-->

Header Menu

Ini Dalil Puasa Sunnah Tarwiyah

author photo 4.8.19
Penjelasan dalil puasa sunnah tarwiyah (sumber: istimewa)

Bulan Dzulhijjah bagi ummat Islam Adalah bagian bulan istimewa. pasalnya, di bulan ini mereka merayakan hari hari raya ke-2, yaitu Idul Kurban.

Warta Sunda -  Bulan Dzulhijjah ialah hari bahagia  ummat Islam, sebab pada hari itu mereka mengenang cerita Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail. Kenenagan itu dipraktekkan dengan memotong haewan qurban ang dishare kapada fakir dan miskin supaya dapat merasakan makan daging.

Selaku bentuk memuliakan bulan Dzulhijjah, ummat Islam selain memotong haewan qurban, mereka juga melaksanakan ibadah puasa pada hari kesembilan dan hari kedelapan.

Baca: Keutamaan Sepuluh Hari Ke-1 Bulan Dzulhijjah

Pada bulan Dzulhijjah ummat Islam selain berpuasa disunahkan untuk berpuasa pada hari ke sembilan dan kedelapan. Puasa ini Adalah bentuk ummat Islam dalam rangka mendekatkan diri untuk Allah SWT.

Puasa hari kesembilan dinamakan puasa Arafah, sedangkan puasa hari kedelapan disebut puasa Tarwiyah. Ulama salaf sering melaksanakan ke-2 puasa ini menjelang hari raya Idul Kurban.

Ulama fikih berpendapat bahwa puasa hari kedelapan bulan Dzulhijjah atau puasa Tarwiyah termasuk ke dalam amalan sunnah atau selaku fadhilah. Para ulama berlandaskan 2 argumentasi dasar terkait kesunahan puasa Tarwiyah.

Landasan ke-1 ialah puasa Tarwiyah Adalah usaha meraoh fadhilah puasa Arafah yang amat besar. Sehingga dalam hal ini, pengarang kitab Fathul Mu'in, Syekh Zainuddin Al-Malibari mengumumkan bahwa hukum puasa Tarwiyah ialah sunnah muakkadah.

Landasan ke-2 ialah hadis nabi mengenai hal keutamaan sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Di dalam hadis tersebut dijelaskan, sepuluh hari bulan Dzulhijjah di sisi Allah SWT mempunyai keistikewaan dan keutamaan yang besar dan hari Arafah serta hari Tarwiyah termasuk di dalamnya. Oleh sebab itu, berpuasa di ke-2 har itu sarat dengan keutamaan.


مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِـحُ فِيْهَا أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ- يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْـجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلاَ الْـجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلاً خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَـمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ



“Tidak ada perbuatan yang lebih dilike oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang ditunaikan pada sepuluh hari ke-1 di bulan Dzulhijjah. Para sahabat menanyakan : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, lalu tidak kembali selama-lamanya (jadi syahid).” (HR Bukhari)

Baca: Syarat dan Ketentuan Haewan Qurban

Di dalam hadis tersebut, Nabi Saw tidak membatasi amalan ibadah yang wajib ditunaikan pada hari itu. Artinya, apapun amal kebaikan yang ditunaikan pada sepuluh hari ke-1 bulan Dzulhijjah, akan memperoleh keutamaan yang dijanjikan dalam hadits tersebut. Hal ini jadi dasar ulama fikih berpendapat kesunahan berpuasa pada sepuluh hari ke-1 bulan Dzulhijjah.

Adapun pada hari kesepuluh bulan Dzulhijjah, ummat Islam disunahkan tidak makan atau minum sampai selesai penyelenggaraan shalat ied saja. Selepas shalat, ummat Islam bahkan disunahkan untuk memakan haewan sesembelihan haewan qurban. [Warta Sunda/in]









Source link

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement