-->

Header Menu

Kitab Tafsir Istimewa Syeikh Nawawi Al Bantani "Marâh Labîd"

author photo 25.9.19
karya syekh nawawi al bantani
Karya syekh nawawi al bantani. Foto: istimewa
Oleh: Ahmad Ginanjar Sya'ban


Warta Sunda - Tafsir Al-Qur’an berbahasa Arab terlengkap ke-1 karangan Ulama Nusantara (Syaikh Nawawi Banten, 1305 H/ 1887 M). Ini ialah halaman sampul dari kitab “Marâh Labîd li Kasyf Ma’na Al-Qur’ân Al-Majîd” atau yang dikenal juga dengan “Al-Tafsîr Al-Munîr” karangan seorang ulama besar dunia Islam di abad ke-19 M asal Nusantara, yaitu Syaikh Abû ‘Abd Al-Mu’thî Muhammad Nawawî ibn ‘Umar Al-Bantaî Al-Jâwî tsumma Al-Makkî (dikenal dengan Syaikh Nawawi Banten, w. 1316 H/ 1897 M).

Kitab “Marâh Labîd” atau “Al-Tafsîr Al-Munîr” terhitung selaku kitab tafsir yang amat istimewa, sebab karya ini ialah karya tafsir Al-Qur’an yang ke-1 yang ditulis dalam bahasa Arab secara komprehensif oleh seorang ulama asal Nusantara. Kecuali itu, karya ini juga tercatat selaku bagian karya tafsir yang ditulis pada abad ke-19 M di dunia Islam (selain Tafsîr al-Manâr karangan Muhammad Abduh dari Mesir, w. 1323 H/ 1905 M).

Baca: Musabbi'at dan Jejaring Ulama Nusantara Era Kyai Soleh Darat

Dalam kolofon, didapati info kalau karya ini selesai ditulis di Makkah pada malam rabu, 5 Rabiul Akhir tahun 1305 H (bersesuaian dengan 20 Desember 1887 Masehi). Syaikh Nawawi mecatat di halaman terakhir karyanya ini;


وقد انتهى ما منّ الله به علينا من المعاني الميسّرة والألفاظ المسهّلة في خامس ربيع الآخر ليلة الأربعاء عام سنة 1305 ألف وثلاثمائة وخمسة على يد الفقير إلى الله تعالى محمد نووي غفر الله له ولوالديه، ولمشايخه، ولإخوانه المسلمين، وصلى الله عليه وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين



Artinya:
(Dan saya sudah menuntaskan karya ini pada tanggal 5 bulan Rabiul Akhir, malam rabu, tahun 1305, seribu 3 ratus 5 Hijriah oleh seorang yang fakir ke Allah, yaitu Muhammad Nawawi, semoga Allah memberikan pengampunan kepadanya dan ke-2 orang tuanya juga pada guru-gurunya).

Karya ini lalu dicetak untuk ke-1 kalinya oleh Al-Mathba’ah Al-‘Utsmâniyyah (Al-Amîriyyah) di Kairo beberapa bulan lalu (1305 Hijriah/ 1888 Masehi), dan mengalami cetak ulang beberapa kali sampai waktu ini oleh pelbagai penerbit lainnya, baik di Timur Tengah ataupun di Nusantara.

Dalam kata pengantarnya, Syaikh Nawawi Banten menjelaskan bahwa dirinya mecatat kitab tafsir ini dikarenakan adanya dorongan dari salah seorang gurunya. Pada awalnya, beliau merasa segan untuk menuliskan sebuah karya tafsir, sebab bidang ilmu ini terhitung berat. Akan tetapi lalu, untuk misi lestarinya sebuah tradisi penulisan ilmu pengetahuan, maka beliau pun mulai menuliskan karya tafsir ini. Syaikh Nawawi Banten mecatat;


أما بعد، فيقول أحقر الورى محمد نووي: قد أمرني بعض الأعزة عندي أن أكتب تفسيرا للقرآن المجيد فترددت في ذلك زمانا طويلا خوفا من الدخول في قوله صلّى الله عليه وسلّم: «من قال في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ. وفي قوله صلّى الله عليه وسلّم: «من قال في القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار. فأجبتهم إلى ذلك للاقتداء بالسلف في تدوين العلم إبقاء على الخلق وليس على فعلي مزيد ولكن لكل زمان تجديد، وليكون ذلك عونا لي وللقاصرين مثلي



Artinya:
(Ammâ ba’du. Maka berkatalah hamba yang paling hina, Muhammad Nawawi namanya. Bahwa sudah memerintahkan kepadaku sebagian guru yang saya muliakan, supaya saya mecatat sebuah tafsir Al-Qur’an. Saya mengurungkan untuk tidak memenuhi perintah itu selama bertahun-tahun lamanya, sebab takut akan hadits Nabi yang menjelaskan bahwa “barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya, dan itu ialah benar, maka sebenarnya ia sudah melaksanakan kekeliruan”. Juga takut akan hadits Nabi lainnya, yang menjelaskan bahwa “barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan pandangan (hawa nafsu)nya, maka hendaklah ia menyediakan tempat di neraka”. [Namun setelah itu,] saya pun menyanggupi permintaan tersebut, sebab hendak ikut para generasi terdahulu yang salih dalam usaha melestarikan tradisi penulisan ilmu pengetahuan, supaya ia tetap berkembang di antara manusia. Tidak ada sesuatu yang baru yang saya lakukan, tapi tiap-tiap zaman mestilah Ada pembaharuan. Dan hendaklah karya ini jadi penolong bagiku, juga bagi orang-orang yang bodoh semisalku [untuk memahami kandungan Al-Qur’an]).


Karya Syekh Nawawi Al Bantani



Dalam mecatat karya ini, Syaikh Nawawi Banten pun berpatokan ke beberapa kitab tafsir, sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kata pengantarnya. Beberapa rujukan tersebut ialah;

(1) Al-Futûhât Al-Ilâhiyyah” atau yang dikenal dengan “Hâsyiah Al-Jamal” karya Syaikh Sulaimân ibn ‘Umar Al-Jamal (w. 1204 H/ 1789 M),
(2) “Mafâtih Al-Ghaib” atau yang dikenal dengan “Al-Tafsîr Al-Râzî” karangan Fakhr Al-Dîn Al-Râzî (w. 606 H/ 1209 M),
(3) “Al-Sirâj Al-Munîr” karangan Syaikh Syams Al-Dîn Muhammad Al-Syarbînî (w. 977 H/ 1569 M), dan
(4) “Tafsîr Abî Sa’ûd” atau “Irsyâd Al-‘Aql Al-Salîm” karya Abû Sa’ûd Al-‘Imâdî (w. 982 H/ 1574 M).

Syaikh Nawawi Banten mecatat;


وأخذته من الفتوحات الإلهية ومن مفاتيح الغيب ومن السراج المنير، ومن تنوير المقباس، ومن تفسير أبي السعود. وسميته مع الموافقة لتاريخه «مراح لبيد لكشف معنى قرآن مجيد» ، وعلى الكريم الفتّاح اعتمادي، وإليه تفويضي واستنادي



Artinya:
(Saya sudah berpatokan pada kitab-kitab tafsir seperti “Al-Futûhât Al-Ilâhiyyah”, “Mafâtih Al-Ghaib”, “Al-Sirâj Al-Munîr”, “Tanwîr Al-Miqbâs”, dan “Tafsîr Abû Su’ûd”. Saya menamai karyaku ini dengan nama yang sesuai dengan masanya, yaitu “Marâh Labîd li Kasyf Ma’nâ Al-Qur’ân Al-Majîd”. Untuk Allah yang Karim dan Fattah lah saya bersandar, kepada-Nyalah saya menyerahkan segala urusan).

Dalam mecatat karya tafsir ini, Syaikh Nawawi Banten cenderung mempergunakan metode “tahlîlî” (analitik), yaitu mengkaji dan menafsirkan Al-Qur’an berdasar sistematika urutan ayat dan surat. Syaikh Nawawi Banten juga menuliskan asbâb al-nuzûl, yaitu konteks dan kausa sebuah ayat diturunkan, menguraikan varian bacaan Al-Qur’an (qirâ’ât) dan implikasi hukum yang ditimbulkan olehnya.

Baca: [Download PDF] Buku Mozaik Pemikiran Islam Nusantara

Pada konteks sejarah penulisan karya tafsir Al-Qur’an ke-Islam Nusantaraa-an, karya ini sezaman (meski lebih senior) dengan karya-karya tafsir Al-Qur’an yang ditulis oleh ulama Nusantara dengan mempergunakan bahasa lokal, seperti tafsir “Nûr Al-Ihsân” dalam bahasa Melayu karangan Syaikh Muhammad Sa’id Kedah, tafsir “Faidh Al-Rahmân” berbahasa Jawa karangan Syaikh Soleh Darat, dan “Tafsir Al-Qur’an” berbahasa Sunda karangan Haji Hasan Mustapa Garut.

Semoga karya-karya beliau senantiasa manfaat dan dapat memperoleh barokahnya. Aminn. [dutaislam/ka]









Source link

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement