-->

Header Menu

Muslimah Day Bandung Jadi Bahan Felix Lancarkan Kritik dan Playing Fictim

author photo 4.8.19
Felix Siauw. Foto: Istimewa.
Warta Sunda - Muslimah Day di Kota Bandung akhirnya dihelat dengan mendatangkan Ustadz Felix selaku penceramah. Penolakan Kubu Penduduk Pasundan Bergerak atas kehadiran Felix tidak membuahkan hasil sesudah berlangsung mediasi dan membolehkan Felix berceramah dengan syarat tidak tidak keluar dari jalur Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Syarat tersebut dipehuli oleh Felix. Muslimah Day dihadiri sejumlah peserta yang entah berapa jumlahnya. Acara bahkan dibuka oleh DPRD Bandung Edwin Bules Sanjaya.

Sampai di sini dapat dilihat Muslimah Day tidak ada problem. Aman-aman saja. Ceramah Felix pun tidak keluar dari jalur NKRI dan Pancasila.

Tetapi di sisi lain, Peluang yang diberikan ke Felix bahkan jadi ajang bagi Felix untuk playing fictim. Peluang itu jadi ajang Felix untuk melancarkan kritik bagi Penduduk Pasundan Bergerak yang sebelumnya Tidak mau kedatangannya.

Kritik tersebut disampaikan Felix melalui sebuah tulisan berjudul "Khayalan" yang diposting di akun Instagramnya, Ahad 04 Agustus 2019. Felix menganggap bahwa kekuatiran Penduduk Pasundan Bergerak sebab cuma hanyalan saja.

Berikut ini beberapa kutipan dari tulisan Felix:

"sebelum ini beberapa yang mengatasnamakan masyarakat pasundan Tidak mau dan mengancam membubarkan acara dengan tudingan bahwa acara ini akan menyebabkan ketegangan, perpecahan, propaganda, anti NKRI, anti Pancasila, radikal dan sebagainya."

"Ternyata semuanya khayalan saja. Yang terjadi acara, acara dibuka oleh Ketua DPRD Bandung yang shalih, kang @edwinbulessanjaya, mewakili penyelenggara pemerintahan Bandung, menerangkan posisi bahwa Islam bahkan jadi ruh bagi Indonesia, termasuk Pancasila."

"Ternyata seluruh yang dikhawatirkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab cuma khayalan, faktanya ibu-ibu segala usia datang dengan anak kecil mereka, kerinduan mereka akan ukhuwah yang memadukan mereka duduk dan khusyu mendengarkan materi"

"Lucu, zaman now, ibu-ibu lebih heroik dibandingkan mereka yang mengklaim pembela negeri, anti radikal, yang takut cuma dengan isu. Ibu-ibu ternyata lebih toleran dan mau berbaik sangka dibanding mereka yang mengaku-ngaku palin toleran tapi menebar fitnah"

Anda dapat baca dan lihat sendiri bagaimana Felix membikin narasi untuk mematahkan lawannya. Sampai di sini Penduduk Pasundan Bergerak yang sebelumnya Tidak mau kehadiran Felix sudah kalah selangkah dengan Felix. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Sementara Felix dengan pongahnya melancarkan kritik ke mereka.

Secara akal sehat Felix yang Adalah publik figur HTI terang tidak akan kampanye khilafah. Acara tersebut telah diawasi. Kalau Felix kampanye khilafah di acara tersebut sama halnya dengan Kendat. Aparat dapat langsung menurunkan Felix dari panggung. Inilah taktik licik publik figur HTI.

Kenapa licik? sungguh publik figur HTI seperti Felix telah tidak lagi kampanye khilafah. Namun yang mesti terus diingat Felix belum pernah mengumumkan janji setia ke NKRI. Sebaliknya, Felix terus gencar mengkritik pemerintah dengan logika HTI-nya. Bukan logika aturan yang sesuai dengan prinsip undang-undang.

Contoh ini dapat dilihat dari tulisan Felix berjudul "Males Mikir, Salahin yang Lain Aja" yang baru diposting Sabtu 03 Juli 2019. Beiktu kutipan tulisan Felix dalam tulisan yang menyorti polemik FPI tersebut:

"Saya nggak kaget tatkala efpei dipersulit oleh penguasa waktu ini. Saya menduga keras, deradikalisasi yang digaungkan penguasa, sesungguhnya de-islamisasi. Dan efpei termasuk yang teguh dengan Islam"

"Sayangnya, tafsir siapa yang radiakal dan siapa yang tidak, cuma ada pada penguasa dan alat-alatnya. Label radikal, anti-NKRI, anti Pancasila, seenaknya dipakai untuk siapapun yang tak sama."

Felix menuding bahwa apa yang ditunaikan pemerintah kepada FPI waktu ini bagian dari de-islamisasi. Padahal kita tahu bahwa polemik FPI berangkat dari adanya konsep khilafah yang digaungkan FPI. Ini telah diakui oleh FPI sendiri, walaupun konsep khilafah FPI tak sama dengan HTI. Pemerintah tetap melaksanakan kajian kepada FPI, apakah khilafah FPI berkemungkinan merusak NKRI atau tidak.

Tetapi oleh Felix pemerintah yang ingin memberantas kubu radikal Disangka keras ingin menghilangkan islam (de-islamisasi). Ini terang tudingan dan tafsir serampangan Felix.

Felix juga menuding pemerintah sudah seenaknya menafsirkan siapa yang radikal dan siapa yang tidak. Padahal kita tahu bahwa pemerintah bergerak dan bertindak berdasar aturan undang-undang yang jadi pedoman dan sudah disepakati oleh bermacam pihak di pemerintahan.

Masih percaya dan ingin ikut Felix? jikalau kami mah, ogah!. [Warta Sunda/pin]










Source link

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement