Kiyai Baidhowi (Mbah Dowi) Ingatkan Bahaya “Habib Palsu” atau Dzuriyah Palsu
Kiyai Baidhowi (Mbah Dowi) Ingatkan Bahaya “Habib Palsu” dan Serukan Jaga Bangsa Lewat Pendidikan Keluarga. Kiai Baidhowi, yang akrab disapa Mbah Dowi
Warta Batavia - Kiyai Baidhowi (Mbah Dowi) Ingatkan Bahaya “Habib Palsu” dan Serukan Jaga Bangsa Lewat Pendidikan Keluarga. Kiai Baidhowi, yang akrab disapa Mbah Dowi, kembali menyampaikan tausiah khasnya melalui kanal YouTube Wong Ndeso. Dalam tayangan berdurasi lebih dari 35 menit itu, ia melontarkan kritik terbuka terhadap fenomena “habib palsu” dan sekelompok muhibbin yang dinilainya tidak jelas. Ia juga menekankan bahwa mencintai tanah air dan mendidik keluarga adalah bagian dari iman.
Video itu langsung menyedot perhatian warganet. Mbah Dowi membuka tausiah dengan doa agar seluruh penontonnya diberi petunjuk keselamatan dan kesuksesan dunia akhirat. “Dijadikan orang yang diampuni dan diridai oleh Allah dan dijadikan orang alim oleh Allah,” ujarnya di menit-menit awal.
Hidup untuk Senang-senang yang Bermanfaat
Ia mengingatkan bahwa tujuan penciptaan manusia di muka bumi adalah untuk senang-senang yang memberi faedah. “Allah menciptakan kita tidak ada tujuan lain yaitu untuk senang-senang di muka bumi ini. Tujuannya agar bermain yang ada faedahnya. Faedahnya apa? Bermain di dunia bisa cerita sambil ngerokok,” katanya dengan gaya ceplas-ceplos. Meski demikian, ia menekankan bahwa kebahagiaan itu harus selaras dengan petunjuk Allah agar tidak terjerumus.
“Habib Palsu” dan Muhibbin yang Dipersoalkan
Mbah Dowi secara blak-blakan menyoroti soal habib palsu. Ia menyampaikan rasa kasihan kepada para muhibbin yang dinilainya “kepanasan” karena membela sosok yang belum tentu asli. “Ini kasihan ini. Woi, kasihan lu. Lu kasihan para muhibbin-muhibbin. Habib palsu kepanasan. Nyerocos sono, nyerocos sini. Habib palsu loh. Yang tidak palsu ya enggak masalah,” tuturnya.
Ia meminta agar publik bisa memilah sendiri. “Kalau kamu enggak palsu ya enggak urusan. Yang palsu ya terserah lah, cari sendiri barangkali ada yang palsu. Kalau barangkali itu namanya asli, ya kan pasir batu itu asli, bukan asal lah,” tambahnya.
Mempertanyakan Klaim “Berjuang untuk Ulama”
Salah satu bagian yang paling tajam adalah ketika Mbah Dowi mempertanyakan klaim sejumlah pihak yang mengaku berjuang membela ulama. “Wei, berjuang. Berjuang apaan lu? Dikira kamu asal ngomong berjuang. Berjuang sekuat tenaga. Tenaga apaan? Tenaga orang hutan, tenaga gajah. Sok NKRI, sok memperjuangkan ulama, sok-sokan apa lu?” katanya.
Ia menantang mereka yang mengaku melindungi orang alim dari luar negeri. “Orang alim dari Hongkong. Rimu bisa ngaji ora, ngomong juang orang alim. Alim apaan? Alim dari mana? Tanda-tandanya apa?” ucapnya dalam logat Jawa yang kental. Menurutnya, tanda kealiman bukan sekadar penampilan: “K ngaji kapan wong ora iso moco kitab diarani ngalimane nganggo jubah imamah kemudian dengan zikirnya dikira ngalim, belum tentu bro.”
Didik Istri dan Anak Dulu Sebelum Bicara Menjaga Ulama
Mbah Dowi berulang kali menekankan perintah Rasulullah untuk memulai perbaikan dari unit terkecil: keluarga. Ia mengutip prinsip anfusakum wa ahlikum (dirimu dan keluargamu). “Lek kowe no ulama nganggo aturane Rasulullah. Rasulullah iku opo perintahe? Pinterno anakmu, pinterno bojomu. Bojomu wis pinter apa ora? Wis mulang bojone apa ora? Wis mulang anake apa ora? Seneng bokong lali donondong,” tegasnya.
Ia menyayangkan mereka yang sibuk meneriakkan jargon menjaga ulama tetapi lalai mendidik istri dan anak. “K Rasulullah kon minterno anake, kon minterno bojone sebabe opo? Wong wedok iku ala jadi salah pendidikan. Anak dewe ora iso ngaji apa maneh mulang bojone ora petos mulang anake, ngomong ulama menjaga ulama,” paparnya. Menurutnya, melindungi ulama harus dimulai dari diri sendiri dan orang terdekat, sebab istri adalah madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anak.
Ulama, Budaya, dan Kedaulatan NKRI
Pada segmen selanjutnya, Mbah Dowi menghubungkan peran ulama dengan kebudayaan Nusantara. “Yang namanya ulama bisa menempat dalam suku budaya apapun di Indonesia. Maka mengikuti budaya Indonesia. Wali Songo mengajarkan ilmu pewayangan mengikuti budaya Jawa. Matamu picak, orang mikir yang justru menjadi hasanah Indonesia tidak pernah dihapus oleh para ulama-ulama pejuang Wali Songo dan ditopang oleh kesultanan,” katanya.
Ia mengecam pihak yang disebutnya “matanya buta” terhadap sejarah bangsa, dan menolak pernyataan yang hanya menyandingkan ulama dengan NKRI tanpa memahami fondasi negara. “NKRI itu terbangun dari apa? Delok omonge keliru. Apa yang masuk pada otak kamu hingga bisa matamu buta, mulutmu bisu, perilakumu tidak jelas tertutup hanya nafsu-nafsu setan. Bangsamu kau lupakan, budayamu kamu lupakan. Budaya nenek moyangmu sendiri kamu injak-injak,” ucapnya.
Mbah Dowi menegaskan bahwa negara ini dibangun untuk menjaga keharmonisan. Harmoni itu bertumpu pada tiga kebenaran: benar menurut Allah, berpedoman pada kitab-Nya, serta mengambil keputusan dengan petunjuk Allah, bukan membela individu secara membabi buta. “Karena Allah membuat negara ini, tujuan negara ini agar menjaga keharmonisan. Satu, benar menurut Allah Subhanahu wa taala. Maka kita mengambil keputusan dengan pertimbangan-pertimbangan petunjuk Allah, yaitu kitabun. Bukan petunjuk diasmu, bukan membela membabi buta,” tegasnya.
Peringatan Keras: Jangan Mendustakan Petunjuk Allah
Dengan nada semakin tinggi, ia mengingatkan risiko bagi siapa pun yang mendustakan petunjuk Allah, sekecil apa pun. “Karena kamu sudah mendustakan petunjuk Allah, maka kamu tidak akan kemasukan petunjuk yang ada di bumi maupun di langit. Maka hatimu pasti mati dan kamu tidak punya keyakinan,” katanya.
Ia bahkan menyebut bahwa sejarah, para syuhada, dan pahlawan Indonesia akan menuntut mereka yang bersikap sembrono terhadap bangsa. “Sejarah Indonesia dan para ulama syuhada wasalihin yang menjadi tumbal bangsa ini pasti akan menuntut. Tunggu saatnya. Jangankan para syuhada, setan, jin, dan dunia gaib yang sesat sekalipun tidak akan terima karena cocokmu asal,” ujarnya.
Kisah Hikmah: Sayidina Ali dan Iblis Takut pada Hati yang Ingat Allah
Di sela-sela tausiahnya, Mbah Dowi menyelipkan dua kisah penuh hikmah. Pertama, kisah Sayidina Ali yang tetap menanam pohon di usia tua. Ketika ditanya alasannya, Ali menjawab bahwa ia telah memakan hasil tanaman orang-orang yang telah wafat, maka ia harus menanam untuk generasi sesudahnya. “Jangan menanamkan kemincl-minclian taklid buta,” pesannya.
Kisah kedua tentang dialog Rasulullah dengan iblis. Iblis mengaku tidak berani mengganggu jemaah sebuah musala, bukan karena imam atau makmumnya orang alim, melainkan karena ada orang gila yang tidur di bawah beduk. “Karena hatinya tidak pernah putus mengingat Allah,” jelas Mbah Dowi. Ia menggunakan kisah ini untuk menunjukkan bahwa ukuran kealiman bukan pada penampilan lahiriah semata.
“Saya Wong Gemblung”: Penutup dengan Doa dan Pesan Kebangsaan
Menjelang akhir video, ia merendah dengan menyebut dirinya “wong gemblung” (orang gila) yang bicara sendiri. “Masalahnya saya sudah lari dari kenyataan dan kehidupan. Saya hanya hidup tidak mengerti tentang kehidupan,” katanya. Ia berpesan agar siapa pun yang mendengar perkataannya tidak tersinggung, karena jika tersinggung bisa jadi hatinya telah mati dan jauh dari rahmat Allah.
Tausiah ditutup dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan doa agar seluruh penontonnya mendapat petunjuk siratal mustaqim (jalan yang lurus). Ia juga mengingatkan kembali pentingnya menjaga keutuhan bangsa. “Akhirnya kita harus menjaga bangsa Indonesia. Hubbul wathan minal iman. Jangan pernah kita relakan sejarah bangsa Indonesia, sejarah Wali Songo, sejarah kesultanan diusik oleh siapapun. Kedaulatan bangsa, perbedaan dari berbagai suku kita jaga,” tegasnya.
Mbah Dowi menutup dengan kalimat penyemangat: “Sampaikan kebenaran walaupun kamu akan dikejar-kejar oleh siapapun. Jangan pernah takut karena hidup itu hanya satu kali.” Ia pun meminta dukungan penonton untuk membagikan video Wong Ndeso agar semakin banyak yang mendapat pencerahan.
Dengan gaya bicara yang lugas dan kadang mengundang gelak tawa, video ini kembali menegaskan posisi Mbah Dowi sebagai pendakwah yang tak segan menyentil fenomena sosial keagamaan masa kini. Pesannya tentang pentingnya mendidik keluarga, mencintai tanah air, dan waspada terhadap klaim kealiman yang menyesatkan menjadi benang merah sepanjang tausiah. (Qodra Arispati)
Simak videonya di YouTube:



