-->

Header Menu

Pandangan Habib Umar bin Hafidz Mengenai hal Khilafah

author photo 22.9.19
Habib Umar bin Hafidz didampingi Habib Jindan dalam bagian dialog di forum Nahdlatul Ulama. (Foto: istimewa)
Warta Sunda - Habib Umar bin Hafidz pernah menerangkan panjang lebar terkait Khilafah, apa yang terpenting bagi ummat Islam dan bagaimana sikap ummat Islam?

Berikut ini penjelasan Habib Umar (cukup panjang, baca sampai selesai supaya tidak salah paham):

Mengenai hal khilafah, kerancuan pada 2 hal yang amat penting: Ke-1, penyempitan makna khilafah, yang cuma pada penyelenggaraan hukum Islam melalui kekuasaan. Yang ke-2, pandangan atas wajibnya menegakkan khilafah tatkala telah ada pemerintahan di tengah-tengah ummat.

Soal yang ke-1, Penting ditegaskan bahwa kata“khilafah” bila dikaitkan dengan agama dan syariat, maknanya tidak cuma terbatas pada konteks kekuasaan dengan segala penerapan hukum-hukum publik, sebagaimana makna khilafah secara etimologis yang sungguh jauh lebih luas.
Al Qur’an mempergunakan kata ini, bahkan untuk orang yang berbuat negatif, orang yang melenceng dari jalan yang benar, juga generasi yangdatang sesudah para nabi dan rasul, seperti pada ayat,


فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً



“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan ikut hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menjumpai kesesatan.” (QS.19 : 59).

Jadi, mereka ialah generasi pengganti yang tinggal di tempat orang-orang sebelumnya, namunmereka tidak ikut prinsip dan perilaku generasi sebelumnya. Sehingga, makna khilafah ialah pergantian seseorang kepada orang lain dalam konteks apapun.

Soal hubungan khilafah dengan urusan agama, juga Penting dipahami bahwa khilafah yang diagungkan dan dinyatakan Allah selaku keistimewaan spesial Nabi Adam dan anak-cucunya, dalam firman-Nya,


إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً



“Sesungguhnya Saya hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS.2 : 30), ialah khilafah ruhaniah, keagamaan, dan ketuhanan, bukan sebatas otoritas politik yang mengatur urusan-urusan lahiriah.

Khilafah tersebut terkait erat dengan tugas mengemban amanah sesuai kemampuan dan kesanggupan seseorang, dalam konteks menegakkan kebenaran, yaitu syari’at yang sudah ditetapkan Allah pada makhluk-Nya. Inilah khilafah yang disinggung dalam Al-Qur-an, tatkala menaruh nenek moyang kita, Nabi Adam AS ke bumi,


فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى



“Maka kalau Hadir kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa ikut petunjuk-Ku, ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.”(QS.20 : 123).

Mengamalkan tuntutan Allah, melakukan perintah, dan menghindari larangan-Nya, itulah arti khilafah yang sudah ditugaskan Allah untuk Nabi Adam.

Nabi Adam turun padahal di bumi belum ada bangsa apapun yang dapat jadi obyek kekuasaan. Ia cuma disertai Ibu Hawa. Lalu, mulai lahirlah putra-putra dari Famili Adam. Ia menjalani posisinya selaku orang ke-1 yang memegang khilafah sebelum adanya bentuk pemerintahan dan kekuasaan publik.

Sejarah terus berlangsung dalam wilayah Famili itu, yaitu Adam dan putra-putranya. Merekalah yang menghuni bumi. Lalu keturunannya mulai banyak. Nabi Syits, putra AdamAS, menggantikannya memegang tampuk khilafah. Ia menerima kenabian dan amanat untuk melakukan ikrar manusia untuk Allah.

Khilafah Adalah tugas masing-masing diri kita. Tidak ada argumentasi bagi siapapun untuk menganggap remeh hal ini, sampai melalaikan dan meninggalkannya lantaran ketiadaansembol-simbol fisik khilafah (kekuasaan).

Melepas Khilafah
Kalau dikaitkan dengan bagian kategori kekhilafahan agung Nabi Muhammad SAW, khilafah ialah terwujudnya penerapan hukum secara umum, sebab kekuasaan dipegang oleh orang-orang jujur, lurus, dan memperoleh petunjuk.

Beliau kabarkan, khilafah ini cuma berlangsung 30 tahun terhitung semenjak beliau wafat. Ini bagian mukjizat yang mempertunjukkan kebenaran beliau selaku Nabi.

Nabi Saw menyebut batas waktu. Tatkala masa 30 tahun itu sudah setelah dan khilafah semacam ini sudah hilang, beliau tidak memberi perintah, “Memberontaklah untuk para penguasa, perbaiki bermacam problem, berjuanglah untuk mengganti mereka dengan orang-orang yang mirip dengan masa 30 tahun itu!” Nabi Saw tidak memerintahkan itu.

Bahkan, meski dalam haditsnya beliau memberi isyarat bahwa cengkeraman kerajaan akan berlangsung lama. Dalam sebagian riwayat, beliau menyebutnya adhudh (kekuasaan yang suka menggigit).

Dalam kitab Musnad-nya Imam Ahmad, juga dalam Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihaian karya Al-Hakim, disebutkan, Nabi Saw bersabda, “Khilafah sepeninggalku 30 tahun, lantas jadi kerajaan.” (HR.Ahmad)

Mari kita cermati sabda beliau yang menyebutkan secara terang periode khilafah ini. Ternyata, Ali KWH dibunuh pada bulan Ramadhan, sementara Rasulullah wafat pada bulan Rabi’ul Awwal. Untuk sampai 30 tahun, masih ada jeda enam bulan. Masa enam bulan inilah masa kepemimpinan Al-Hasan bin ‘Ali RA, cucunda Nabi, sampai ia mundur dari khilafah pada bulan Rabi’ul Awwal, persis di akhir masa 30 tahun sebagaimana disebutkan Nabi Saw. Lagi-lagi ini Adalah bagian tanda kenabian, mukjizat agung Rasulullah Muhammad SAW, sekaligus pemberitahuan beliau Soal hal-hal rahasia (ghaib) yang beliau dapat dari Allah SWT.

Di Al-Mustadrak juga ada riwayat yang dinyatakan shahih oleh Adz-Dzahabi : seusai Al-Hasan mundur selaku khalifah, ada orang berkata kepadanya, “Orang-orang berkata bahwa Anda berharap khilafah.”

Al-Hasan menoleh untuk orang itu. Ia berkata, “Saya meninggalkan jabatan khalifah pada waktu orang-orang kuat Ada di tanganku. Mereka ikut perintahku, siap memerangi orang yang saya perangi dan berdamai dengan orang yang berdamai denganku. (Saya meninggalkan khilafah) sebab untuk mencari ridha Tuhanku dan menghindarkan pertumpahan darah sesama muslimin. Lalu, apakah saya akan berusaha memperoleh khilafah dengan keputus-asaan orang-orang Hijaz. Pergilah, saya tidak berharap khilafah itu.” Cerita ini mempunyai sanad riwayat yang shahih melalui mata rantai para perawi yang dipercaya oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Dalam cerita ini Ada sebuah penjelasan bahwa mundur dari khalifah pada waktu terjadinya perpecahan ialah khalifah sejati. Khalifah hakiki yang diajarkan Nabi ini bersemayam dengan sempurna dalam diri Al-Hasan bin ‘Ali. Dengan menyerahkan kekuasaan lahiriah, tidak artinya warisan Nabi jadi berkurang pada dirinya, tidak artinya ada kekurangan pada posisinya selaku pengganti kakeknya, Muhammad SAW. Bahkan dengan seperti ini, Al-Hasan menampakkan ciri khas yang paling agung dari kekhilafahan Nabi Saw, yaitu dalam wilayah ilmu, taqwa, pekerti, belas kasih, dan perhatian kepada ummat.

Sebab itu, sangatlah patut apa yang disabdakan Nabi Saw Soal Sayyidina Hasan, “Sungguh anakku (cucuku) ini ialah seorang pemimpin. Allah akan mendamaikan 2 kelompok besar kaum muslimin dengan perantaranya.” (HR.Bukhari)

Pandangan Nabawiyyah
Dalam hadits tadi dijelaskan bahwa Nabi mengabarkan, “Masa sesudah itu kekuasaan Ada di tangan para penguasa yang berbuat hal-hal yang Anda semua (para sahabat) ingkari. Anda semua menyaksikan mereka tidak teguh dalam ikut ajaran Islam.”

Mereka (para sahabat) menanyakan, “Apa yang engkau (ya Rasulullah) perintahkan untuk kami? Haruskah kami membikin kekhalifahan baru, pemerintahan lain, dan berjuang untuk menyingkirkan mereka?”

Rasulullah Sawbersabda, “Anda semua mesti patuh dan patuh (untuk pemimpin Anda semua).” (HR.Bukhari dan Ahmad)

Siapa yang mengatakan dengan tegas hal ini?
Ini bukan ide kelompok-kelompok tertentu dalam Islam. Ini ialah arahan dari pemegang kenabian dan kerasulan, seorang yang menerima wahyu dari Allah SWT.

Lalu, sampai kapan kami mesti patuh pada pemimpin?
“Sampai yang jadi pemimpin Anda semua ialah orang yang jelas-jelas kafir, telah tidak mungkin ditakwil bahwa dia ialah seorang muslim. Atau, orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, mengingkari ajaran-ajaran pokok agama yang telah pasti. Secara terang-terangan memusuhi agama dan melanggarnya".

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Sampai Anda semua menyaksikan kekufuran yang amat terang.” (HR.Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Baihaqi).

Dalam riwayat yang lain, “Selagi mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah Anda semua.” (HR.Muslim, Ad-Darimi, dan Baihaqi).

Pada riwayat lainnya, “Berikanlah untuk mereka apa yang jadi hak mereka. Mintalah untuk Allah apa yang jadi hak Anda semua (sebab mereka telah tidak berlaku adil untuk Anda semua dan tidak memberikan hak-hak Anda semua)”. (HR.Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi)
Batasan-batasan itulah yang Rasulullah sampaikan untuk kita.

Memahami Realitas Yang Tak sama
Dalam sebuah hadits, Nabi Saw berdo’a, “Ya Allah, curahkanlah rahmat untuk parakhalifah/penggantiku.”

Tatkala beliau ditanya, siapa para khalifah itu, beliau tidak mempergunakan pengertian khilafah seperti waktu beliau bersabda “Khilafah setelahku berlangsung selama 30 tahun”, tapi beliau mempergunakan pengertian lain mengenai hal khilafah, yaitu khilafah keagamaan. Beliau bersabda, “Orang-orang yang hidup sepeninggalku, mereka meriwayatkan hadits-haditku dan mengajarkannya untuk manusia.”

Beliau mengumumkan,orang-orang yang mempunyai perhatian tinggi kepada sunnah beliau dan mengajarkannya untuk orang lain ialah para khalifah para penerus beliau.

Hal itu diperkuat oleh hadits mengenai hal ulama yang jadi pewaris para nabi. Juga, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab tafsir bahwa isi dari lafal Ulul Amri yang disebutkan di sebagian ayat ialah para ulama, orang-orang yang dianugerahi ilmu syari’at dan jadi pemikul amanat ilmu syari’at tersebut. Misalnya, ayat,


وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ



“…dan jikalau mereka menyerahkannya untuk rasul dan ulil amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat)mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil amri).” (QS. 4 : 83). Menurut pendapatpara mufassir, yang dimaksud ulil-amri disini ialah ulama. Sebagaimana juga dalam firman Allah.


أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ



“…taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan Ulil-Maridiantara Anda semua.” (QS.4 : 59)
Sementara, Soal kekuasaan lahiriah, hukumnya dalam syari’at ialah , “Bila mereka memerintah dengan baik, jadi baik bagi mereka dan bagi Anda semua. Kalau mereka memerintah dengan negatif, jadi baik bagi Anda semua dan jadi negatif bagi mereka.” (HR.Thabrani)

Jadi, dari sunnah Nabi Saw, kita dapat melaksanakan pemilahan kepada 2 sikap:
Ke-1, meninggalkan khilafah untuk menjaga kemaslahatan kaum muslimin sebab memperhatikan keadaan nyata mereka.

Ke-2, Tidak mau untuk meninggalkan jabatan khalifah cuma sebab tuntutan dari orang-orang bodoh atau menyerahkannya untuk orang yang tidak patut, dengan catatan hal itu tidak menimbulkan kekacauan. Yang ke-2 inilah yang disabdakan Nabi Saw untuk Sayyidina Utsman.

Perhatikanlah, Nabi Saw memuji cucunya, Al-Hasan, sebab rela melepas kekhilafahan lahiriah untuk kebaikan kaum muslimin. Di sisi lain, beliau bersabda untuk Sayyidina Utsman RA, “Mereka hendak melepas baju yang dipakaian Allah kepadamu. Jangan turuti mereka sampai engkau menyusulku.” (HR.Thabrani)

Ada beberapa orang yang Hadir untuk Utsman RA, memintanya untuk mundur dari khalifah. Ternyata, mereka bukan orang yang patut untuk menggantikan beliau. Sementara itu, kekacauan bukan ditimbulkan sebab sikap Utsman RA mempertahankan khalifah. Kekacauan bahkan timbul kalau orang-orang seperti mereka menerima khalifah. Mereka akan mempermainkannya.

Back-ground dan realitasnya tak sama. Maka, dalam, keadaan seperti itu, Rasulullah memberikan arahan untuk Utsman RA supaya tidak menuruti kemauan mereka sampai akhirnya mereka membunuhnya. Ia mati syahid di jalan Allah selaku orang yang berdakwah. Ia terbunuh dalam kondisi membaca Al Qur-an dan tetesan darahnya yang ke-1 Soal ayat

فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka Allah akan menjaga engkau dari mereka, dan Dialah yang Maha Menguping lagi Maha Mengetahui.” (QS.2 : 137). Sementara do’a terakhir yang terdengar dari lisannya ialah, “Ya Allah, persatukan ummat Muhammad. Ya Allah, persatukanlah ummat Muhammad.” Cerita ini dituturkan Al-Ghazali dalam Al-Ihya’ 4/479).

Beberapa orang sahabat dan tabi’in, bila teringat kejadian ini, berkata, “Utsman, semoga Allah merahmatimu. Dalam keadaan genting, perhatianmu masih tertuju pada ummat Muhammad. Seandainya engkau berdoa supaya mereka tidak bersatu, niscaya mereka tidak akan pernah bersatu selamanya.”

Ternyata, didetik-detik ancaman mati dan tindakan mematikan, yang ada dalam pikirannya ialah ummat. Ia memohon untuk Allah supaya mempersatukan ummat sepeninggalnya. Ia berdoa “Ya Allah, persatukan ummat Muhammad” sampai 2 kali. Itu sebabnya, jangan sampai urusan kekuasaan jadi kekacauan atau mempermainkan agama.

Khilafah Bagi Saban Muslim
Kita juga tidak dapat sekadar melakukan fungsi khalifah cuma yang terkait pada diri kita saja. Saban kita mempunyai amanat jadi penerus atau khalifah, dalam mata, telinga, lidah, kelamin, perut, tangan, kaki, dan hatinya. Maka, laksanakanlah kewajiban khalifah dari Rasulullah. Seluruh ini ialah hal yang mesti engkau pelihara. Engkau pemimpin seluruh ini, seluruh urusan-urusannya diberikan kepadamu. Maka, jadilah penerus yang baik dari Rasulullah dalam memelihara member tubuhmu supaya senantiasa mentaati syari’at dan menerapkan hukum Allah.

Di wilayah lain, engkau mempunyai kekuasaan dalam hal-hal yang terkait dengan urusan Famili, temen, dan Jiran. Juga, dalam hal yang terkait dengan orang yang mendengarkan nasihat darimu, menerima anjuran dan arahanmu, baik orang dekatmu atau bukan. Laksanakan kewajiban khilafah dalam seluruh itu.

Menegakkan syariat, dalam bentuk apapun, Adalah khilafah dari Allah dan Rasul-Nya, dalam arti yang umum. Adapun khilafah dalam arti spesial ialah khilafah yang dalam hadits Nabi Saw, yang dinyatakan berlangsung selama 30 tahun sesudah wafatnya beliau. seusai itu, kerajaan yang menggigit. seusai itu, kekuasaan yang diktator. Inilah yang terjadi pada kebanyakan penguasa waktu itu. Lalu pada akhirnya khilafah kembali seperti ajaran Nabi Saw. Ini sesuatu yang akan terjadi, dan sudah dikabarkan Nabi Saw.

Berita mengenai hal khilafah ini jangan dipertentangkan dengan perintah-perintah Rasulullah kepada umatnya: bagaimana mengatur, apa yang mesti ditunaikan, bagaimana semestinya berhadapan dengan bermacam masalah yang terjadi, berhadapan dengan para penguasa, berhadapan dengan rakyat, dan bagaimana bersikap kepada pihak-pihak yang mempunyai hubungan dekat ataupun jauh.

Betapapun, kalau misalnya ada Peluang bagi seseorang untuk membela agama Allah, dalam bentuk apapun, dan dalam sisi kehidupan apapun, ia mempunyai tanggung jawab besar untuk melakukan kewajiban itu, akan tetapi apa yang ia lakukan itu ternyata menimbulkan efek buruk yang lebih besar atau membawa badai besar di tengah-tengah kaum muslimin, tinggalkan dan jauhi hal itu. Karena, untuk dapat lebih mempersatukan ummat Islam diperlukan langkah-langkah yang lebih halus dan berdasar kasih sayang kepada ummat.

Inilah teladan yang diberikan oleh Nabi Saw. Ini pula yang dijalani oleh para pendahulu ummat ini.

Manusia-Manusia Khalifah The best
Al-Hasan berharap perdamaian ummat. Ia juga rindu berjumpa kakeknya, Nabi Saw. Maka, tidak ada yang Penting ia cari dengan mempergunakan kekuasaan dunia, atau dengan tetap hidup di dunia. Hari-hari berlalu, dan ia tahu bahwa ia diracun, yang mengantarkannya pada kesyahidan.

Khilafah ideal berlalu waktu Al-Hasan menyerahkan kekuasaan untuk Muawiyah bin Abi Sufyan. Ia meninggalkan khilafah lahiriah ini sampai wafat. Ia memilih jadi khalifah Nabi Saw dalam menyampaikan kebenaran, memberikan bimbingan, mengajar, memberi petunjuk, berbudi pekerti luhur, bersikap belas kasih dan sifat-sifat mulia lain yang sudah dilekatkan oleh Allah dalam dirinya. Inilah buah dari didikan Rasulullah, Muhammad SAW.

Jikalau kita bercermin pada yang ditunaikan adiknya, Al-Husain, sesudah itu, mungkin akan ada yang menanyakan: Bagaimana dapat Al-Husain keluar (dari Makkah) untuk memenuhi permintaan warga Irak (berhadapan dengan “Khalifah” Yazid)?

Beberapa hal yang mesti dipahami Soal keberangkatannya ke Irak. Diantaranya ialah:
Ke-1, adanya surat ajakan yang dikirim warga Irak dan itu Kesempatan untuk mendirikan sebuah pemerintahan yang sesuai dengan syari’at. Ternyata mereka menipunya, tidak mempercayainya, mengkhianatinya, dan meninggalkannya. Akan tetapi, ia rela.

Ke-2, ia telah memperkirakan pengkhianatan ini. Akan tetapi, mati syahid tampak di depan mata. Sepeninggal kakaknya, Al-Hasan, giliran ia yang menyimpan rindu berjumpa kakeknya.

Al-Husain membikin keputusan tegas untuk kebaikan ummat. Juga, supaya mereka tahu bahwa ia tidak mau tertipu kekuasaan lahiriah, akan tetapi juga tidak ingin melampaui batas dalam memahami wajibnya patuh untuk penguasa. Ia ingin mengajari ummat supaya tidak mempunyai Sangkaan salah bahwa kalau kita telah disuruh untuk patuh untuk penguasa, kendatipun kita tahu bahwa mereka tidak baik, artinya kita mesti meyakini bahwa para penguasa itu ialah orang-orang yang benar dan jadi landasan dalam bermacam hal. Yang dapat dijadikan landasan ialah ilmu syari’at dan agama Allah.

Jadi, gerakan Al-Husain ialah untuk menerangkan prinsip ini dengan cara yang sempurna. Dan, sudah kami singgung dalam pembicaraan tadi, ia sungguh hendak menerjunkan dirinya ke dalam kesyahidan. Ia begitu rindu untuk berjumpa kakeknya.

Untuk Allah, kekeliruan terjadi jikalau yang melaksanakan ialah orang-orang seperti kita. Sayyidina Husain tidak sama dengan kita. Orang-orang yang dididik di bawah penjagaan dan kontrol Rasulullah, mereka ialah teladan bagi ummat manusia. Mereka contoh atas kesesuaian perkataan dan tindakan yang benar.

Maka, Sayyidina Husain memberikan penjelasan Soal perbedaan bermacam hal tersebut, dengan cara maju dan mengorbankan nyawanya untuk menyambut janji Allah untuk Rasul-Nya bahwa suatu waktu sekian banyak keluarganya gugur selaku syahid dalam sehari. Hal itu jadi tragedi yang amat pedih dalam sejarah ummat Muhammad SAW.

Khilafah agung Nabawiyah yang bukan sekadar kekuasaan lahiriah itu lantas digantikan oleh Ali Zainal Abidin. Ia sungguh-sungguh hiasan indah bagi para ahli ibadah. Perjalanan hidupnya full dengan fenomena ibadah. Ia banyak melaksanakan shalat. 2 pipinya bergaris hitam sebab aliran air mata, gambaran rasa takut yang mendalam untuk Allah. Lalu, apa yang ia lakukan? Apakah ia berjuang untuk merengkuh kekuasaan? Apa ia mengajak kaum muslimin untuk membai’atnya? Apa ia membikin planning kudeta kepada penguasa yang ada?

Seluruh ini tidak terjadi pada Ali Zainal Abidin.
Apakah ia tidak tahu apa-apa mengenai hal agama? Saya bersaksi bahwa ia termasuk orang yang paling alim Soal agama. Untuk Allah, ia bukan orang bodoh. Dimasanya, ia ialah pewaris agung bagi Nabi Saw.

Akan tetapi seperti ini, ia menyibukkan hidupnya dengan memperbanyak shalat, membaca Al-Qur-an, menangis, bersedekah, dan berbuat kebajikan untuk orang lain. Ia sama sekali tidak pernah Menyenggol urusan kekuasaan. Ia juga tidak pernah memaki-maki, melaknat, dan mengucapkan pernyataan-pernyataan negatif untuk para pembunuh ayah dan saudara-saudaranya.

Inilah khalifah sejati. Inilah yang ditunaikan generasi the best ummat ini. Mereka ikut jejak Nabi Saw, jejak Ahlul Bayt, Sahabat, Tabi’in, dan para pengikut mereka.

seusai itu, putranya, Muhammad Al-Baqir. seusai itu, putra Al-Baqir, yaitu Ja’far Ash-Shadiq. Mereka seluruh meneladani ayah-ayahnya dalam kemuliaan dan jalan ini.

Pada masa itu mereka diikuti oleh para pemuka tabi’in. Bahkan, waktu Al-Hasan menyerahkan kekhilafahan lahiriah, masih banyak pemuka sahabat. Apa pandangan mereka? Adakah mereka mengumumkan “Kami berbarengan Anda, kami berperang berbarengan Anda untuk Allah. Sekarang Anda meninggalkan kami dan menyerahkan khilafah untuk orang lain?” Tidak. Al-Hasan patuh (pada tuntunan agama), merekapun ikut patuh.

Tibalah masa tabi’in. Waktu itu, kekuasaan dipegang oleh Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan. Ia dikenal fasik dan negatif. Waktu itu, ada Hasan Al-Bashri, Said bin Al-Musayyib, juga para tabi’in senior. Ada Ali ibnul Husain, juga putra-putra Al-Hasan. Adakah diantara mereka yang membikin kekacauan? Atau melawan penguasa, atau melaksanakan sesuatu yang tidak sesuai dengan teladan para penghulu dan ajaran Nabi Saw?

Khilafah berlanjut. Tibalah masa para Imam : Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, Ahmad binHanbal. Apa mereka seluruh hidup di tengah-tengah kekhilafahan yang lurus atau hidup di tengah-tengah kekuasaan kerajaan? Apakah mereka mempunyai paham bahwa mereka mesti membikin planning untuk menyingkirkan orang-orang yang mempunyai kekuasaan itu?

Mereka sibuk menjaga Islam, menjaga syari’at di tengah-tangah ummat, dengan segala kesungguhan dan daya usaha. Mereka mengorbankan waktu, jiwa-raga, dan harta untuk menerangkan hakikat syari’at untuk ummat manusia serta membawa mereka untuk dapat mengamalkannya. Mereka ialah khalifah the best dari Nabi Saw dan waktu itu Ada begitu banyak figur publik ulama dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Peran Khilafah Para Nabi
Bagitulah khilafah di tengah-tengah mereka. Bahkan, seperti ini pula yang kita lihat dalam Al Qur-an dan dijalani para nabi di masa-masa lampau.

Apakah Nuh AS seorang khalifah di atas muka bumi ini? Ya. Ia khalifah selama 950 tahun. Lalu apakah kekuasaan Ada di tangannya atau di tangan orang-orang kafir? Selama itu pula ternyata kekuasaan bukan Ada ditangannya, tapi tangan orang-orang kafir.

Lalu, apakah tugas khalifah dari Allah hidup atau mati? Tegak di tangan siapa, di tangan orang-orang kafir?

Tidak, khilafah tegak Ada di tangan Nabi Nuh AS dan pengikutnya. Padahal yang beriman kepadanya cuma segelintir orang. Akan tetapi, segelintir orang ini mempunyai kedudukan dan peran yang besar, sampai Allah memuliakan mereka dengan memusnahkan semua ummat manusia kecuali yang Ada di kapal Nuh. Itu ialah Pembalasan atas kesabaran dan ketabahannya selama 950 tahun melakukan tugas khilafah dengan peran yang amat baik.

Nabi Musa memikul tugas khilafah dari Allah. Ia mendatangi Fir’aun, dan kekuasaan Ada di tangan Fir’aun. Hari ke-1, ke-2, dan ketiga, muncullah mukjizat-mukjizatnya. Para tukang sihir pun beriman. Mereka jadi pembela agama Allah dan Tentara Allah. Mereka juga memikul khilafah dari Allah. Akan tetapi,kekuasaan tetap Ada di tangan Fir’aun, sampai Hadir waktunya lantas tatkala Allah menghancur-leburkan Fir’aun dan bala tentaranya.

Sementara itu, pada cerita khilafah Sayyidina Isa, Bani Israil Hadir hendak membunuhnya. Allah pun mengangkat Nabi Isa ke langit.

Apakah Nabi Isa seorang khalifah Allah? Untuk Allah, ia ialah seorang khalifah Allah. Bahkan, termasuk Rasul Ulul ‘Azmi, termasuk utusan Allah yang istimewa.

Begitu pula Sayyidina Ibrahim, ia Ada di bawah kekuasaan Namrudz beberapa kali. Sampai tatkala mukjizatnya muncul, ia keluar dari kobaran api yang jadi dingin dan jadi keamanan bagi dia. Waktu itu, kekuasaan masih Ada di tangan Namrudz, dan Nabi Ibrahim Ada di bawah kekuasaan itu. Ia tidak memikirkan soal kulit permukaan kekuasaan ini sampai Allah SWT menolongnya.

Inilah poin terpenting dalam tema khilafah, juga pandangan para salaf Soal hal itu. Sekian banyak nabi pun melewati kondisi ini.

Begitulah pengertian khilafah. Pengertian yang mempunyai hubungan erat dengan kewajiban untuk melakukan syari’at dalam diri kita, Famili kita, dan anak kecil kita. Sedemikian itu, supaya kita tidak menabrak prinsip umum dan prinsip spesial khilafah, juga tidak menghalangi sebab-sebab datangnya pertolongan Allah dengan hal-hal yang diembuskan musuh-musuh Allah yang ingin merusak moral kita. Mereka memasukkan budaya-budaya negatif yang bertentangan dengan syari’at ke tengah-tengah kita.

Semoga Allah Tidak mau keburukan orang-orang kafir dan orang-orang jahat dari kita. Semoga Allah menurunkan berkah untuk kita dan untuk para ulama disini, juga ulama-ulama lain di Indonesia dan di negara-negara lainnya. Yaitu, orang-orang yang selalu ulet menjaga agama dan syari’at ini dengan usaha yang sempurna.

Dan, cuma Allah-lah yang menganugerahi taufiq dan ampunan.

******

Pandangan utuh perihal tema khilafah diulas Habib Umar bin Hafizh dengan amat Jelas. Diantara yang dapat kita petik dari ulasan di atas ialah bahwa tidak lagi terselenggaranya kekhilafahan yang lurus sesudah 30 tahun pasca-wafatnya Nabi Saw ialah berita yang disampaikan Nabi Saw sendiri. Beliau tahu persis bahwa itu akan terjadi, tapi apa yang beliau pesankan lantas? Kepatuhan pada penguasa, sampai penguasa itu telah tidak lagi dapat ditakwil akan kekufurannya.

Sekalipun makna dari redaksi-redaksi kalimat yang terkait dengan kekhilafahan dalam karya-karya ulama salaf Saat ini marak pro kontra, nyatanya para ulama salaf itu sendiri tidak satupun yang menggalang gerakan spesial untuk mendirikan khilafah yang mencontoh kekhilafahan yang lurus, Khulafa’ Rasyidun. Kesadaran historis kita pun digugah, “Apakah mereka seluruh hidup ditengah-tengah kekhilafahan yang lurus ataukah di tengah-tengah kekuasaan kerajaan? Apakah mereka mempunyai paham bahwa mesti membikin planning untuk menyingkirkan orang-orang yang mempunyai kekuasaan itu?”

Menyaksikan keadaan sebenarnya sejarah di 1 sisi dan dengan asumsi bahwa makna dari redaksi terkait kekhilafahan itu sesuai dengan apa yang disuarakan paradai penyokong khilafah Islamiyah Saat ini pada sisi lainnya, pertanyaan berikutnya yang pantas diusulkan ialah apakah semua ulama dari generasi ke generasi itu cuma orang-orang yang pandai berkata-kata lewat karya-karyanya dan ogah berusaha keras untuk tegaknya khilafah, sesuatu yang konon termasuk ahammul wajibat (kewajiban yang terpenting)?
Tentu bukan seperti ini.Mereka tidak membikin sebuah gerakan spesial sebab mereka paham betul bahwa bukan itu yang dipesankan Nabi Saw terkait problem ini.

Waktu berbuat, khususnya pada kaum muda, seseorang biasanya ingin cepat menyaksikan hasil. Dakwah menyebarkan doktrin wajibnya mendirikan khilafah Islamiyah boleh jadi mempunyai back-ground psikologis semacam itu. Pemicunya, akumulasi ketidak percayaan kepada penyelesaian bermacam problematik sosial, ekonomi, politik, budaya yang tidak kunjung selesai. Dalam keadaan seperti ini, gagasan khilafah Islamiyah Hadir dengan senyum menggoda diselingi pekik takbir yang menggelora, lalu mulai merayu ummat dengan tawaran selaku satu-satunya jalan penyelesaian ummat:bila khilafah berdiri, insya Allah seluruh urusan beres. Siapa tidak tergiur?

Pola dakwah yang berorientasi pada massa sungguh biasanya lebih banyak mengandalkan slogan daripada kandungan. Karena barangkali sebab aspek ini lebih mudah dikalkulasi dan didata. Disinilah perlunya penyadaran bahwa dalam berdakwah, selain bekal keilmuan, kesungguhan, kesinambungan, yang terpenting ialah keikhlasan, selaku bekal seseorang meraih keridhaan di sisi Allah SWT. Keridhaan Allah inilah ukuran keberhasilan dakwah seseorang, bukan yanglainnya. Nabi Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT tidak menyaksikan untuk fisikmu dan hartamu, tetapi Allah menyaksikan untuk amal dan hatimu.” (HR. IbnuMajah).

Dalam isi mauizhahnya, Habib Umar sempat Menyenggol, “Lalu pada akhirnya khilafah kembali seperti ajaran Nabi Saw. Ini sesuatu yang akan terjadi, dan sudah diberitahukan Nabi Saw.” Ia tidak memperjelas lebih jauh maksud “akan” disitu, apakah relatif kepada masa dirinya ataukah masa Rasulullah. Tampak disini bahwa ia pun tidak terjebak dalam perdebatan mengenai hal apakah khilafah yang dikatakan akan kembali seperti ajaran Nabi Saw ini ialah pada masa Sayyidina Umar bin Abdul Aziz ataukah pada masa menjelang hari kiamat kelak. Yang ingin Habib Umar tekankan, sebagaimana yang ia katakan berikutnya, bahwa betapapun, “Berita mengenai hal khilafah ini tidak bertentangan dengan perintah-perintah Rasulullah kepada umatnya…”

Pelajaran dari umat-umat terdahulu mempertunjukkan bahwa, sebab kesungguhan mereka ikut petunjuk syari’atnya dan melakukan tugas khilafah ruhaniyah yang diemban tiap-tiap manusia dalam lingkupnya masing-masing dan jadi penjaga-penjaga syari’at dan ilmu pengetahuan yang setia, pada gilirannya datanglah kemuliaan dan pertolongan dari sisi Allah SWT. Contohnya, Nabi Nuh pun cuma memperoleh pengikut segelintir orang selaku hasil dari dakwahnya selama 950 tahun.
Serangkaian tulisan ini mempertunjukkan bahwa para ulama kita, dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti kalangan Alawiyyin, Nahdhiyyin, dan unsur-unsurumat lainnya di lingkungan Aswaja, pun memahami tema khilafah dengan pandangan seperti ini. Intinya, terus berbuat dan berbuat hal yang nyata di tengah masarakat secara ikhlas, lillahi Ta’ala. Bagi mereka, yang penting ialah mengislamkan masyarakatnya, bukan institusi kenegaraannya.


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ



“Dan sekiranya warga negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami (Allah)akan melimpahkan keberkahan untuk mereka dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96). [Warta Sunda/gg]

Penjelasan: Judul asli tulisan ini “Khilafah Yang Tidak Butuh Singgasana “Khalifah”. Disarikan dari Mau’izhah Habib ‘Umar bin Hafizh di depan Majelis Muwashalah Bayna Al-‘Ulama wa Al-Muslimin di ujung tertinggi, Bogor, tahun 2009 | Majalah Alkisah, Tahun X/ No.17/ 20 Agustus – 2 September 2012, hal. 45-57.










Source link

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement