-->

Header Menu

Fatayat NU Wajib Jaga NU dan NKRI Lewat Literasi

author photo 3.8.19




Warta Sunda - Dalam rangka menaikkan pemahaman mengenai hal jurnalistik dan literasi media, Pengurus Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Gemawang, Temanggung, didorong menguasai literasi baru untuk menjawab tantangan era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Hal itu terungkap dalam Workshop Literasi dan Jurnalistik, di Aula Kecamatan Gemawang, Temanggung, Jumat (2/8/2019).

Aktifitas tersebut mengusung tema " Menumbuhkan Generasi Qurani dan Mengembangkan Kemungkinan Kader Muda NU dengan Progresif, Kreatif, Serta Menaikkan Daya Berpikir Kritis Ke Pemudi yang Bersinergi untuk Negeri".

Aktifitas yang diadakan PAC Fatayat NU Gemawang, Temanggung ini menghadirkan pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah, Hamidulloh Ibda, yang dihadiri puluhan kader dan pengurus. Dalam pemaparannya, Kaprodi PGMI STAINU Temanggung tersebut menjelaskan bahwa literasi Adalah usaha untuk melek aksara melalui aktifitas membaca, mecatat, dan menganalisis.

"Literasi selama ini masih sebatas kesanggupan membaca, mecatat, dan berhitung, ini Adalah literasi lama. Padahal di era Revolusi Indhstri 4.0 dan Society 5.0, warga wajib menguasai literasi baru, yaitu literasi data, teknologi, dan literasi manusia," kata penulis buku Konsep dan Aplikasi Literasi Baru tersebut.

Untuk itu, kata dia, Fatayat NU wajib hukumnya menjaga Islam, NU, NKRI melalui aktifitas literasi, baik literasi kama maupun literasi baru.

Dalam Peluang itu, pengurus Bidang Literasi Media Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jateng tersebut memaparkan perlunya keterlibatan Fatayat dalam mencerdaskan anak kecil supaya tidak terkena hoaks, pornografi dan radikalisme yang disebar melalui media siber waktu ini.

"Keterlibatan Fatayat selaku ibu, atau calon ibu dalam mengawal anak kecil amat penting. Maka selain lewat pembelajaran, tradisi literasi wajib dihidupkan lewat pembiasaan dan keteladanan. Mengonsumsi info atau berita lewat gawai penting. Tapi anak kecil wajib diarahkan, didampingi, sebab pengetahuan atau info cepat saji di media lebih banyak mengandung virus," kata Pimred Majalah Ma'arif Jateng tersebut.

Maka wajar, kata dia, di era post truth seperti waktu ini, guru atau kyai yang jadi sanad wajib diutamakan daripada belajar atau ngaji dengan Google. "Belajar dengan ulama, kyai, terang ada sanad keilmuwannya. Tetapi ngaji dengan Google, tidak terang sanadnya. Maka kyai dan ulama tetap rujukan Inti dalam memperoleh ilmu agama. Kalau ingin pandai ilmu agama ya mondok di pesantren, belajar ilmu fikih, nahwu, sorof, balaghoh dan lainnya. Bukan otodidak belajar di internet," kata alumnus Ponpes Mambaul Huda Kembang, Pati tersebut.

Jika sekadar untuk mencari berita, atau data, lanjut Ibda, sah-sah saja tidak ada yang mencegah. "Tetapi jika menjadikan internet selaku rujukan Inti itu namanya makan mie instan. Kalau belum makan nasi, ya nanti perut akan sakit sebab internet itu sekunder bukan primer," beber penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.

Bakda pemaparan materi, peserta sebanyak 126 tersebut diajak praktik mecatat berita dan langsung dikirim ke media massa. RTL aktifitas itu, seluruh pengurus Fatayat di tingkat ranting dan PAC diharuskan mecatat aktifitas dalam bentuk berita. Peserta aktifitas ini selain dari Fatayat, juga dari IPNU-IPPNU se Kecamatan Gemawang, Temanggung. [Warta Sunda/heri/gg]










Source link

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement