-->

Header Menu

BNPT: Wanita Mesti Jadi Agen Perdamaian, Bukan Korban Narasi Aksi anarkis dan Teror

author photo 2.8.19
Direktur Pencegahan BNPT, Brigadir Jend. (Pol) Hamli.
Warta Sunda - Belakangan ini seakan jadi tren baru dalam aksi terorisme dengan hadirnya keterlibatan wanita dan anak. Dulu wanita cuma jadi faktor simpatisan dan penyokong, tetapi waktu ini mereka Ikut mengambil andil selaku pelaku teror.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigadir Jend. (Pol) Hamli, waktu ikut hadir aktifitas Pelibatan Wanita selaku Agen Perdamaian dalam Pencegahan Radikalisme di Hotel Lumire, Kamis (01/08/2019). Aktifitas ini Adalah bagian dari aktifitas BNPT di daerah yang bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DKI Jakarta.

Jika dicermati lebih jauh, menurut Hamli, pola pemanfaatan wanita dalam aksi ini bagian dari kubu teror mengeksploitasi wanita selaku martir baru. Makin kurangnya kader dan member memaksa mereka untuk memotivasi wanita supaya tampil selaku pelaku aksi.

“Di Syiria banyak lelaki yang meninggal sebab Pertempuran, yang tersisa ialah para perempuan dan anak. Sehingga para perempuan dan anak pun Ikut dikerahkan untuk jadi teroris. Ternyata kecenderungan ini pun Ikut menyebar ke semua dunia,” ungkap Hamli yang datang selaku narasumber dalam aktifitas tersebut.

Sebab itulah, Ia meminta wanita jadi agen perdamaian yang secara aktif memberikan pencerahan dan pendidikan baik dalam lingkungan Famili maupun warga secara luas. Keterlibatan wanita mempunyai peran strategis sebab jadi tumpuan pendidikan anak di Famili maupun melalui perkumpulan perkumpulan wanita.

Lebih detail, Hamli menjelaskan di lingkungan sosial kita waktu ini telah banyak sekali sebaran narasi bernuansa sentimen dan kebencian berbasis perbedaan agama yang berkemungkinan memecahbelah warga. Narasi ini sesungguhnya dikembangkan selaku bagian dari usaha meradikalisasi warga. Perpecahan dan konflik pada akhirnya Adalah ladang subur berkembangnya paham dan jaringan terorisme.

Narasi lainnya yang layak diwaspadai menurut Jend. bintang 1 ini ialah narasi emosi keagamaan dengan mengimpor konflik di negara lain selaku argumentasi untuk perjuangan. Kesengsaraan yang terjadi di Timur Tengah seperti Syiria, Irak dan lainnya  dijadikan propaganda untuk mengajak dan merekrut member di dalam negeri yang tidak mengerti peta konflik yang sesungguhnya.

“layak dipahami bahwa seseorang jadi teroris bukan proses yang instan, tetapi melalui tahapan dari mengadopasi narasi-narasi intoleran, radikalisme dan terakhir ke terorisme.” Ungkap Hamli.

Sebab itulah, Hamli menginginkan wanita mesti jadi bagian penting dalam menangkal narasi-narasi tersebut, bukan malah jadi korban narasi aksi anarkis dan teror. Apalagi sebaran narasi radikalisme itu waktu ini tidak cuma terjadi secara offline, tetapi yang lebih mengkhawatirkan narasi radikalisme yang bertebaran di dunia maya. [Warta Sunda/gg]










Source link

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement