-->

Type something and hit enter

By On




Baca Juga






Gus Dur. Foto: Istimewa.
Warta Sunda - Unjuk rasa maha siswa merespons Rancangan Undang-Undang (RUU) yang hendak disahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak cuma terjadi waktu ini. Aksi serupa telah terjadi berkali-kali. Pada September 1999 silam DPR pernah didemo gara-gara hendak mengesahkan RUU PKB (Penanggulangan Kondisi Bahaya).

Dalam RUU itu, maha siswa menyaksikan ada pendekatan militerisme dalam menanggulangi keadaan bahaya, sehingga Penting ditolak. Di situ mereka menyaksikan ada usaha pembangkitan kembali Orde Baru lewat orang-orang tertentu.

Di balik usaha penolakan itu, ada sejumlah maha siswa yang memilih mendatangi figur publik bangsa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke Ciganjur, Jakarta Selatan. Tentu saja untuk meminta nasihat dan anjuran. Di antara maha siswa tersebut ialah aktivis PMII Ciputat, Alamsyah M Djafar.

Berikut cerita Alamsyah M Djafar yang dituangkan lewat facebook-nya dan dilansir NU Online.

"Gus Dur mesti diberi tahu soal ini. Boleh jadi beliau belum mengerti!" kata sahabat saya yang berambut gondrong setengah menarik urat lehernya. "Kalau RUU PKB diketuk, Orde Baru bangkit lewat orang-orangnya, Wiranto," katanya lagi. 


Mobil angkutan kota (angkot) Ciputat yang kami tumpangi itu terus melaju ke Ciganjur. Kami ingin cepat menjumpai Gus Dur dan bicara terbuka soal isu kebangsaan ini. Telpon selepas maghrib dari ajudan Gus Dur beberapa jam lalu membikin kami kecewa.


Telpon itu isinya ringkas saja: Gus Dur menganjurkan kami tidak demo ke DPR. Padahal bus telah kami pesan, spanduk telah dicetak, leaflet agitasi dan propaganda telah dikopi, desain aksi telah dipastikan. Seluruh buyar.


Gagal demonstrasi tidak apalah. Namun masalahnya lebih besar dari sekadar gagal demonstrasi itu. Kalau RUU diketuk, Indonesia dikangkangi angkatan bersenjata. Orde Baru dapat hidup dari kuburnya. "Ini yang Penting kita sampaikan ke Gus Dur. Beliau mesti tahu ini," katanya lagi. Saya mengiyakan pikiran itu.


Waktu kami masuk ke ruangan di rumahnya di Ciganjur, Gus Dur masih terbaring. Ia bangun sebab kami melempar salam. Kami bertujuh mencium tangannya, lalu duduk melantai. Lama kami berdiam-diam. Gus Dur diam. Mungkin menanti tamu-tamu maha siswa berani ini mengutarakan unek-uneknya. 


Tidak ada yang bicara. Sahabat saya menyenggol bahu saya supaya saya bicara. Saya tidak punya nyali. Lainnya juga begitu. Menanti beberapa menit tidak ada yang bicara. "Saya bukan mencegah Anda semua demonstrasi. Saya cuma tidak mau ada maha siswa yang mati lagi," kata Gus Dur mengingat kejadian tragis pada 1998.


Gus Dur kemudian mengusulkan supaya memilih satu-dua orang di antara kami lalu berjumpa dengan Pak Wiranto. Intinya itu saja pembahasan malam itu. Lalu Gus Dur bicara lain dan tentu saja cerita-cerita lucu.


Kejadian itu terjadi kisaran September 1999 tatkala RUU Penanggulangan Kondisi Bahaya yang dibuat pemerintah dan DPR akan diketuk. Maha siswa meradang. Mereka turun ke jalan. Saya ikut dalam gelombang itu. 


Saya cuma mau bilang, jelek-jelek begini saya pernah jadi demonstran. Aksi-aksi unjuk rasa yang meluber di mana-mana belakangan ini telah Memperingatkan masa-masa itu. Dan yang lebih penting lagi dari seluruh itu, Presiden Jokowi Penting menguping aspirasi mereka. [Warta Sunda/pin]


Penjelasan: Disadur dari NU Online dengan judul asli 'Respons Gus Dur waktu Sekelompok Pengunjuk rasa Mendatangi Rumahnya'.













Source link

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...

Click to comment