Rhoma Irama Sebut "Haul Solo" dan "Haul Gresik" Bentuk Penjajahan Spiritual: “Itu Menghina Wali Songo”
Baca pernyataan lengkap Rhoma Irama tentang fenomena "Haul Solo" dan "Haul Gresik" yang disebutnya sebagai bentuk penjajahan spiritual dan penghinaan
Warta Batavia - Raja Dangdut Rhoma Irama sebagai tokoh Kasepuhan PWILS Pusat kembali melontarkan kritik pedas terhadap fenomena keagamaan yang menurutnya telah melenceng menjadi alat ambisi politik dan penjajahan spiritual. Dalam sebuah wawancara yang viral di media sosial, Rhoma menyoroti praktik penamaan haul para habaib yang menggunakan nama daerah, seperti "Haul Solo" dan "Haul Gresik".
Ambisi Menguasai Indonesia Secara Spiritual
Rhoma Irama membuka pernyataannya dengan nada tegas. Menurutnya, ada satu cara yang saat ini digunakan oleh kelompok tertentu untuk mewujudkan ambisi besar mereka. “Salah satu cara bagaimana ambisi mereka, syahwat politik mereka untuk menguasai Indonesia secara spiritual,” ujar Rhoma dalam cuplikan wawancara yang diunggah kanal YouTube.
Pria yang akrab disapa Bang Haji itu tidak serta-merta menuduh tanpa bukti. Ia mengajak publik untuk mencermati pola peringatan haul para habaib yang belakangan marak digelar di berbagai kota besar di Indonesia. Menurut Rhoma, di sinilah letak persoalan utama yang selama ini luput dari perhatian masyarakat luas.
Haul Solo dan Haul Gresik: Bukan Sekadar Nama
Rhoma menyoroti dua contoh konkret: Haul Solo dan Haul Gresik. Ia mempertanyakan mengapa peringatan haul di kota-kota tersebut tidak menggunakan nama tokoh yang dihauli, melainkan langsung mengklaim nama daerah.
“Contoh misalnya haul Solo, itu haul Habib Ali Muhammad Al Habsyi. Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi. Tokoh menciptakan Simud Duror. Dia lahir di Yaman, meninggal di Yaman. Dihaulin di Solo. Buatlah haul di Solo. Aul siapa? Habib Ali. Tapi jangan sebut nama haul Solo,” tegas Rhoma menirukan logika yang seharusnya benar.
Namun, kenyataan di lapangan berbeda. “Dengan mengatakan haul Solo, dia telah mengklaim bahwa Solo itu punya Habib Ali,” ujar Rhoma dengan nada geram.
Ia menambahkan, klaim semacam ini bukanlah hal kecil. “Ini kan mengklaim nama daerah sebagai milik habaib. Luar biasa ini. Bukan hal kecil ini,” tandasnya.
Solo Punya Sultan dan Ulama, Bukan Hanya Habib Ali
Rhoma Irama menegaskan bahwa kota Solo tidak bisa diklaim sepihak oleh siapapun, termasuk oleh seorang habib yang lahir dan wafat di Yaman. “Solo itu ada yang punya. Ada sultannya, ada pemerintahnya, ada ulama-ulamanya. Bukan punya Habib Ali,” ujarnya.
Ia mempertanyakan logika di balik penamaan tersebut. “Kenapa harus dibilang haul Solo? Bilang aja haul Habib Ali di Gresik,” sindir Rhoma.
Sindiran ini langsung mengarah pada contoh kedua yang dinilainya lebih kontroversial, yaitu Haul Gresik.
Menghina Sunan Gresik, Wali Songo Pertama
Rhoma mengungkapkan kekesalannya yang paling dalam ketika membahas Haul Gresik. Menurutnya, Gresik memiliki sejarah spiritual yang jauh lebih agung dan tua, yaitu sebagai pusat dakwah Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), tokoh pertama Wali Songo.
“Kota Gresik itu tempatnya Sunan Gresik. Wali Songo yang pertama datang. Pada 1400-an itu di Gresik. Kalau mau pakai nama Haul Gresik, yang pantas adalah Haul Sunan Gresik. Itu iya,” tegas Rhoma.
Namun, kenyataannya berbeda. “Ini enggak ada di Gresik seorang habib bernama Abu Bakar bin Muhammad Assegaf. Katanya wali kutub, meninggal di Gresik. Dihaulin habib Abu Bakar dengan nama Haul Gresik. Masyaallah. Diklaim daerah itu,” jelas Rhoma.
Bahkan Rhoma menyebut praktik ini sebagai tindakan yang menghina Wali Songo. “Sehingga haulnya dengan nama haul Gresik ini, terus terang, menghina yang namanya Wali Songo Sunan Gresik,” ucapnya dengan tegas.
Penjajahan Spiritual yang Halus
Apa yang disampaikan Rhoma Irama sebenarnya bukan sekadar persoalan nama. Lebih dari itu, ini adalah kritik terhadap upaya penguasaan simbol-simbol kebudayaan dan spiritualitas lokal oleh kelompok tertentu.
Dalam perspektif Rhoma, ketika sebuah daerah yang memiliki sejarah panjang dengan ulama Nusantara—seperti Solo yang identik dengan Keraton dan Gresik dengan Wali Songo—tiba-tiba diklaim melalui nama sebuah haul, maka itu sama saja dengan upaya penghapusan memori kolektif masyarakat.
“Luar biasa ini, secara menjajah spiritual itu klaim-klaim,” tegas Rhoma.
Ia menyebut praktik ini sebagai bentuk imperialisme budaya yang halus namun berbahaya. Masyarakat awam mungkin hanya melihat acara haul sebagai ritual keagamaan biasa. Namun, di balik itu, ada pesan tersirat bahwa daerah tersebut berada di bawah pengaruh spiritual kelompok tertentu.
Reaksi Publik dan Ulama
Pernyataan Rhoma Irama ini sontak viral dan memecah opini publik. Di satu sisi, banyak tokoh Muslim dan budayawan yang mendukung kritik Rhoma. Mereka menilai selama ini memang ada gejala pengkultusan individu yang berlebihan hingga mengabaikan jasa para pahlawan nasional dan ulama Nusantara.
Namun, di sisi lain, kelompok pendukung haul tersebut membela diri dengan mengatakan bahwa penamaan haul hanya untuk memudahkan koordinasi jamaah, bukan untuk mengklaim kepemilikan daerah.
Seorang pengamat sosial dari Universitas Indonesia, yang enggan disebut namanya, mengatakan bahwa apa yang disampaikan Rhoma Irama sebenarnya masuk akal. “Dalam sosiologi agama, setiap simbol, termasuk nama acara, membawa pesan kekuasaan. Mengklaim sebuah kota dalam nama acara keagamaan secara tidak langsung adalah pernyataan hegemonik,” ujarnya.
Rhoma: Bukan Soal Siapa yang Lebih Saleh
Rhoma Irama menegaskan bahwa kritiknya bukanlah bentuk perseteruan pribadi atau serangan terhadap individu tertentu. Ia juga tidak sedang membanding-bandingkan siapa yang lebih saleh antara habaib dan ulama Nusantara.
“Saya tidak pernah bilang jangan haul. Haul itu baik untuk mengingatkan kematian. Tapi hormatilah sejarah dan budaya lokal. Jangan hapus identitas daerah dengan klaim sepihak,” pesan Rhoma di akhir pernyataannya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih kritis dalam menyikapi fenomena keagamaan yang tampak sakral namun sarat dengan kepentingan politik dan ekonomi.
“Jangan biarkan Indonesia dijajah secara spiritual. Tanah air ini punya sejarah panjang perjuangan ulama Nusantara yang tidak kalah hebatnya dari siapapun,” pungkas Rhoma Irama.
Kesimpulan: Menjaga Identitas Spiritual Nusantara
Pernyataan Rhoma Irama tentang "Haul Solo", "Haul Gresik", dan fenomena penjajahan spiritual memang kontroversial. Namun, di balik kontroversi itu ada pesan penting: bahwa Indonesia adalah bangsa dengan akar spiritual yang kuat dan beragam.
Menghormati para habaib tidak harus dengan cara mengabaikan jasa para wali dan ulama Nusantara. Justru, penghormatan sejati adalah dengan menjaga keseimbangan dan tidak saling mengklaim milik bersama.
Kini, publik menanti apakah fenomena ini akan terus berlanjut atau justru menjadi bahan evaluasi bagi seluruh elemen umat Islam Indonesia. Yang jelas, kritik Rhoma Irama telah membuka mata banyak orang tentang bagaimana agama bisa digunakan sebagai alat ambisi politik dan penguasaan spiritual. Wallahu a’lam. (Qodrat Arispati)
Simak videonya di YouTube:
#RhomaIrama #HaulSolo #HaulGresik #WaliSongo #PenjajahanSpiritual

