-->

Header Menu

Ambrolnya “Polisi Syariat” di Arab Saudi

author photo 23.9.19
Polisi Syariah razia wanita berbaju ketat di Lhokseumawe. (Foto: kompas.com)

Oleh Sumanto Al Qurtuby

Warta Sunda - Di Indonesia dikenal dengan nama “Polisi Syariat”, di Arab Saudi populer dengan sebutan “mutawa” atau “mutawin”, sementara di Iran disebut “gast-e ersad”, seluruh mengacu pada pengertian “polisi sipil penjaga moralitas warga” yang mereka pengakuan untuk menegakkan amar makruf nahi munkar sesuai dengan Syariat Islam. Di Arab Saudi, “polisi syariat” dibentuk tahun 1940, di Afganistan pada tahun 1992, di Provinsi Kano Nigeria tahun 2003, di Sudan 1992, di Iran tahun 2005 (sebelumnya, walaupun telah eksis tidak mempunyai nama terang).

Tahun 1940, Arab Saudi membentuk “Komite Amar Ma’ruf Nahi Munkar” (populer dengan sebutan “hai’a”) yang tugas Intinya memastikan warga yang tinggal di Arab Saudi berperilaku, khususnya di ruang publik, sesuai dengan Syariat Islam (tentu saja Syariat Islam menurut penafsiran, pemahaman, dan standar mazhab Hanbali yang berlaku di Saudi). Tujuannya ialah memberi nasihat dan petunjuk untuk warga supaya jadi Muslim yang baik dan lebih baik lagi.

Tetapi peran dan perilaku member komite ini berubah drastis semenjak kubu Salafi radikal konservatif menguasai panggung keagamaan dan kepolitikan di Arab Saudi. Turning point-nya pada tahun 1979 waktu sekelompok radikal teroris pimpinan Juhaiman al-Otaibi melaksanakan aksi teror di kompleks ka’bah.

Semenjak itu, kubu Ikhwan dan Sahwah (faksi ekstrimis Salafi yang mengawinkan ajaran konservatif Wahabisme dengan ideologi Qutubisme Ikhwanul Muslimin) berkembang biak menguasai bermacam bagian agama dan sosial warga Arab Saudi, termasuk menguasai stuktur dan keanggotaan Polisi Syariat.

Semenjak itu pula, horor mencekam warga yang tinggal di Arab Saudi. Masarakat pun, khususnya kaum wanita mulai ketakutan jikalau keluar rumah. Polisi Syariat berkeliaran di ruang-ruang publik seraya membawa cambuk jikalau menyaksikan ada orang yang menurut mereka menabrak syariat langsung disekrap.

Kalau menyaksikan wanita yang tidak berabaya/berhijab hitam dan bercadar langsung disekrap, jikalau menyaksikan warung yang buka waktu azan langsung dieksekusi, jikalau menyaksikan tempat ngumpul bareng langsung diobrak-abrik, jikalau menyaksikan TV yang menampilkan nyanyian langsung diserbu, jikalau menyaksikan wanita tanpa pendamping laki langsung diintrogasi, jikalau menyaksikan lekaki duduk sendirian di ruang Famili di sebuah resto langsung dibabibu, dlsb.

Dimanapun, kelakuan Polisi Syariat ini kira-kira sama: sama-sama jancuknya. Foto di bawah ini ialah contoh member Polisi Syariat Taliban di Afganistan tahun 2001 yang mengcambuki seorang wanita yang kepergok membuka burqa (cadar) di tempat umum.

Semenjak itu halal-haram mulai bergema: musik haram, alat musik haram, lagu haram, film haram, bioskop haram, drama haram, telenovela haram, Palentin haram, salon kecantikan haram, egal-egol haram, njengking haram, telek benyek haram dst dst. Sebab takut, wanita terpaksa berabaya, berhijab, dan bercadar hitam di ruang publik. Padahal sebelumnya tidak pernah terjadi. Ungkapan populer di warga kala itu ialah: “Tutuplah tubuhmu rapat-rapat sebab diluar sana banyak para serigala yang siap memangsa”.

Sampai akhirnya datanglah tragedi massal yang memilukan yang menyita perhatian dunia internasional pada tahun 2002: kebakaran sekolah wanita yang menyebabkan puluhan siswi meninggal. Polisi Syariat tidak mau menolong para siswi tersebut dengan argumentasi mereka tidak mengenakan abaya/hijab/cadar hitam dan tidak ditemani oleh member Famili (mahram).

Tragedi ini membikin (almarhum) Putra Mahkota Abdullah meradang. Tetapi sebab posisi beliau masih Putra Mahkota, ia tidak dapat berbuat banyak. Tatkala lantas beliau jadi raja tahun 2005, paska wafatnya Raja Fahd), ia lantas mengganti pimpinan Polisi Syariat dengan publik figur Islam yang lebih moderat.

meskipun begitu belum dapat 100% menuntaskan problem. Para member Polisi Syariat masih sporadik melaksanakan aksi-aksi bahlul di tempat-tempat umum. Akhirnya pada tanggal 11 April 2016, Kerajaan Saudi legal menutup organisasi Polisi Syariat. Saat ini Polisi Syariat telah almarhum. Innalilahi.

Kalau di Arab Saudi (dan di sejumlah negara lain) Polisi Syariat telah almarhum, saya dengar konon di Aceh malah tengah membahana? Omaigattt. [Warta Sunda/gg]


Jabal Dhahran, Jazirah Arabia.













Source link

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement