Pembukaan Manuskrip Sunan Ampel Ungkap Kuatnya Tradisi Intelektual Wali Songo

Warta Batavia - Pembukaan naskah kuno peninggalan Sunan Ampel menjadi momen penting yang menegaskan bahwa peradaban Islam Nusantara, khususnya yang dibangun oleh Wali Songo, berdiri di atas fondasi keilmuan yang kuat, bukan sekadar tradisi spiritual tanpa basis ilmiah.

Hal tersebut disampaikan oleh Miftah Wibowo, alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, yang juga dikenal sebagai pegiat naskah Nusantara. Ia hadir langsung dalam acara pembukaan manuskrip yang disimpan oleh keluarga keturunan Sunan Ampel.

“Ini menjadi bukti bahwa peradaban yang dibangun Wali Songo benar-benar berbasis ilmu, bukan tahayul atau halusinasi,” ujar Miftah dalam keterangannya.

Warisan Keilmuan yang Masih Hidup

Menurut Miftah, isi manuskrip yang dibuka menunjukkan kesesuaian dengan kurikulum pesantren saat ini, mencakup berbagai disiplin ilmu seperti:

  • Akidah

  • Fikih

  • Tasawuf

  • Hadis

  • Al-Qur’an

Hal ini memperlihatkan bahwa tradisi pesantren modern sejatinya merupakan kelanjutan langsung dari sistem pendidikan yang diwariskan oleh Wali Songo.

“Pesantren hari ini tanpa disadari telah mewarisi secara utuh ajaran ulama terdahulu,” jelasnya.

Nasab dan Sanad Tak Terpisahkan

Dalam kesempatan tersebut, Miftah juga menekankan bahwa hubungan antara nasab (keturunan) dan sanad (keilmuan) merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam tradisi Islam Nusantara.

Ia menggambarkan bagaimana para ulama terdahulu tidak hanya mewariskan garis keturunan, tetapi juga kesinambungan ilmu melalui proses panjang seperti:

  • Hafalan (muhafadzah)

  • Dikte keilmuan (imlak)

  • Penulisan dan pengembangan ilmu

“Kalau kita meninggalkan tradisi intelektual ini, sama saja kita berkhianat kepada leluhur,” tegasnya.

Tradisi Intelektual Lebih dari Sekadar Simbol

Para narasumber dalam acara tersebut juga mengkritik kecenderungan sebagian masyarakat yang lebih fokus pada aspek non-intelektual, sementara tradisi keilmuan justru mulai terabaikan.

Padahal, menurut mereka, pada masa lalu proses belajar berlangsung sangat ketat dan mendalam, bahkan tanpa fasilitas modern seperti percetakan atau fotokopi.

“Ulama zaman dulu harus menghafal, menulis, dan mengajarkan kembali. Itu tradisi yang luar biasa dan tidak mudah,” ungkap salah satu peserta.

Bantahan terhadap Tuduhan Minim Intelektual

Pembukaan manuskrip ini sekaligus menjadi bantahan terhadap anggapan bahwa Wali Songo hanya mengandalkan pendekatan mistik atau “ilmu hikmah” semata.

Sebaliknya, bukti manuskrip menunjukkan bahwa mereka memiliki kapasitas intelektual tinggi dan sistem pendidikan yang terstruktur.

“Tidak benar jika Wali Songo dianggap tidak punya tradisi intelektual. Justru sebaliknya, mereka adalah pelopor keilmuan di Nusantara,” ujar Miftah.

 



Ajakan Kembali ke Tradisi Keilmuan

Di akhir pernyataannya, Miftah mengajak masyarakat, khususnya kalangan pesantren dan akademisi, untuk kembali menghidupkan tradisi intelektual yang telah diwariskan para ulama.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh narasi atau doktrin yang tidak memiliki dasar ilmiah yang jelas.

“Mari kita kembali ke jalur yang sudah dibangun para ulama Nusantara—jalur ilmu, bukan sekadar klaim,” pungkasnya.

LihatTutupKomentar