-->

Header Menu

Tidak mau Khilafah dan NKRI Bersyariah Ala Habib Rizieq dan FPI

author photo 1.8.19
NKRI Bersyariah dikumandangkan FPI. (Foto: istimewa)

Oleh Mamang M Haerudin

Warta Sunda - Saya dapat berteman dengan siapapun, tanpa pandang agama dan latar belakangnya apa. Saya berteman dengan saudara-saudara kita yang non Muslim, yang Syiah, Ahmadiyah, dan aliran kepercayaan apapun, bahkan dengan yang tidak beragama sekalipun. Tekad bulat itu dapat saya lakukan dengan karena Ada dalam lindungan NKRI. Di mana Pancasila jadi ideologi Negara selaku titik-temu (kalimatin sawa) perbedaan. Saya lebih menaruh hormat untuk siapapun, bukan Muslim (tidak beragama Islam), sejauh ia tekad bulat pada Pancasila dan NKRI. Sebab itulah saya Tidak mau radikalisme Habib Rizieq Shibab dan ormasnya Front Pembela Islam (FPI). Habib Rizieq dan FPI mengklaim Muslim tetapi akhlaknya bertentangan dengan Islam dan Pancasila.

Secara personal saya dapat hormat untuk siapapun, untuk Habib Rizieq dan para aktivis FPI. Tetapi secara tekad bulat kebangsaan saya, Habib Rizieq dan FPI dapat berlawanan. Maka radikalisme Habib Rizieq dan FPI akan saya lawan. Karena Islam--dalam konteks kebangsaan--yang saya pahami tidak sejalan dengan apa yang dipedomani Habib Rizieq dan FPI. Sebagaimana kita tahu, Habib Rizieq dan FPI mempunyai propaganda penegakan khilafah atau sering kali menyebutnya NKRI bersyariah. Bagi saya, NKRI ialah konsep khilafah kebangsaan Indonesia dan Indonesia dengan sistem demokrasinya yang tengah berjalan ini ialah ikhtiar kebangsaan paling islami. NKRI tetap NKRI tidak Penting ada embel-embel khilafah atau bersyariah. Kita konkritkan dulu duduk perkara dan perbedaan tekad bulat kebangsaan saya dengan Habib Rizieq dan FPI.

Saya ingin menjelaskan bahwa Habib Rizieq dan FPI ialah salah pelaku dan ormas radikal di Indonesia. Rekam jejaknya amat terang, tidak dapat disanggah. Maka terang saya dan NU Tidak mau radikalisme Habib Rizieq dan FPI. Ya saya ialah santri yang tumbuh dari rahim dan kultur Nahdlatul Ulama. Para kyai dan ulama teladan saya ialah mereka yang Ada dalam lindungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Saya dan NU memahami betul bahwa kami mempunyai tanggungjawab dakwah yaitu berhubungan dengan amar makruf nahi munkar: menegakkan kebaikan, melarang kemunkaran. Cuma saja amar makruf nahi munkar wajib diupayakan dengan cara-cara yang baik (bil makruf), bukan dengan bil munkar (dengan cara-cara yang munkar).

Nah Habib Rizieq dan FPI sudah menodai tuntunan dakwah amar makruf nahi munkar itu sendiri. Karena Habib Rizieq dan FPI sudah terbukti dengan terang banyak melaksanakan dakwah dengan marah bukan ramah, dengan aksi anarkis bukan kelembutan, dengan pukulan bukan dengan rangkulan. Kebaikan yang disampaikan dengan keburukan maka sama saja kita sudah menumbuh keburukan yang baru. Itulah yang selama ini jadi kekhilafan terbesar Habib Rizieq dan FPI. Islam dipraktikkan jadi agama yang radikal dan onar. Dakwah aksi anarkis jadi andalan sehingga Islam jadi sedemikian menyeramkan. Jika FPI menolong pada tragedi bencana dalam dan kebaikan sosial yang lain itu terang beda urusan.

Indonesia bukan Negara Islam (Negara-agama). Bukan Negara yang berdasar agama tertentu. Indonesia bukan cuma milik ummat Islam. Indonesia ialah Negara-bangsa. Indonesia ialah milik seluruh ummat beragama dan segenap warganya. Tidak boleh ada pemaksaan ideologi agama tertentu kepada sistem pemerintahan. Makanya para founding fathers kita meracik Pancasila selaku titik-temu agama-agama dan seluruh perbedaan. Pancasila sungguh bukan agama, tetapi kelima butir Pancasila diambil dari nilai-nilai luhur agama. Kelima butir Pancasila ialah ajaran luhur seluruh agama-agama. Termasuk butir ke-1 Pancasila "Ketuhanan yang Maha Esa" ialah ajaran seluruh agama. Konsep ketuhanan yang sesuai dengan konsep agamanya masing-masing.

Pancasila serupa Piagam Madinah zaman Nabi Muhammad saw. Pancasila berangkat dari kesamaan visi-misi bahwa agama lahir ke muka bumi untuk merahmati sekalian alam. Maka dari itu Pancasila amat islami, amat Kristen, amat Katholik dan sesuai dengan agama-agama lain. Sebagaimana dahulu Nabi saw., mengakomodir seluruh ummat beragama di bawah lindungan Piagam Madinah. Itu artinya bahwa berdasar Pancasila dan Piagam Madinah, seluruh agama dan umatnya mempunyai kedudukan yang setara. Ummat Islam boleh menganggap agamanya yang paling benar, sebagaimana agama lainnya, tetapi kita tidak boleh menganggap rendah agama lain. Apalagi sampai mencaci-maki agama lain dan ajaran-ajarannya.

Habib Rizieq dalam banyak Peluang ceramahnya terbukti banyak mencaci-maki. Sekurangnya pernah 2 kali dijebloskan ke dalam bui. Maka saat sampai hari ini Habib Rizieq tersandung Perkara hukum, lalu lari ke luar negeri, itu bukanlah sikap yang baik. Dan wajib kita pahami itu bukanlah kriminalisasi ulama. Siapapun, orang yang dinilai ulama sekalipun di mata hukum semuanya sama. Setali 3 uang dengan Habib Rizieq, para aktivis FPI banyak melaksanakan aksi anarkis. Memukul dan men-sweeping. Padahal Indonesia kita ini ialah Negara hukum, di mana telah ada tersendiri aparat Negara yaitu kepolisian yang bertugas menegakkan hukum.

Saya ingin menekankan sekali lagi, tidak ada istilah khilafah (versi FPI) dan NKRI Bersyariah di Indonesia. NKRI tetap dan cukup dengan NKRI. Maka sebetulnya sederhana sekali jikalau hidup damai di Indonesia, tunjukkan kebaikan akhlak kita masing-masing dan setialah pada tekad bulat bareng kita yaitu Pancasila. Saya dan saya pikir kita seluruh memahami bahwa tidak ada sebuah Negara yang sempurna tanpa kekurangan. Bahkan Negara-negara di dunia yang mengukuhkan Islam selaku ideologi dan sistem pemerintahannya banyak yang malah hancur-lebur; Libya, Afghanistan, Irak, Yaman dan lain sebagainya. Kezaliman, kejahatan, kemaksiatan dan kemunkaran pasti akan senantiasa ada, bahkan ada pada dahulu zaman Nabi saw., dan para sahabat. Kurang apa kepribadian Nabi saw., dan para sahabat, tapi wajib diakui, sejarah Islam menulis ada banyak para sahabat yang mati dibunuh gara-gara Islam dijadikan alat politik dan dijadikan idelogi radikal (radikalisme). Wallaahu a'lam. [Warta Sunda/gg]


Mamang M Haerudin (Aa), Fajar Inti Jogja, Kamis 1 Agustus 2019.











Source link

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement