-->

Header Menu

Kenapa Kyai Cenderung ‘Menghindari’ Bab Jihad? Ini Kata Gus Baha’

author photo 24.9.19
KH Said Aqil Sirodj dan KH Ahmad Baha'uddin Nur Salim (Gus Baha')

Oleh Ahmad Mundzir


Warta Sunda - Kita tidak dapat menutup mata bahwa sebagian belahan dunia Timur Tengah habis dilanda konflik secara bergantian. Bahkan, di antara figur publik Timur Tengah, ada yang menyerukan jihad melalui jalur perang. Di Indonesia cuma ada sekelompok kecil saja dari orang yang suka membicarakan tema-tema perang, jihad dan lain sebagainya. Rata-rata, yang suka mengutak-atik dan berfatwa berhubungan jihad melalui jalur keras itu bersumber dari mereka yang ilmu dasar agama mereka minim. Selebihnya, apalagi para kyai yang ilmunya mendalam secara akademik berusaha menghindari fatwa-fatwa konflik.

Di kitab-kitab salaf (klasik) yang dikaji di bermacam pesantren Indonesia, dalam urusan membicarakan hukum, kajian fiqih yang paling dikedepankan paling Inti ialah tata cara beribadah dengan baik (ubudiyyah). seusai ilmu ibadah mapan, baru lantas meneruskan ke jenjang kajian muamalah (undang-undang transaksi), lalu bab nikah. seusai itu, baru dibicarakan jihad, dan lain sebagainya. Jihad dalam arti perang dikaji oleh santri-santri yang ilmunya telah cukup purna. Bukan malah mendahulukan bab jihad daripada bab shalat.

Kenapa guru-guru kita (para kyai) di Indonesia menghindari membicarakan tema-tema ekstrem atau tema-tema keras?

KH Bahaudin Nur Salim, Narukan, Kragan, Rembang, memberikan argumentasi yang bersumber dari sebuah hadits berikut:



يعذب اللسان بعذاب لا يعذب به شىء من الجوارح فيقول يا رب عذبتنى بعذاب لم تعذب به شيئا من الجوارح فيقال له خرجت منك كلمة بلغت مشارق الأرض ومغاربها فسفك بها الدم الحرام وأخذ بها المال الحرام وانتهك بها الفرج الحرام فوعزتى لأعذبنك بعذاب لا أعذب به شيئا من الجوارح



Artinya: “Mulut akan disiksa dengan siksaan yang tidak akan dibebankan pada 1 member tubuh pun. Lalu mulut menanyakan untuk Tuhan, ‘Ya Tuhan, mengapa Engkau menyiksaku dengan siksaan yang tidak pernah ditimpakan untuk member mana pun selain saya?’ Tuhan menjawab, ‘Ada kata-kata yang menembus jajahan timur dan barat. Dengan kalimat itu, darah yang terhormat malah jadi mengalir, harta haram jadi terampas, kelamin yang dilindungi malah jadi terkoyak. Maka, untuk keagungan-Ku, Saya akan menyiksamu dengan siksaan yang tidak pernah dipikul oleh member tubuh mana pun’.” (Jâmiul Ahâdits: 28617)

Jadi, menurut Gus Baha’, fatwa-fatwa serius yang nantinya akan membikin orang berubah jadi ekstremis, sengaja dihindari para kyai sebab berisiko memicu perpecahan, chaos, bahkan safkud dimâ’ (pertumpahan darah).

“Anda jangan pernah berfatwa dengan meluncurkan 1 kalimat, yang dengan kalimat itu, dapat saja darah-darah orang yang semestinya dihormati, malah bahkan mengalir (tindakan mematikan),” pesan Gus Baha’.

Lebih detail beliau menerangkan, telah jadi tradisi, ulama-ulama dari dahulu itu secara turun-temurun senantiasa menghindari pembicaraan ini. Bukan sebab mereka tidak dapat, tapi sebab takut kalau salah fatwa dapat menimbulkan pertumpahan darah. Dan itu yang dihindari oleh Sayyidina Hasan bin Ali waktu ‘konflik’ dengan Muawiyah.

Waktu itu, Sayyid Hasan bin Ali lebih memilih mengalah. Alasannya menurut Hasan, dapat jadi kepemimpinan yang berhak seharusnya ialah Muawiyah, maka dengan ikhlas Hasan bin Ali menyerahkannya. Atau kalau terjadi kemungkinan lain, misalnya Hasan bin Ali yang bahkan mempunyai hak menduduki jabatan itu, sebab dalam rangka beliau ingin tetap menjaga supaya tidak terjadi pertumpahan darah, Hasan bin Ali berniat memberikan haknya untuk Muawiyah supaya darah seluruh ummat Islam terlindungi.

Sayyid Hasan menutup perkataannya dengan sebuah ayat:


وَإِنْ أَدْرِي لَعَلَّهُ فِتْنَةٌ لَكُمْ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ



Artinya: “Dan saya tidak tahu, boleh jadi hal itu cobaan bagi engkau dan kesenangan sampai waktu yang ditetapkan.” (QS Al-Anbiya’: 111)

Dari cerita Gus Baha’ tersebut, dapat kita pahami bahwa konflik di atas menimbulkan Sangkaan dari pribadi Hasan bin Ali, jangan-jangan konflik yang terjadi antara orang-orang yang menyokong beliau dengan kubu Muawiyah cuma sebuah fitnah atau ujian dari Allah subhânahû wa ta’âlâ saja. Sehingga beliau lebih memilih jalur menyelamatkan pertumpahan darah daripada mengutamakan kekuasaan, walaupun beliau berhak berkuasa. Terlebih lagi, jika Hasan tidak berhak, maka tidak ada 1 argumentasi pun untuk mempertahankan kekuasaan itu sendiri dengan cara menumpahkan darah manusia. Pemikiran tersebut juga amat kental di telinga kita sebagaimana yang pernah digelorakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Dalam detik-detik Gus Dur dilengserkan dari jabatannya selaku Presiden, amat banyak orang yang beriktikad menyerbu Jakarta, ingin membela Gus Dur. Gus Dur menahan mereka. Menurut Gus Dur, darah manusia lebih berharga dibanding jabatan apa pun, termasuk presiden sekalipun. “Tidak ada jabatan di dunia ini yang mesti dipertahankan mati-matian,” kata Gus Dur. [Warta Sunda/gg]










Source link

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement