-->

Header Menu

Ketabahan Pengkaderan HTI yang Tidak Mudah Diberangus Seperti PKI

author photo 25.9.19
Ilustrasi: Massa DPD I Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Lampung. (ANTARA FOTO/Tommy Saputra)

Oleh Aan Rohaeni

Warta Sunda - Suatu hari ditahun 2015, selepas saya meletakan jabatan di KPU Banyumas, saya didatangi 3 (3) orang perempuan-perempuan publik figur HTI Kabupaten Banyumas (1 diantaranya pegawai Pemda Cilacap), maksud kehadiran mereka ialah untuk merekrut saya. Saya salut atas kesungguhannya merekrut calon member dan saya percaya cara seperti itu tidak pernah ditunaikan ormas manapun. Saya didatangi nyaris 3 bulan, dalam seminggu mereka senantiasa Hadir minimal 1 kali, ada saja judulnya, argumentasi sekedar mampir, ngobrol ringan, sengaja ngajak dialog, ngasih buku atau ada buku yang ketinggalan. Intinya mereka tangguh dalam merekrut orang.

Dalam dialog agak panjang, kami bertukar fikiran soal sistem pemerintahan yang mereka cita-citakan, dan saya yang jelas-jelas kaum golongan nasionalis romantis ini mengcounter pemikiran mereka dengan pengetahuan dan keyakinan saya dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara. kayaknya skor kami sama-sama menang...mereka tetap dengan keyakinannya dan saya dengan keyakinan saya. he he he.

Tanpa hard feeling di akhir sesi saya bilang "gerakan HTI itu gerakan politik, kenapa tidak jadi partai saja sekalian kayak P*S misalnya yang terang-terangan memilih jalur pertarungan kekuasaan?". Sebenernya pertanyaan saya agak konyol, wong jelas-jelas sistem begini ialah thogut bagi mereka, tapi dari respon mereka ada yang menarik, masih saya ingat jawabannya sampai sekarang, mereka sungguh-sungguh sistematis dan tabah melaksanakan pengkaderan.

"kita belajar dari kegagalan perjuangan model partai Hizbut Tahrir, kita memilih bersabar membangun gerakan melalui pendidikan, melalui dakwah membangun bermacam power dari segala kalangan, di universitas target kita ialah merekrut kader-kader intelektual muda (dia menyebutkan nama organisasi yang saya tau tentu saja), melalui jalur pendidikan kita mulai dari PAUD, lantas merekrut guru-guru, lalu lembaga-lembaga pemerintahan, pemerintah daerah, dan menyampaikan kader-kader the best kami di suatu desa untuk menguasai masjid-masjid menggelar kajian-kajian dan sebagainya, sekarang kita mulai merekrut artis-artis dan publik figur yang berpengaruh di Kabupaten masing-masing, kami punya TV sendiri dan radio sendiri untuk menyebarkan visi dan misi kami".

Saya bengong otomatis nyeletuk "lalu ?"....

"Pada waktu yang pas dan kami telah percaya sungguh-sungguh siap dengan sokongan yang mengakar dan kuat kami akan sama-sama bergerak mengganti sistem pemerintahan negara ini dengan sistem khilafah".

Perekrut saya waktu itu perempuan-perempun dengan pendidikan S-2 dan S-3, mereka khatam benar soal Khilafah dan janji-janji sistem pemerintahan yang ideal seperti yang mereka cita-citakan. Walaupun mereka tidak sukses meyakinkan saya, tapi saya wajib mengakui bahwa mereka hebat dalam meyakinkan orang, terlebih performance kawan-kawan itu santun pintar dan solehah. Jadi saya amat maklum, kalau banyak kawan-kawan yang tidak mempunyai alternatif sumber info lain soal khilafah dan diajak hijrah akan mudah teryakinkan dan berkoalisi bareng power besar yang telah lama mereka bangun dengan sabar.

Kami berhenti berjumpa sesudah mereka meyakini 100% bahwa sia-sia untuk merubah pendirian saya. Saya bilang dengan 3 orang wanita tersebut bahwa saya kagum atas kesungguhan mereka dalam meyakinkan orang-orang, saya berterimakasih atas Peluang berdiskusi panjang lebar.
Ternyata belakangan saya berjumpa dengan sahabat saya ibu Doktor Tyas Retno Wulan, dan rupanya beliau juga pernah sama-sama mengalami proses perekrutan seperti saya.

Berangkat dari kekuatiran yang sama, mengingat pula di Kabupaten Banyumas telah deras tercium bibit-bibit intoleransi dan ekslusifisme yang berbahaya kalau dibiarkan, khususnya di lingkungan pendidikan, swasta maupun negeri, maka pernah tercetus gagasan dari Bu Tyas, untuk kumpul janjian sama Bu Tri Wuryaningsih, Bu Esti Ningrum dan Bu Elly Kristiani, untuk menggelar perjumpaan lebih besar dengan perempuan-perempuan Banyumas lainnya, seperti tokoh-tokoh Fatayat, Muslimat dan Aisyiyah untuk membangun gerakan membendung isu radikalisme, ekslusifisme dan intoleransi di lingkungan rumah dan sekolah-sekolah di Kabupaten Banyumas. Tapi biasa, terkendala kesibukan masing-masing planning tersebut tidak sempat terlaksana. Hiks

Hubungan saya dengan beberapa kader HTI berhenti semenjak akhir tahun 2015. Lantas di pertengahan Tahun 2017, Pemerintah membikin keputusan strategi pembubaran HTI. Pada waktu itu, seketika bagian kader HTI yang dulu ke rumah saya menghubungi saya dan menjajaki kemungkinan apakah saya berkenan berkoalisi dalam 1000 Advokat pembela HTI. Waktu itu saya menjawab bahwa saya tidak dapat ikut berkoalisi membela HTI, tapi kalau ada teman-teman yang mengalami aksi anarkis di Banyumas gara-gara pilihan politik jadi member, kader atau simpatisan HTI saya akan membela mereka. (argumentasi kemanusiaan tentu saja, sebab waktu itu di Banyumas sungguh tengah ada isu pembubaran kajian agama HTI ).

Saya meyakini bahwa melaksanakan aksi anarkis atau membully HTI, cuma akan mengakibatkan mereka kian solid dan anggota milisi. Narasi selaku "korban" kemanusiaan dapat jadi malah akan mengundang gelombang antipati kepada negara dan ke ormas Anti HTI sekaligus menguatnya sokongan ke HTI. Bersyukur di Banyumas sekalipun sempat memanas tapi dibawah Komando Kapolres Banyumas seluruh ormas anti HTI tidak sampai melaksanakan aksi-aksi yang anarkis. Saya tidak Penting absen satu-satu petinggi ormas yang berjasa meredam emosi masa ya, he he..pokonya saya salut sama beliau-beliau, tabik.

Melawan gerakan HTI dengan cara aksi anarkis baik verbal maupun Non Verbal ialah tindakan yang dapat jadi sia-sia, sebab kader-kader dan simpatisan yang terlanjur percaya dan cinta sama HTI tidak akan mudah melepaskan mimpi mereka soal negara khilafah, perlawanan yang seperti ini cuma akan mengakibatkan mereka kian mengeras dan anggota milisi. Pemulihan pasca pembubaran HTI memerlukan kerja bareng yang simultan dari seluruh kalangan masarakat yang dikomandani tentu saja oleh Pemerintah dan para Publik figur Agama, Publik figur Masyarakarat dan tokoh-tokoh Ormas.

Banyaknya simpatisan masarakat kepada HTI tentu jadi otokritik bagi pemerintah dan jadi pemacu ormas-ormas Islam besar khususnya untuk merangkul masarakat terdekat supaya tidak mudah "tergiring" isu bahwa pemerintahan Khilafah ialah sistem pemerintahan yang paling ideal dan paling benar. Pemerintah wajib menaikkan kewaspadaan jangan sampai kecolongan khususnya di lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah. Para Pemuka agama dapat memberikan rujukan sejarah dan pemahaman yang benar soal sistem pemerintahan khilafah. Merangkul berdakwah dan memberi keteladanan ialah kerja sabar yang wajib ditunaikan oleh semua elemen masarakat bareng pemerintah, belajar dari kesabaran, keuletan ketabahan serta kesungguhan pengkaderan yang ditunaikan kawan-kawan HTI tentu saja. he he.

Seorang temen menanyakan, "an menurutmu apakah HTI bener-bener mati?". Seraya meringis, saya bergumam.... "HTI bukan PKI. PKI mudah ditumpas oleh pemerintah bareng masarakat, sebab ada isu anti Tuhan yang dihembuskan. HTI sebaliknya, gerakan mereka berbungkus baju agama dan keyakinan, pasti tidak mudah punah begitu saja...lagi pula, bocah kecil PAUD yang mereka didik dengan sabar 20 tahun silam, sekarang pastinya telah pada besar dan jadi kader-kader anggota milisi". [Warta Sunda/gg]

Source: Fb Aan Rohaeni










Source link

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement