-->

Header Menu

Trans-Pacific Partnership: Ancaman dan Peluang Industri Automotif

author photo 2.6.16
tpp, trans pacific partnership
Trans-Pacific Partnership (TPP) - Warta Batavia - Saat ini pasar automotif Indonesia memang sudah mulai menggeliat, meskipun kondisi ekonomi masih belum "sembuh total". Menyikapi hal ini tentunya dibutuhkan taktik dan strategi untuk penguatan kembali pasar automotif dalam negeri.

Apalagi Indonesia ada rencana akan mengikuti skema kerjasama perdagangan Kemitraan Trans-Pasifik atau Trans-Pacific Partnership (TPP) yang sudah diikuti 12 negara. Di antaranya Amerika Serikat (AS), Australia, Meksiko, Peru, Selandia Baru, Singapura dan Vietnam, Brunei Darussalam, Chile, Jepang, Kanada, Malaysia.




Trans-Pacific Partnership (TPP) Jadi Ancaman Sekaligus Peluang bagi Industri Automotif



Terkait skema kerjasama bisnis multilateral ini, Sekjen Institut Otomotif Indonesia Yanuarto WH mengungkapkan, salah satu ancaman nyata adalah terganggunya pasar “mobil murah” (low cost green car/LCGC) oleh mobil kecil (kei car) asal Jepang. Bukan tanpa alasan, melihat tren dan kemampuan masyarakat Indonesia masih di bawah dibanding beberapa negara lainnya, sudah pasti segmen ini paling kena dampaknya.

“Melihat GDP per kapita kita saat ini masih sekitar 3.500. Ini artinya, berada di medium low atau range harga untuk membeli mobil di bawah Rp200 juta. Di Jepang ada juga produk seperti LCGC, sehingga kalau dengan kondisi sekarang ada kemungkinan kita ekspor LCGC ke sana atau Kei Car yang bisa masuk ke Indonesia,” ujar Yanuarto, Rabu (1/6/2016), saat acara Focus Group Discussion (FGD) oleh Forwin di Kemenperin.

Menurut Yanuarto WH, setelah bergabung dengan TPP, biaya impor kendaraan antar member otomatis menjadi lebih murah. Sehingga, tidak menutup kemungkinan kendaraan dari negara anggota TPP ikut dijual di Indonesia.

“Kalau Jepang mau ekspor kei car ke Indonesia itu artinya ancaman bagi kita karena akan bersaing dengan LCGC. Namun, kita masih punya waktu, bagaimana kita membuat peraturan dan strategi untuk melindungi industri otomotif nasional,” kata Yanuarto WH.

Sementara Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate) Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan berpendapat lain, dengan adanya TPP akan membuat market automotif lebih besar, ini peluang dan membuka akses pasar.

I Gusti Putu Suryawirawan lebih lanjut menggaris-bawahi bahwa: "Bagi produsen automotif di Indonesia, TPP adalah peluang untuk meningkatkan akses pasar, memperbesar investasi serta mengembangkan daya saing akibat penurunan tarif bea masuk," ujarnya.

I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, saat ini dua negara dengan kapasitas produksi terbesar di Asia Tenggara yaitu Indonesia dan Thailand belum memutuskan masuk ke dalam TPP. Namun jika Thailand masuk, maka Negeri Gajah Putih itu bersama negara ASEAN yang sudah lebih dulu bergabung akan meningkatkan kapasitas produksi automotifnya. Hal ini akan berpengaruh terhadap pangsa pasar dan industri automotif di Indonesia. (al/sn)

This post have 0 komentar

Terima kasih kunjungannya, silahkan berkomentar...
:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement