KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Sampaikan Ceramah Kebangsaan di Hadapan Ribuan Pasukan PWILS di Magelang
Dalam pembukaan acara, pasukan PWILS terlebih dahulu diarahkan untuk membentuk barisan yang tertib dan rapi. Instruksi demi instruksi disampaikan kepada para anggota agar menjaga keteraturan selama kegiatan berlangsung. Setelah seluruh peserta berada di posisi masing-masing, acara dilanjutkan dengan salam pembuka dan doa bersama.
KH Imaduddin kemudian menyampaikan penghormatan kepada sejumlah pejabat dan tokoh yang hadir, termasuk Bupati Magelang, Kapolres, Dandim, para ketua PD PWILS dari berbagai daerah di Jawa Tengah, serta para ulama dan tokoh masyarakat.
Posisi PWILS dalam Menjaga Identitas Kebangsaan dan Sejarah
Dalam ceramahnya, KH Imaduddin banyak menyinggung tentang perjuangan bangsa Indonesia, peran masyarakat Nusantara, serta posisi PWILS dalam menjaga identitas kebangsaan dan sejarah perjuangan para ulama Nusantara.
Ia menyebut bahwa anggota PWILS lahir di tengah situasi bangsa yang menurutnya sedang menghadapi berbagai tantangan terkait identitas sejarah dan budaya Nusantara. Menurutnya, perjuangan masyarakat Nusantara harus terus dijaga oleh generasi penerus bangsa.
KH Imaduddin juga menyampaikan pandangannya terkait polemik nasab Ba’alawi yang beberapa waktu terakhir menjadi pembahasan di media sosial dan ruang publik. Dalam ceramah tersebut, ia mengungkapkan bahwa perjuangan anggota PWILS membuat sebagian masyarakat Indonesia tidak lagi mudah menerima klaim tertentu mengenai keturunan Nabi Muhammad SAW tanpa dasar yang dianggap kuat.
Ia menyatakan bahwa perjuangan PWILS disebut telah memengaruhi pandangan sebagian masyarakat terhadap berbagai kegiatan haul dan tradisi yang selama ini berkembang di sejumlah daerah.
Selain itu, KH Imaduddin juga menyinggung soal tes DNA yang menurutnya menjadi bagian dari pembahasan mengenai polemik nasab tersebut. Ia menyampaikan pandangannya bahwa klaim keturunan harus memiliki dasar yang jelas, termasuk dari sisi sejarah dan penelitian ilmiah.
Dalam ceramahnya, KH Imaduddin membandingkan kondisi tersebut dengan kisah pada masa Nabi Muhammad SAW ketika ada kelompok ahli kitab yang disebut tidak mempercayai kenabian Nabi Muhammad. Ia kemudian mengaitkannya dengan fenomena yang menurutnya terjadi pada masa sekarang.
Nahdlatul Ulama dan PWILS
Ceramah tersebut juga memuat pembahasan mengenai tokoh-tokoh wali dan tradisi tawasul. KH Imaduddin menyebut bahwa Nahdlatul Ulama dan PWILS bertawasul kepada tokoh-tokoh Walisongo seperti Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sultan Maulana Hasanuddin, hingga Syekh Siti Jenar.
Ia menyatakan bahwa tokoh-tokoh tersebut memiliki catatan sejarah yang jelas dan dikenal luas dalam perjalanan dakwah Islam di Nusantara. Sementara itu, ia juga mengungkapkan pandangannya terhadap sejumlah nama tokoh lain yang menurutnya tidak memiliki catatan sejarah yang kuat dalam literatur tertentu.
Dalam kesempatan itu, KH Imaduddin juga menyinggung kondisi geopolitik dan situasi nasional Indonesia saat ini. Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto sedang menghadapi berbagai tantangan nasional dan internasional.
Menurutnya, masyarakat yang mengaku sebagai penerus perjuangan ulama Nusantara harus tetap menjaga persatuan bangsa dan mendukung pemerintah Republik Indonesia yang sah.
Ia kemudian mengingatkan tentang perjuangan sejumlah ulama Nusantara pada masa penjajahan Belanda, seperti Syekh Nawawi Al-Bantani dan tokoh-tokoh lain yang disebut berperan dalam perlawanan terhadap penjajah.
Dalam ceramah tersebut, KH Imaduddin juga menyebut beberapa tokoh sejarah yang menurutnya memiliki hubungan dengan pemerintah kolonial Belanda. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks pembahasan sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan.
Ia menegaskan bahwa Indonesia harus tetap dijaga sebagai tanah Nusantara yang merdeka dan berdaulat. Menurutnya, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan dan kebinekaan bangsa.
PWILS Menjaga Tokoh-tokoh Bangsa
KH Imaduddin juga mengajak anggota PWILS untuk menjaga tokoh-tokoh bangsa agar tidak terjadi perpecahan di tengah masyarakat. Ia menyebut sejumlah nama tokoh nasional, mulai dari Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Presiden ke-7 Joko Widodo, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri, hingga KH Ma’ruf Amin dan Jusuf Kalla.
Dalam bagian lain ceramahnya, KH Imaduddin turut menyinggung aksi demonstrasi mahasiswa yang terjadi di Indonesia. Ia mengatakan bahwa demonstrasi merupakan hal yang sah dalam negara demokrasi dan pemerintah perlu mendengarkan aspirasi masyarakat.
Namun demikian, ia juga mengingatkan agar gerakan mahasiswa tidak disusupi pihak-pihak yang ingin merusak persatuan bangsa. Ia meminta seluruh elemen masyarakat untuk menjaga stabilitas nasional dan tetap mengutamakan kepentingan negara.
KH Imaduddin menegaskan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui pengorbanan besar para pejuang di berbagai daerah Nusantara, termasuk di Ambarawa, Surabaya, Lengkong, dan wilayah lainnya dari Aceh hingga Papua.
Ia mengajak pemerintah untuk menerima kritik yang dianggap membangun dan memperbaiki kebijakan yang dinilai kurang tepat. Namun, ia juga meminta pemerintah bersikap tegas terhadap pihak-pihak yang dianggap ingin menggulingkan pemerintahan yang sah.
Dalam kesempatan itu, KH Imaduddin juga meminta kesiapan anggota PWILS apabila negara membutuhkan dukungan masyarakat dalam menjaga keamanan dan persatuan Indonesia bersama aparat TNI dan Polri.
Seruan tersebut langsung disambut jawaban kompak dari ribuan anggota PWILS yang hadir. Setelah itu, KH Imaduddin mengajak seluruh peserta berdiri dan menyanyikan lagu nasional “Bagimu Negeri” sebagai bentuk kecintaan terhadap Indonesia.
Berharap kepada Generasi Baru
Suasana acara berlangsung khidmat ketika seluruh peserta menyanyikan lagu tersebut secara bersama-sama. Lagu nasional itu dinyanyikan sebagai simbol pengabdian kepada bangsa dan negara.
Di penghujung acara, KH Imaduddin memimpin doa untuk seluruh peserta yang hadir. Ia mendoakan kesehatan, umur panjang, rezeki, serta masa depan anak-anak bangsa agar menjadi generasi yang berguna bagi agama, masyarakat, dan negara.
Ia juga berharap akan lahir generasi baru yang menjadi pemimpin bangsa, ulama, aparat negara, hingga tokoh masyarakat yang menjaga Indonesia dan agama Islam di masa mendatang.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan salam penutup yang diikuti seluruh peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut. (Qodrat Arispati)
Simak video KH Imaduddin terbaru 2026 di YouTube:


