mitos Jawa bahwa orang yang meninggal di hari Sabtu akan mengajak saudara dekat. Adikku Ma’muroh, yang tidak lain ialah keponakan Mbah Umar dan cucu Mbah Nyai Muslihah, sungguh meninggal dunia pada hari Sabtu. Tetapi sekali lagi, ini hanyalah mitos yang tidak dapat dipercayai kebenarannya. Ibuku sendiri, Mbah Ngis Sakdullah binti K.H. Abdul Mannan juga wafat pada hari Sabtu di bulan Ramadhan 4 belas tahun lantas, ialah tahun 1994. Tidak ada saudara dekat yang meninggal dalam rentang waktu tidak lama sesudah beliau.

Pas pukul 11.00 siang saya telah Ada kembali di pondok. Suasana telah amat ramai dengan banyaknya tamu yang hendak men-shalat-kan beliau dan ikut upacara pemakamannya. Begitu banyak orang men-shalat-kan jenazah Mbah Umar, dan ini berlangsung iring-iringan untuk iring-iringan. Iring-iringan ke-1, ke-2, ketiga dan seterusnya. Masing-masing iring-iringan jemaah shalat jenazah dipimpin oleh seorang kyai terkemuka. Banyak kyai besar datang dalam upacara pemakaman Mbah Umar. Beberapa diantaranya ialah Mbah Kyai Ali Ma’shum dari Krapyak Bantul Yogyakarta dan Mbah KH Adlan Aly dari Cukir Jombang.

Hadirnya para kyai besar dalam pemakaman Mbah Umar ialah wajar sebab Mbah Umar sendiri sungguh kyai besar. Banyak dari mereka memondokkan putra atau putrinya di Mangkuyudan. Misalnya, Mbah Ma’shum Lasem memondokkan beberapa cucunya bernama Mas Muhammad Zaim, Mbak Nur Jihan dan Mbak Nur Inayah. Ketiganya ialah putra dan putri Mbah Kyai Ahmad Syakir; Mbah Kyai Ali Ma’sum memondokkan putri beliau yang bernama Mbak Durroh Nafisah; Mbah Kyai Mufid Sunan Pandanaran Sleman memondokkan Mbak Sukainah dan Mbak Wiwik Fashihah; Mbah Kyai Hasan Mangli Magelang memondokkan Mbak Nimaunah dan Mbak Nibariyah.

Dari Jawa Barat, Prof. K.H. Anwar Musaddad Garut memondokkan putranya bernama Mas Thonthowi Jauhari. Dari Jawa Timur, Mbah Kyai Ahmad Shiddiq Jember memondokkan putri sulungnya bernama Mbak Asni Furoidah. Itu belum termasuk kehadiran Mbah Kyai Mundzir Kediri yang sering mengunjungi ke Mbah Umar sewaktu-waktu. Beliau sering dimohon Mbah Umar mengimami jemaah shalat fardhu di masjid. Mbah Mundzir dipercayai secara luas selaku seorang wali. Seperti ini pula Mbah Hasan Mangli Magelang dan Mbah Ma’sum Lasem.

Seluruh itu jadi bukti Mbah Umar ialah seorang Kyai yang amat dihormati meski beliau memilih hidup sederhana. Kesederhaan yang jadi bagian dari zuhud Mbah Umar itulah yang menjadikan beliau dihormati diantara kiai-kiai berpengaruh. Hal ini diakui sendiri oleh Kyai Syukron Makmun, pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta, waktu saya mengunjungi ke pesantren itu pada tahun 1985-an.

Siapapun tahu Mbah Umar di Mangkuyudan menghuni sebuah rumah sederhana. Apa yang disebut ndalem Mbah Umar hanyalah sebuah bangunan kecil berdinding anyaman bambu atau gedek dengan sedikit tembok diatas pondasi. Tatkala ndalem tersebut diperlukan untuk perluasan pondok putri, Mbah Umar mengalah dan rela geser kamar di pondok putra yang sebelumnya dihuni para santri. Di sebuah kamar yang sederhana itulah Mbah Umar wafat dalam usia 63 tahun di waktu sahur.

Mbah Umar semasa hidupnya sungguh tidak suka ngematke atau nggondeli hal-hal yang bersifat duniawi. Beliau tidak kersa mirsani TV ataupun mendengarkan musik-musik yang cuma akan mengganggu dzikir beliau ke Allah SWT. Beliau seorang sufi dan hafidz Quran yang selalu menjaga hafalannya. Beliau tidak meninggalkan rumah dan tanah yang beliau miliki semasa hidupnya kecuali sudah diwakafkan untuk pondok.

Tatkala jam bandul di masjid sudah memperlihatkan pukul 12.03 waktu Istiwak, dikumandangkanlah adzan Dzuhur. Para pelayat pun lantas melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah yang juga bergelombang. Waktu itu kondisi di masjid dan sekitarnya telah kian padat dan berjejal dengan tamu-tamu yang hendak memberikan penghormatan terakhir pada Mbah Umar. Nyaris semuanya ingin mendekat pada jenazah Mbah Umar secara fisik dengan harapan dapat menyentuh atau setidaknya mendekat peti jenazah yang tengah disemayamkan di masjid. Tua dan muda berebut Peluang mendekat pada peti jenazah Mbah Umar.


Barisan Kyai dan Santri Nahdliyin



Tatkala jemaah shalat Dzuhur telah dirasa cukup, dan upacara pemakaman yang ditandai dengan beberapa pidato sambutan dari bermacam pihak sudah bakda, maka Dilakukan shalat jenazah terakhir. Waktu itu menjelang pukul 13.30 WIB, dan tibalah saatnya mengusung peti jenazah Mbah Umar untuk lantas diturunkan dari masjid. Seterusnya peti akan dibawa ke tempat pemakaman yang jaraknya dari mihrab masjid tidak lebih dari 3 meter. Dengan diiringi bacaan La ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah yang terus menerus diulang oleh ribuan pelayat seraya menderaikan air mata, baik putra maupun putri, peti jenazah Mbah Umar diangkat oleh sanak saudara, handai tolan dan para santri senior.

Suasana duka kian terasa waktu peti jenazah Mbah Umar mulai diusung. Tidak ada muka ceria. Semuanya murung dalam kesedihan yang mendalam. Tidak ada canda dan tawa. Tidak ada kata terucap dari bibir para pelayat kecuali lantunan dzikir dan tahlil dalam linangan air mata. Seluruh merasa kehilangan Mbah Umar, seorang kyai hafidz Quran semenjak usia belasan tahun. Seorang kyai yang dikenal saleh semenjak masa kecil. Beliau tidak pernah menyakiti orang lain. Beliau rendah hati, suka bermusyawarah dan berlaku adil. Mbah Umar amat halus dalam sikap dan kata kata. Tetapi kelembutan hati Mbah Umar sanggup menghentikan kenakalan dan aksi anarkis hati santri-santri yang dicintainya.

Pada waktu peti jenazah Mbah Umar mulai bergerak, waktu itulah awal krisis terjadi sebab para pelayat yang jumlahnya ribuan itu Mendadak ingin mengungkapkan rasa hormat dan baktinya ke Mbah Umar dengan cara masing-masing. Ada yang ingin menyaksikan peti jenazah Mbah Umar dari jarak dekat. Ada yang ingin menyentuh peti jenazah atau kain yang menutupinya meski cuma sekejap. Tetapi kebanyakan ingin ikut mengusung peti jenazah beliau sampai makam yang sudah dipersiapkan. Padahal mereka yang sudah sukses memegang peti jenazah ogah melepaskannya. Mereka bersikukuh untuk tetap mengusungnya sampai tempat pemakaman.

Sementara itu mereka yang belum sukses memegang peti jenazah, terus bergerak dari seluruh arah. Mereka berdesak-desakan dan berebut Peluang. Tentu saja ini menghambat perjalalan peti jenazah Mbah Umar khususnya mereka yang bergerak dari arah depan. Peti jenazah itu terhenti dan tidak sanggup dimajukan kedepan barang selangkahpun. Waktu itu posisi peti jenazah telah Ada di sebelah utara masjid yang sungguh ruangnya tidak cukup luas.

Walaupun jarak tempuh ke makam tinggal beberapa meter saja, perjalanan untuk sampai ke sana tidak semudah yang dibayangkan. Banyak pelayat yang mencintai Mbah Umar ingin memperlihatkan cintanya ke beliau dalam waktu yang sama. Mereka juga bermaksud tabarruk. Apalagi hari itu di bulan Puasa yang full berkah. Mereka berkeinginan dicatat malaikat selaku santri Mbah Umar ila yaumil qiyamah.

Dalam kondisi seperti itu, tampillah seorang serdadu Angkatan Darat berpangkat mayor. Beliau ialah Mayor Mashadi, seorang wali santri yang tinggalnya di kampung Sampangan Pasar Kliwon. Dengan suaranya yang lantang, Mayor Mashadi menghimbau supaya para pelayat tidak berebut mengusung peti jenazah. Mereka diminta kesadarannya untuk memperlancar jalannya peti jenazah. Himbauan Mayor Mashadi tidak cepat diindahkan. Mayor Mashadi menaikkan nada suaranya dengan berbicara lebih lantang. Mayor Mashadi terpaksa berteriak untuk melarang mereka yang bermaksud mendekat peti jenazah Mbah Umar. Mayor Mashadi mulai kehabisan suaranya.

Dengan dibantu banyak orang, Mayor Mashadi tidak putus asa. Beliau terus berusaha menertibkan para pelayat supaya tidak mendekat apalagi menyentuh peti jenazah yang sungguh telah ada orang-orang yang dipersiapkan untuk itu. Usaha keras Mayor Mashadi mulai membuahkan hasil. Perlahan-lahan peti jenazah Mbah Umar mulai bergerak lagi sampai akhirnya sampai di makam. Perjalanan jarak pendek yang cuma sejauh kira-kira 45 meter itu ternyata mesti ditempuh dalam waktu cukup lama. Kira-kira 45 menit atau bahkan 1 jam. Sulit dipercaya. Tetapi itulah keadaannya.

Sesampai di makam, jenazah Mbah Umar lantas dimasukkan ke liang lahat disertai ritual pemakaman seperti adzan dan iqomah. Saya tidak tahu atau telah tidak ingat lagi siapa kyai yang memimpin ritual pemakaman beliau. Jarak pandangku ke makam Mbah Umar dari tempat saya berdiri di sudut barat laut masjid, yang sekarang dibangun tempat wudhu dan kamar kecil, tidak memungkinkan saya untuk melihat dan menguping saban kejadian yang terjadi disana. Berlebihan banyak orang berjejal di depanku. Mereka berebut Peluang untuk dapat mengantarkan jenazah Mbah Umar sampai beliau dikebumikan, dibacakan talqin dan doa.

Menjelang Ashar upacara pemakaman Mbah Umar sudah bakda. Beberapa orang mulai meninggalkan makam. Namun saya tidak cepat beranjak dari tempat saya berdiri termangu dan kaku. Air mataku yang semenjak dini hari beku, di sore hari itu mulai meleleh dan menitik setetes untuk setetes. Saya tidak sanggup menahan tangis itu. Saya biarkan air mataku jatuh bercucuran membasahi bumi. Cuma tangis itu yang dapat saya lakukan untuk mengungkapkan semua kesedihanku. Saya amat terpukul dengan kepergian Mbah Umar untuk selamanya. Saya amat bersedih sebab belum sanggup melakukan dhawuh beliau sampai beliau wafat. Padahal beliau telah berbuat banyak dalam memberikan Peluang semenjak masa kanak-kanakku sampai remaja.

Semenjak hari itu saya cuma dapat merindukan Mbah Umar. Beliau tidak saja guruku yang mengajariku mengaji Al-Quran dari alif ba ta, tetapi sekaligus pakdeku, abang dari ibuku. Tatkala ayahku Mbah Dullah dalam kerepotan, Mbah Umar memberi jalan keluar. Beliau yang memberi namaku dan mengkhitankan saya waktu umurku sudah cukup. Beliau sering memberiku uang untuk potong rambut. Tatkala saya menangis di pagi hari pada tanggal 10 saban bulan sebab belum dapat membayar SPP, Mbah Umar senantiasa menguping tangis itu. Diutusnya Mbah Ti ke rumahku untuk memberikan uang SPP. Lalu bergegaslah saya berangkat ke sekolah SD dengan berlari dan rasa bangga pada Mbah Umar.

Baca: Faqir Jadi Pilihan Hidup Al-Imam Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami

Saat ini tinggallah rinduku pada beliau dalam semua hidup dan jiwaku. Rinduku abadi. Rindu yang takkan pernah terobati. [dutaislam/ka]

Dimuat di Majalah Serambi Al-muayyad, Edisi 04/Th. II/Juli 2013/Ramadhan 1434 H









Source link

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement