-->

Header Menu

Ngaco Aktivis HTI Irkham Fahmi Menyebut Perlawanan NU Kepada Orde Baru Sebab Tolak Pancasila

author photo 4.8.19
Irkham Fahmi al-Anjatani.
Warta Sunda - Aktivis HTI Irkham Fahmi al-Anjatani dalam artikelnya yang berjudul "Tatkala Kyai-Kyai NU Ditangkapi" menceritakan perlawanan kyai NU kepada kezaliman pada masa Orde Baru.

Hal seperti ini benar adanya, tapi Irkham seterusnya ngaco bahwa hal tersebut dikarenakan penolakan kiai-kiai NU kepada Pancasila. Irkham mecatat:

Dalam kondisi genting, banyak ulama NU dizhalimi sebab Tidak mau Asas Tunggal Pancasila, di awal-awal tahun 1980, untuk meredam kezhaliman itu, Gusdur coba memberi pengertian ke Para kyai, supaya mereka mau menerima Pancasila. Dari situlah lantas Kyai-kiai NU terbagi ke dalam 2 kubu, ada yang menerima dan ada yang Tidak mau.


menurut fakta sejarah tersebut, maka dapat disimpulkan, bahwa seluruh ulama, termasuk kiai-kiai NU dahulu pun Tidak mau Pancasila. Logikanya, kalau mereka menerima Pancasila semestinya mereka tidak Tidak mau waktu Soeharto memaksakan Asas Tunggal ke seluruh ormas Islam. Nyatanya, mereka Tidak mau, dan lantas mereka dibredel oleh Penguasa.

Padahal sejarah sudah menulis bahwa KH Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur) ikut merumuskan dasar negara Pancasila.  Pada mulanya, Tim 9 (sembilan) perumus dasar negara yang terdiri dari Soekarno, Muh. Hatta, A.A. Maramis, KH A. Wachid Hasyim, Abdul Kahar Muzakkir, Abikusno Tjokrosujoso, H. Agus Salim, Ahmad Subardjo dan Muh. Yamin, merumuskan bagian bunyi Piagam Jakarta yaitu: “Ketuhanan, dengan Kewajiban Menjalankan Syari'at Islam Bagi Pemeluk-pemeluknya”.

Sebelum Pembukaan/Muqaddimah (Preambule) disahkan pada tanggal 17 Agustus 1945 Mohammad Hatta mengutarakan aspirasi dari rakyat Indonesia bagian Timur yang mengancam Melepaskan diri dari Indonesia kalau poin “Ketuhanan” tidak diubah esensinya. Akhirnya sesudah berdiskusi dengan para figur publik agama di antaranya Ki Bagus Hadikusumo, KH Wahid Hasyim, dan Teuku Muh. Hasan, ditetapkanlah bunyi poin ke-1 Piagam Jakarta yang seterusnya disebut Pancasila itu dengan bunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Figur publik ulama yang berperan menekankan konsep Ketuhanan yang akomodatif itu ialah KH Wahid Hasyim. Menurut Kyai Wahid Hasyim waktu itu, “Ketuhanan Yang Esa” Adalah konsep tauhid dalam Islam. Sehingga tidak ada argumentasi bagi ummat Islam untuk Tidak mau konsep tersebut dalam Pancasila. Artinya, dengan konsep tersebut, ummat Islam mempunyai hak menjalankan keyakinan agamanya tanpa mendiskriminasi keyakinan agama lain. Di titik inilah, menjalankan Pancasila sama artinya mempraktikan Syariat Islam dalam konsep hidup berbangsa dan bernegara. Sehingga tidak ada sikap intoleransi kehidupan berbangsa atas nama suku, agama, dan lain-lain. (Abdul Mun’im DZ, 2016).

Baca: KH Wahid Hasyim Lahir untuk Melahirkan Rumusan Pancasila

Masih di era Sukarno, waktu GP Ansor difitnah akan membentuk Negara Islam Indonesia oleh Nekolim, G-30 S dan anteknya, Kyai Machrus Ali yang pada waktu itu menjabat selaku Rois Syuriah PWNU Jatim dengan tegas menjelaskan:

“NU tidak ada impian apalagi niatan untuk membentuk Negara Islam, seperti apa jang didesasdesuskan oleh Nekolim dan antek2nja. NU tetap mempertahankan Negara Pantjasila sampai achir zaman”. Baca: Tatkala NU Banjir Fitnah, Ini Respon KH Machrus Ali Lirboyo [Warta Sunda/gg]









Source link

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement