-->

Header Menu

Sejarah Tulisan Darkah (Ya Ahlal Madinah Ya Tarim Wa Ahlaha)

author photo 6.8.19
Siapa sangka kalau penyusun dari lambang Darkah ini berasal dari kota Malang, Jawa Timur.  Beliau ialah Al-Habib Abu Bakar bin Abdurrahman Al-Haddad.
Arti tulisan darkah. Foto: istimewa


Siapa sangka kalau penyusun dari lambang Darkah ini berasal dari kota Malang, Jawa Timur.

Beliau ialah Al-Habib Abu Bakar bin Abdurrahman Al-Haddad.


Warta Batavia - Lambang Huruf ‘ح’ di tengah dengan ukuran yang cukup besar, lantas di atasnya bertuliskan "Darkah ya Ahlal Madinah" tengah di bawahnya tertulis "Ya Tarim Wa Ahlaha", di samping kanannya bertuliskan lafdzul Jalalah yang berbunyi “Yaa Fattah” dan di samping kirinya “Yaa Rozzaq”, sedangkan di atas huruf ‘ح’ bertuliskan angka 1030 dan di tengah huruf ‘ح’ bertuliskan angka 110 seperti Penjelasan gambar, Adalah hasil karya beliau yang terinspirasi dari beberapa cerita sohibul maulid Simtud Dhurror.

Beliau yang lulusan dari Pondok Pesantren Darut Tauhid ini berinisiatif membikin lambang Darkah berawal dari cerita Al-Imam Al-Habib Ali Al-Habsyi (Sohibul Maulid, pengarang Simtud Dhurar).
Pada awalnya beliau Al-Imam Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi membikin tanda untuk saban kiriman dengan menggunakan angka 110, dikarenakan sebab waktu itu beliau, Habib Ali al Habsyi, sering kali memperoleh kiriman-kiriman dari luar negeri, dan kiriman tersebut seringkali tidak sampai untuk beliau.

Lantas petugas pengirim surat (pak posnya) meminta untuk membikin tanda, supaya saban ada kiriman barang atau surat tidak hilang kirimannya. Lantas beliau membikin 'ح’ disertai dengan huruf 110. 110 itu sendiri Adalah hitungan total bobot nilai huruf hijaiyyah yang merangkai kata ‘Ali’ dalam kitab Aqidatul Awwam (pada halaman terakhir ada rumusannya).
Adapun gabungan 110 dan 'ح’ itu ada kisaran tahun 1980-an, atas inisiatif dari Habib Ali bin Muhammad Al-Haddad dan Habib Segaf bin Muhammad Ba’agil.


Adapun penulisan kalimat "Darkah ya Ahlal Madinah" ialah inisiatif dari Habib Abu Bakar sendiri, yang diambil dari qosidah Habib Muhammad bin Idrus, yang banyak berisi mengenai hal tawasul-tawasul dengan Ahlul Madinah (Nabi Saw beserta keluarganya dan sahabatnya). Termasuk juga kalimat "Yaa Tarim Wa Ahlaha", yang Adalah tawassul untuk para shalihin dan lebih dari 10 ribu wali yang dimakamkan di pemakaman Zanbal, Fureidh, dan Akdar. Pekuburan Zanbal ialah pekuburan para wali dan sholihin, juga di pekuburan Zanbal Ada Ashhabul Badr utusan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq Ra yang wafat di sana.

Penerapan lambang Darkah ini pada awalnya dulu bukan berbentuk bulat dan bertuliskan kalimat tawasul tadi, melainkan cuma berupa lambang 'ح’ huruf 110 dan 1030 saja. Lantas berkat anjuran dari paman beliau yang bernama Habib Abdul Qodir bin Husain Al-Haddad, maka lambang tersebut ditambahlah dengan wiridannya dari abahnya Habib Husain, yaitu Yaa Fattah Yaa Rozzaq, dengan niatan supaya dapat fadlilah wiridannya Habib Husain bin Muhammad Al-Haddad.


Arti Tulisan Darkah



Siapa sangka bahwa logo yang telah dikenal di semua dunia, baik di kalangan habaib maupun muhibbin ini telah menyebar ke bermacam negara, seperti Yaman, Malaysia, Singapore, Abu Dabi, Kuwait, dll.

sesudah berjalan lama, lambang ini sempat nyaris hilang. Dan Saat ini lambang atau ism ini sering dijumpai di bermacam majelis-majelis ta’lim atau maulid. Ada yang mempergunakan logo ini di spanduk, umbul-umbul, bendera, jaket, dll, atau dalam bentuk stiker, sampai mobil-mobil di kaca belakangnya ditempel stiker lambang ini.

Lambang yang sesungguhnya ialah Adalah suatu Ajimat (Ruqyat) bukan logo suatu organisasi tertentu, yang apabila dikaji di kitab-kitab, maka lambang ini tidak akan diketemukan di kitab manapun, sebab lambang ini ada sebab Habib Abu bakar bin Abdurrahman al-Haddad menyusunya dipakai untuk tafa’ul-an (mengharap berkah).

Adapun hitungan 1030 itu berasal dari hitungan kalimat “Amanatullah wa Rosuluh wal Abdullah al Haddad” yang ditujukan untuk Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, dimana hitungan ism tersebut Adalah inisiatif dari para ulama’ kota Tarim Yaman.


Sesuai faham Ahlussunnah wal Jama’ah, ‘azimat (Ruqyat) dengan huruf arab Adalah hal yang diizinkan, selama itu tidak menduakan Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pada Kitab Faidhul Qadir Juz 3 halaman 192, dan Tafsir Imam Qurthubi Juz 10 halaman 316-317 dan masih banyak lagi penjelasan para Muhadditsin Soal diperbolehkannya hal tersebut, sebab itu semata-mata ialah bertabarruk (mengambil berkah) dari ayat-ayat Al-Qur’an dan kalimat-kalimat mulia lainnya. [dutaislam/ka]

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement