-->

Type something and hit enter

By On




Baca Juga






Aksi MUjahid 212 di Jakarta, Sabtu (28/09/2019). Foto: CNNInodnesia.com.
Warta Sunda - Ada yang aneh dalam Aksi Mujahid 212 di Jakarta, Sabtu (28/09/2019). Di 1 sisi mereka menggaungkan selamatkan NKRI. Tetapi disi lain mereka malah memperlihatkan hal yang bertentangan dengan NKRI itu sendiri.

Sebagaimana dapat disaksikan berbarengan, baik melalui video maupun foto yang beredar, mereka lebih banyak membawa bendera Liwa dan Raya dari pada bendera Merah Putih. Bahkan Bendera Liwa dan Raya amat mendominasi dalam aksi tersebut.

Bendera Liwa dan Raya disebut-sebut selaku bendera Rasulullah. Sejumlah keterengan menyebut seperti ini. Tapi yang tidak dapat ditampik ialah bahwa bendera tersebut sudah dijadikan bendera politik oleh ormas terlarang HTI.

Dan semenjak HTI dibubarkan oleh pemerintah, bendera tersebut terus dipakai dalam beberapa aksi massa. Bendera Liwa Raya dijadikan selaku alat politik atas nama Islam oleh HTI.

Sekarang bendera itu dipakai peserta Aksi Mujahid 212 dengan jargon selamatkan NKRI. Tentu publik bertanya-tanya, kalau benar ingin menyelamatkan NKRI, mengapa kebanyakan peserta aksi malah membawa bendera Liwa dan Raya? Kenapa bukan Bendera Merah Putih? Padahal Bendera Merah putih ialah lambang negara.

Dari sini kita mulai curiga. Ada udang dibalik batu. Ada maksud lain dibalik ungkapan ingin selamtkan NKRI. Apalagi jika bukan politik dan kekuasaan. Dari sini pula kita jadi tahu bahwa nalar mereka ternyata tidak jalan.

Yang amat disayangkan mereka menjadikan agama selaku kedok. Mereka bersembunyi dibalik Bendera "Tauhid" untuk agenda-agenda politik. Munafik? [Warta Sunda/pin]














Source link

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...

Click to comment